Sugar (Chapter 4)

Standar

Cast : Jung SooYoo
Park ChanYeol
Etc.

Author : Arin Jung/Arin99
Genre: school life, romance, complicated
Rated : 15+
Warning: pedo, a bit yuri
Lenght: PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3, Chapter 4

THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY


“make me be a normal, cure me, save me, you’re the only one could”

Mata ChanYeol terbuka lebar melihat apa yang terjadi di hadapannya. Entah dia salah lihat atau bagaimana. Atau mungkin ia sedang bermimpi.

Seorang wanita dengan pakaian kerja yang sudah lusuh menangis dan menjerit dengan posisi tergeletak di lantai. Rambutnya sudah tak terbentuk lagi.

Dan kini yang lebih parah di hadapan ChanYeol ada perkelahian ayah dan anak.

ChanYeol berhenti terdiam. Ia segera melerai keduanya. Melindungi si anak dari serangan pria berumur yang membabi buta.

Kini semuanya kacau. ChanYeol berusaha menahan si anak yang masih ingin menyerang.

“Kumohon hentikan! SooYoo! Berhenti memukuli ayahmu!”

ChanYeol menatap pemandangan miris wanita tadi. Memohon-mohon pada si anak.

“Siapa kau? Jangan ikut campur urusan keluargaku!”

Pria itu mabuk berat. Bau alkohol tercium bahkan dari jarak yang tidak dekat.

“Anda masih bilang ini keluarga Anda? Bahkan Anda tak memperlakukan kedua wanita ini dengan baik” ChanYeol berucap tajam.

“Wanita ini? Dia tak perlu diperlakukan dengan baik” dan tendangan itu mengenai tubuh wanita tadi.

Brengsek!” SooYoo mengumpat sebelum kembali menyerang dengan membabi buta. Ia tergelapkan oleh emosi yang sudah mengubun.

“Dasar anak tidak tahu diri! Keluar dari rumahku!”

“Tidak akan, sialan!”

ChanYeol tak mengerti harus berbuat apa selain menahan SooYoo. Berada di antara ayah dan anak itu.

“Cepat keluar dari rumahku!”

“Tidak!! Lepaskan aku!” SooYoo berusaha memukul.

“Soo! Ibu mohon hentikan! Dia ayahmu, Soo!”

“aku tidak punya ayah!”

“Kalau begitu keluar dari rumahku! Sekarang!”

Dan baru saja SooYoo hampir meraih pria itu. Ia mendengar jeritan pilu.

“Ibu mohon keluarlah dari rumah ini” wanita itu tak menatap SooYoo. Mendengar perintah itu, SooYoo berhenti. Ia tak percaya bagaimana bisa ibunya berucap demikian.

“Tapi Bu-“

“Ini urusan kami dan kau tak perlu ikut campur” Ribuan jarum menusuk hati SooYoo. Tubuhnya kaku. Ia terdiam seribu bahasa.

“Tolong bawa dia pergi dari sini” wanita yang ChanYeol yakin adalah ibu SooYoo menatapnya memohon.

ChanYeol mengangguk mantap. Membawa SooYoo yang masih mematung keluar dari rumah dan masuk ke mobil. Tubuh gadis itu basah kutup dan wajahnya terdapat beberapa memar. Bahkan sudut bibirnya berdarah.

ChanYeol menyalakan mesin. Sejenak melirik SooYoo yang mematung di tempat. Seperti biasa, pandangannya kosong ke depan.

Lelaki itu menghela nafas. Menjalankan mobil perlahan dan menjauhi rumah SooYoo.

-Sugar-

SooYoo masih terdiam. Kini dirinya sudah terduduk di sebuah ruang tamu besar. ChanYeol membawa gadis itu ke apartemen-mewah-nya.

Lelaki itu datang dengan setumpuk handuk. Ia baru saja selesai mandi dan sudah berpakaian rumahan.

“Keringkan tubuhmu, mandi dan ganti baju”

Tak ada tanggapan sama sekali. ChanYeol menghela nafas kasar. Pasalnya bibir gadis itu sudah sedikit membiru dan wajahnya pucat.

“Ayolah, aku tidak mau kau sakit”

Dan lagi-lagi tak ada respon. ChanYeol menghela nafasnya dan segera bangkit. Meraih selembar handuk dan menutupi kepala gadis itu dengan handuk. Mencoba mengeringkan rambut SooYoo yang basah karna air hujan.

