Sugar (Chapter 8)

Standar

Cast : Jung SooYoo
Park ChanYeol
Etc.

Author: Arin Jung/Arin99
Genre: school life, romance, complicated
Rated : 15+
Warning: pedo, a bit yuri
Lenght: PrologCh 1Ch 2Ch 3Ch 4Ch 5Ch 6Ch 7, Chapter 8

THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY 😉


“make me be a normal, cure me, save me, you’re the only one could”

Ransel SooYoo sudah tergeletak di kamar ChanYeol. Ia membawa seluruh pakaian yang kemarin ia beli ke sekolah tadi. Punggungnya jadi terasa pegal membawa ransel berat itu.

“Ini lemari mu, sudah ku isi dengan beberapa pakaian”

ChanYeol menunjuk lemari putih di ujung kamar luasnya. Lemari itu cukup besar walau tidak sebesar lemari ChanYeol.

SooYoo tidak menyangka. ChanYeol terlalu baik. Gaji yang diberikan sudah sangat besar. Untuk apa memberikan pakaian lagi.

“Dan itu meja riasmu”

SooYoo menganggukkan kepala. Kamar ChanYeol begitu luas. Mampu menampung furniture tambahan. Padahal SooYoo pikir ia hanya akan tidur di sini dan semua barangnya diletakkan di kamar tamu.

“Anggap ini apartemenmu sendiri, mengerti?”

Sekali lagi SooYoo mengangguk. Tubuhnya menegang saat ChanYeol mendekat. Ia masih takut ChanYeol akan melakukan hal-hal mengejutkan lagi.

“Tapi, bukan berarti kau bisa pergi tanpa izinku..” Suara itu mengalun halus dan menusuk tajam. Sangat mengancam bagi SooYoo mengingat sikap mengejutkan ChanYeol.

Pria itu tersenyum tipis. “Bagus. Kalau begitu, sekarang bersihkan tubuhmu”

ChanYeol meninggalkan SooYoo di kamar. Ia beranjak ke ruang kerja nya.

Di kamar, SooYoo duduk di tepi ranjang. Ia masih menyesali segala ini untuk Araya. Ia memikirkan bagaimana ia bisa berhubungan dengan gadis itu tanpa sepengetahuan ChanYeol. Mengingat sikap lelaki itu yang begitu posesif.

Ah! Ia lupa. Cincin couple. ChanYeol akan curiga jika melihatnya. SooYoo dengan berat hati melepas cincin itu. Meletakkannya di saku almamater. Ia hanya akan menggunakan itu saat bersama Araya.

SooYoo menghela nafas kasar. Berapa lama ia harus begini? Berakting di depan dua belah pihak berbeda. Mungkin akan sangat sulit. Tapi ini yang harus ia lakukan sekarang.

-Sugar-

SooYoo baru saja selesai mandi. Ia lupa membawa pakaian tadi, ia hanya menggunakan handuk. Jadi, di sini ia berada. Berdiri di depan lemari pakaiannya yang sudah di buka lebar. Wajahnya tercengang luar biasa. Lemari itu berisi pakaian dengan berbagai macam warna pastel. Tidak seperti warna lemarinya yang kelabu.

Gadis itu meraih selembar baju tidur. Ia mendengus geli. Piyama putih dengan unsur bunga kecil yang lembut. Baginya ini pakaian Araya. Lalu SooYoo meraih pakaian lain. Kali ini pakaian yang di gantung. Semua dress. Hanya ada beberapa jeans panjang. Sisanya mantel, celana pendek, dan pakaian yang berbau feminim.

Ia tercengang dan meletakkan baju itu di tempat semula. Memilih mengambil pakaian dari ranselnya. Celana training dan t-shirt putih. Memakainya dengan cepat tanpa menyadari ChanYeol yang duduk di sofa dekat jendela.

“Apa itu pakaianmu sehari-hari?”

SooYoo hampir terjungkal. Tangannya refleks bersilang menutupi dada.

“Sejak kapan kau di sana?” tanyanya sarkastik. Matanya semakin terbuka horor saat ChanYeol mendekat. Semakin dekat hingga ia terhimpit dinding.

“Kenapa kau berpakaian seperti ini?”

SooYoo melirik tubuhnya. Semua baik-baik saja. Bahkan tidak ada yang terbuka. Semua tidak ada masalah.

ChanYeol beralih pada ransel SooYoo. Mengeluarkan semua isi dan membuat SooYoo melotot. Seenaknya saja ChanYeol mengobrak-abrik ranselnya.

“Apa ini? Kau laki-laki?”

Semua isi tas berwarna kelabu. Hitam, putih, abu-abu, atau hijau army. Tidak ada pakaian perempuan. Semua pakaian laki-laki.

SooYoo tak menjawab. Lebih memilih menunduk dan diam seperti patung. ChanYeol mendesah kasar.Membuka lemari pakaian SooYoo dan mengambil sepasang pakaian tidur. Celana sebatas lutut dan atasan dengan lengan tali yang tipis.

“Pakai ini, saat denganku kau harus memakai semua pakaian ini. Anggap itu seragan kerja”

SooYoo menatap tak terima. Ia menggeleng seperti anak kecil.

“Ganti atau aku yang gantikan”

SooYoo bergerak cepat. Dengan malas ia menuruti keinginan ChanYeol. Membuahkan senyum kemenangan dari ChanYeol.

Tangan ChanYeol tergerak saat dirasa handphonenya bergerak di saku celana. ChanYeol meraih benda itu. Memeriksa siapa yang menghubunginya.

“Halo?”

‘Channie, apa kau sibuk? Bisa kita bertemu? Aku benar-benar merindukanmu’

ChanYeol sedikit meringis. Melirik ke arah pintu kamar mandi di mana SooYoo berada di dalamnya. Pria itu sedikit menimang-nimang. Ia melihat jam. Pukul 8 malam.

“Ya, bisa..” ChanYeol sedikit tersenyum.

Sambungan terputus dan ChanYeol segera berganti baju. Mengambil mantel juga kunci mobil. Ia melesat menuju tempat yang sudah di janjikan.

Kembali pada kamar ChanYeol. Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan SooYoo