ChanYeol duduk di hadapan SooYoo. Berusaha menemukan pandangan gadis itu.

“Lupakan sejenak yang terjadi barusan, aku mau kau mandi sekarang, lakukan dan tidak ada bantahan”

SooYoo bangkit. Sungguh. Ia bukan tipikal orang yang suka diperintah. Namun ini kali kedua ia melakukan perintah guru barunya itu.

Gadis itu menutup pintu kamar mandi. Menemukan beberapa potong pakaian di atas keramik samping wastafel.

Ia mengatur suhu air dari shower. Membiarkan tubuhnya yang masih berseragam terguyur air bersamaan dengan jatuhnya air mata.

Gadis itu menangis dalam diam. Ini sudah biasa. Ibunya tak pernah membela dan malah ikut melawannya. Menyakitkan menyadari orang yang kau bela malah berada di pihak musuh.

Gadis itu jatuh bersimpuh. Ia melipat kakinya dan meletakkan kepala di antara lututnya. Membiarkan seluruh air matanya mengalir bersama air pancuran.

-Sugar-

Entah sudah berapa kali ChanYeol berjalan mengitari ruang tengah. Ia sesekali mengusap wajah dan menghela nafas berat.

Pasalnya sudah berjam-jam SooYoo belum keluar dari kamar mandi. Ia mau mengetuk pintu tapi khawatir anak itu malah takut padanya.

ChanYeol akui masalah anak itu memang berat. Kekerasan dalam rumah tangga adalah hal terburuk dalam masa remaja. Bisa saja terjadi kesalahan pada psikologi si anak.

Banyak dampak buruk yang kemungkinan terjadi pada anak broken home. Kenakalan remaja, penyimpangan lain, atau bahkan..

Bunuh diri.

ChanYeol dengan cepat menggeleng. Ia memantapkan diri untuk mengecek keadaan SooYoo. Mengerikan jika ia menemukan anak itu dengan keadaan sudah membiru dan tak bernyawa. Astaga, ChanYeol bahkan tak bisa membayangkannya.

Jadi sekarang ia mendekati pintu kayu berwarna mahogany itu. Namun baru saja beberapa ketukan, pintu sudah terbuka dan itu membuatnya mundur beberapa langkah.

SooYoo berdiri di sana, memandangnya dengan datar. Sementara ChanYeol malah tak bisa lepas memandangi tubuh SooYoo.

Sepertinya ia salah memberikan pakaian. Celana pendek -yang sebenarnya celana renangnya- dan kemeja putih miliknya malah membuat jantungnya terpacu. Semua terlihat bagus di tubuh SooYoo. Bahkan kemeja kebesaran itu.

“Ada apa, Tuan Park?”

ChanYeol menggelengkan kepala sedikit. Ia menggaruk leher belakangnya sebentar.

“Aku hanya ingin mengecek keadaanmu”

SooYoo mengangguk sekali.

-Sugar-

Kedua tangan SooYoo menggenggam secangkir cokelat panas. ChanYeol yang membuatnya. Suasana apartemen ini begitu sepi. Hanya terdengar suara pembawa berita cuaca dari tv.

Gadis itu masih mematung. Tatapannya kosong dan pikirannya melayang entah kemana. ChanYeol memperhatikannya dari kitchen bar. Lelaki itu tengah menyiapkan air dingin untuk luka gadis itu.

Ia kembali dengan kotak P3K dan semangkuk air es dengan handuk di dalamnya. Mendudukkan diri dengan jarak yang tak jauh dari SooYoo.

“Soo, kemarilah! Biar kuobati lukamu”

Gadis itu tak berkutik. Masih fokus dengan pikirannya. ChanYeol melirik gadis itu dan mendekat.

“Soo. Cepat kemari”

ChanYeol mulai kesal dengan diamnya SooYoo. Gadis itu bahkan tak bergerak. Hanya berkedip sesekali.

Kini ChanYeol benar-benar berada di sebelah gadis itu. Meraih cangkir cokelatnya dan meletakkannya di atas meja kaca. Bahkan setelah itu SooYoo masih tak bergerak.

ChanYeol tahu bagaimana perasaan gadis itu. Ia tahu betapa sakitnya. Tapi ChanYeol menkhawatirkan luka-luka diwajah SooYoo.

Menurut ChanYeol, ayah SooYoo sudah melakukan hal yang sangat tidak semestinya. SooYoo hanya gadis SMA.

ChanYeol meringis dan memilih untuk menarik SooYoo kepangkuannya. Tapi tidak sesuai ekspektasinya, SooYoo masih diam. Tidak marah atau menjerit. Gadis itu seperti tak bernyawa.

Tangan ChanYeol meraih handuk dingin dari mangkuk. Mengusap semua luka membiru dan luka sobek di ujung bibir SooYoo. Tak ada ringisan dari gadis itu. Cukup membuat ChanYeol terkejut.

Ia mencatat beberapa fakta tentang SooYoo hari ini. Gadis itu berusaha kuat melalui hidupnya keras.

“Kupikir kau akan menamparku” ChanYeol bergumam sambil terkekeh. SooYoo melirik lelaki itu. Lalu ia tersenyum miris.

ChanYeol sedikit lega dengan respon SooYoo itu.

Tapi baginya SooYoo gadis yang aneh. Tidak seperti perempuan lain yang akan gugup jika berdekatan dengannya. Buktimya gadis itu diam saja duduk di pangkuan ChanYeol.

Itu hal aneh bagi ChanYeol. Seorang gadis tak berespon saat duduk diatas pangkuan lelaki lain.

“Apa tidak sakit?” ChanYeol bertanya pelan. Gadis itu menggeleng pelan.

“Sudah biasa” ia tersenyum miris -lagi. Tapi entah senyumannya malah mengiris hati ChanYeol. Lelaki itu menatapnya iba.

“Kenapa? Merasa kasihan? Anda tidak perlu melakukan itu, Tuan Park” ia memberi jeda dengan senyuman. Lalu menatap kedalam mata ChanYeol. “Aku benci dikasihani”

Sial bagi ChanYeol yang malah berdegup melihat senyuman gadis itu. Bahkan ChanYeol melupakan fakta kalau gadis di pangkuannya adalah muridnya. Lelaki itu menahan nafasnya sejenak.

“Anda tahu? Anda orang pertama yang tahu masalahku”

Gadis itu berbisik lagi. Kini tanpa memandang ChanYeol. Tidak. ChanYeol hanya tahu kalau keluarga SooYoo berantakan. Tapi ia tidak tahu penyebab berantakannya.

“Tidak perlu mencari tahu apapun. Nanti juga akan tahu sendiri”

ChanYeol menyeringai. Betapa konyolnya keadaan ini. Seharusnya guru yang bisa membaca pikiran siswanya. Pria itu terkekeh sedikit dan dihadiahi tatapan bingung SooYoo.

“Kau mau mencoba menjadi gadis mysterius, hm?”

SooYoo tertawa hambar. Lukanya sudah selesai diobati. “Ya, jika Anda pikir begitu”

Mata keduanya bertemu. Kesunyian ini membuat degupan jantung mereka terdengar jelas. Terlebih milik ChanYeol. Tentu SooYoo tahu itu.

Di kepala ChanYeol masih teringat siapa gadis ini. Muridnya. Tidak sepantasnya ChanYeol menarik gadis itu ke pangkuannya dan juga jantungnya tidak boleh berdebar. Susah payah ChanYeol meneguk ludahnya.

“Apa aku sudah bisa turun sekarang?”

Tidak. Entah ChanYeol ingin gadis itu tetap berada di posisinya. Berada di pangkuannya. SooYoo mengernyit ketika pria itu menyingkirkan anak rambut yang jatuh di wajahnya.

“Tuan Park?”

“Berhenti memanggilku ‘Tuan Park’! Jika berada di luar sekolah panggil aku ChanYeol dan jangan terlalu formal”

Lelaki itu berbisik. Menambah kesan aneh bagi SooYoo. Sebenarnya ChanYeol adalah laki-laki asing yang pertama kali bisa sedekat ini dengannya. Bahkan dengan JongIn, SooYoo tidak pernah melakukan skin ship.

Gadis itu mencoba menetralkan perasaannya. Berusaha bersikap datar seperti biasanya. Tapi entah ini sulit. ChanYeol membuat jantungnya memacu lebih cepat. Bahkan lebih cepat dari ketika ia bersama Araya.

Tangan ChanYeol kini mengusap wajah SooYoo yang penuh lebam. Rasanya sakit melihat wajah cantik gadis itu dipenuhi luka. Entah ini rasa simpati atau apa. Tapi sepertinya lebih. Karna rasa simpati tidak akan membuat jantungnya berpacu secepat ini.

Tidak tahu apa awalnya, tapi kini wajah ChanYeol mendekat. Mata SooYoo yang tadinya terbuka kini mulai tertutup.

Drrrt.. Drrrt.. Drrt..

Keduanya menundukkan wajah. ChanYeol mendecak kesal sebelum mengambil handphonenya dari atas meja.

“Ya benar”

“…”

“baik, terima kasih..”

Tanpa ucapan apapun ChanYeol mengangkat SooYoo dan memindahkannya ke sisi samping. Nafas gadis itu berhenti dengan segala apa yang dilakukan ChanYeol. Pria itu selalu melakukan hal yang mengejutkan. Bodohnya, SooYoo menerima segala perlakuan itu meski ia tahu, semua ini tidak wajar.

Lelaki itu tak memakan waktu lama. Ia kembali dengan 2 mangkuk yang lumayan besar. SooYoo melirik pria itu yang kini duduk di sampingnya. Memperhatikan setiap pergerakan ChanYeol yang membuka pembungkus mangkuk.

“Makanlah”

SooYoo mengangguk. Meraih semangkuk Jjangmyeon hangat yang ChanYeol pesankan.

-Sugar-

Ranjang queen size dengan seprai putih sudah terlihat rapih dan nyaman. SooYoo memandangi setiap sudut kamar. Ia menemukan kantung yang ia kenal. Tergeletak di atas meja rias.

“Tuan-” ucapan SooYoo terhenti karena tatapan ChanYeol yang mengingatkan kesalahannya.

“Maksudku, ChanYeol, ini..”

ChanYeol mengangguk dan meletakkan sebuah bedcover putih di atas ranjang.

“Itu ada di almamatermu, aku membawa seragammu ke laundry tadi”

SooYoo mengangguk. Menggigit bibir sejenak sebelum mendekat pada ChanYeobl. Gadis itu duduk di tepi ranjang.

“Apa akhir-akhir ini kau kehilangan jam tangan?” Ia bertanya tiba-tiba.

“Jam tangan?” ChanYeol berusaha mengingat. Akhirnya pria itu mengangguk. “jam ku hilang beberapa hari yang lalu. Sepertinya tertinggal di toko kelontong. Kenapa?”

SooYoo semakin yakin. Gadis itu menjulurkan tangan yang berisi jam tangan. “Kalau begitu apa ini milikmu?”

“Hm?” ChanYeol meraih jam tangan itu. Pria itu tersenyum tipis. Tidak terkejut seperti apa yang SooYoo pikirkan.

“Ya, ini milikku”

Gadis itu mengernyit. Ia tahu ChanYeol kaya, tapi apa bertanya darimana ia menemukan jam itu tidak diperlukan.

“Kau tidak..”

“Apa?”

“Tidak jadi. Lupakan saja”

Dasar orang kaya.

Tanpa SooYoo tahu ChanYeol menyeringai kecil. Meletakkan jam tangan itu ke dalam saku celana.

“Tidurlah.. aku tahu kau lelah”

Alis SooYoo mengerut. Menatap ChanYeol yang masih setia berdiri di samping ranjang.

“Kau sendiri?”

“Ah tentu, maksudku, selamat malam”

ChanYeol keluar dan mematikan lampu. Membiarkan lampu tidur di samping ranjang yang menerangi kamar itu.

SooYoo masih setia duduk di atas ranjang. Menatap pintu yang menjadi tempat terakhir ChanYeol di kamar ini. Ia tersenyum dan menggeleng kecil.

“dasar aneh”

-Sugar-

Mata ChanYeol berusaha membiasakan dengan lingkungan sekitar. Cahaya matahari yang menembus tirai kamarnya tepat menyinari matanya. Lelaki itu merenggangkan tubuh sejenak.

Langkahnya diseret menuju dapur. Membuka kulkas demi mendapat segelas air mineral. Ia menemukan sebuah catatan di pintu kulkasnya.

Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Terima kasih atas semuanya, Guru Park. Dan maaf sudah merepotkan.

-Jung SooYoo-

ChanYeol mendecak kesal saat membaca catatan itu. Guru Park? Bukankah semalam ia sudah menyuruh anak itu agar memanggilnya ChanYeol. Kalau begini ia merasa sangat tua.

Lelaki itu mendekati meja makan. Sudah ada roti gandum lapis dengan isian daging. Juga secangkir kopi hangat di sebelahnya. Senyum merekah di bibirnya.

“Cih, dasar anak kecil”

Drrt… Drrt..

ChanYeol meraih handphone di sakunya. Ia memilih menggeser tombol merah. Mengangkat telepon dari wanita itu akan menghancurkan moodnya yang sudah bagus.

Drrt..Drrt..

ChanYeol berdecak. Kembali menggeser tombol merah. Lelaki itu duduk di meja makannya. Hendak menikmati kopi -yang masih- panas buatan SooYoo.

Drrt..Drrt..

“Ada apa?” ChanYeol bertanya dengan nada lembut yang dipaksakan. Ia masih malas bicara dengan wanita itu sebenarnya.

‘Kau sudah sarapan belum? Ayo sarapan bersama!’

“Aku sedang sarapan. Maaf, mungkin lain kali. Sudah ya kututup” Dengan segera ChanYeol menutup teleponnya.

Ia benar-benar ingin menikmati sarapannya dengan tenang. Dengan itu ia memilih untuk menonaktifkan teleponnya.

-Sugar-

“Maaf, Nak. Baru saja ada yang mengambil pekerjaan itu”

“Tidak apa, terima kasih, Bi.”

SooYoo membungkuk sedikit. Ini suah toko ketiga yang ia sambangi. Menurutnya hanya pemilik toko terakhir yang jujur. Yang lain sepertinya mencurigainya. Lagi pula siapa yang tidak curiga dengan gadis berseragam sekolah elit berkeliaran di Sabtu pagi. Benar-benar seperti melarikan diri.

Gadis itu memegang perutnya. Rasanya lapar. Jadi menyesal tadi tidak sarapan di apartemen ChanYeol. Ia menghela nafas kesekian kali.

Merasakan handphonenya berdering. Oh, itu pacarnya.

‘Pagi, sayang..’

SooYoo tersenyum. “Pagi, cinta. Kau sudah bangun?”

‘Tentu. Aku memimpikanmu dari semalam.. kau baik-baik saja? Apa sudah sarapan?’

Ini cinta sejati. SooYoo yakin. Pasti apa yang dirasakan Araya adalah kontak batin. Mereka sehati dan sejiwa. Itulah cinta.

‘Sayang?’

“Ya,, aku baik-baik saja..eum.. aku belum sarapan sebenarnya”

‘Mau ke apartemen ku? Aku akan buatkan TomYum kesukaanmu’

“Orang tuamu?”

‘Ayah dan Ibu sudah pulang semalam.. ada urusan bisnis.. padahal mereka ingin menemuimu hari ini?’

“Benarkah? Sayang sekali.. aku juga ingin bertemu, mungkin lain kali kita yang harus ke sana”

‘Ya.. benar. Tapi sekarang kau harus sarapan ke sini’

“Iya. Aku mencintaimu”

‘Aku mencintaimu’

Dengan salam itu mereka mengakhiri sambungan telepon. SooYoo menaiki bus dengan sisa uangnya. Lagi pula tempatnya sekarang tidak begitu jauh dari apartemen Araya. Ah, bukankah itu berarti apartemen Araya dekat dengan apartemen ChanYeol. Tidak sangat dekat. Hanya satu distrik.

Wah, SooYoo dikelilingi orang kaya ternyata. Gadis itu mendengus geli. Dulu dia juga begitu. Dulu. Saat perusahaan keluarganya berjaya. Dulu juga saat kakeknya masih hidup. Yeah, itu semua bagian dari masa lalu yang membumbui hidupnya.

-Sugar-

“Ah! Pelantikan harus dimajukan lagi kalau begitu.. sebelum lomba fotografi dimulai”

TaeRin hanya mengangguk mendengarkan YeJin berbicara. Sepagian ini gadis itu terus saja mengomel. Berjalan mondar-mandir hingga pony tailnya bergoyang. Itu lucu sebenarnya.

“Kurasa lebih baik kalau kita adakan dua minggu lagi.. itu akan tepat waktu”

YeJin mengangguk dengan jemari di dagunya. Gadis itu menyangga siku di tangan sebelah yang dilipat. Wajahnya merengut dan itu lucu.

“Ya.. kurasa itu waktu yang baik” JongIn menyaut. Yang lain juga setuju. Dan TaeRin menghela nafas lega. Akhirnya rapat ini selesai juga. Rasanya menyebalkan harus datang ke sekolah di Sabtu pagi. Itu jam lanjut tidurnya. Harusnya sih.

“Kalau begitu, sepakat. Dua minggu kedepan” YeJin melirik TaeRin. Tanpa langsung memerintah gadis itu untuk mencatat. Tugasnya sebagai sekertaris di club fotografi.

Kini semua sudah pulang. Tersisa TaeRin yang baru saja diminta mencatat junior yang sudah mengumpulkan prasyarat pelantikan.

“Kau belum pulang?”

Ia menoleh menuju pintu club. Di sana berdiri Kim JongIn dengan SLR Nikon-nya.

“Yeah, ada banyak tugas yang sialnya harus kukerjakan”

JongIn terkekeh. Pemuda itu duduk di seberang meja TaeRin. Berusaha membantu pekerjaan gadis itu. TaeRin menggumamkan kata terima kasih untuk itu.

Keadaan menjadi hening dengan mereka yang sibuk. Sebenarnya ada alasan JongIn di sini. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan. Hanya ia kini tengah menimang-nimang apakah TaeRin akan menjawab jujur atau tidak.

“Tae.. kalau aku tanya.. kau jawab dengan jujur, kan?”

“Tergantung..” gadis itu bergumam cepat.

“Jadi begini.. kau tahu kan.. kalau aku… a-aku dan t-teman.. t-teman-mu..”

TaeRin menghentikan kegiatannya. Obrolan ini menarik. Tepat disaat ia tengah pusing memikirkan orientasi Jung SooYoo. Gadis itu girang di hatinga sekarang. Mungkin JongIn ingin kembali pada SooYoo dan meminta bantuan. Yeah, mungkin.

“SooYoo? Kenapa?”

Dan itu membuat JongIn malah tergagap. Jadinya TaeRin kesal sendiri.

“Bicara yang benar, Kim”

“Apa dia sudah dapat penggantiku?”

Mati. Jujur atau tidak. Kalau jujur, takutnya JongIn risih dan kalau bohong, itu akan membuatnya berdosa pada manusia sebaik JongIn.

“A-ah, itu.. kau-“

“lak-laki? Atau.. seorang gadis?”

TaeRin rasa nafasnya terhenti di tenggorokan. Saluran pernafasannya tersumbat. Tubuhnya menegang dan dingin. Bagaimana bisa dia tahu penyimpangan SooYoo? Kalau begini mana mungkin TaeRin berharap JongIn kembali pada SooYoo. Itu hanya akan menyakitinya.

JongIn menatap TaeRin dengan pilu. Merasakan kepedihan yang mengalun dengan ucapannya. Semakin membuat TaeRin bingung harus menjawab apa. Jujur, bohong, atau mengelak.

“K-kau-“

“Jawab dengan jujur, TaeRin..”

Dan gadis itu menunduk. Tak berani menatap JongIn. Meskipun pria itu tidak marah, tapi TaeRin tahu betapa sakitnya JongIn. Terlebih dengan jawaban yang dia tanyakan.

To be Continued

Haluu gaez!

Gimana Chapter 4nya?

Harusnya sih di Chapter ini ratingnya dinaikin. Tapi karena scenenya ga parah-parah banget/? jadi Arin tetep bikin 15+

Dan buat Chapter 5, kemungkinan Arin update besok atau lusa. So, keep reading dan jangan lupa untuk Like and Comment gaez!

XOXO,

Arin Jung

Iklan

17 respons untuk ‘Sugar (Chapter 4)

  1. Pertanyaanku…. kenapa harus di pangku?
    Kenapa mau ngobati lebam di wajah harus ada adegan pangku memangku?
    Sekecil apa sih si Soo yoo? ?
    Wkwkwk

    Oh… jadi si “itu” yg liat Soo Yoo dan Araya.. di taman belakang si Jongin?
    Agak gimana gitu baca Jongin gagap 😂😂😂
    Seorang Kim Jongin? Gagap?
    *efek kebanyakan baca Jongin bangsad nih* 😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s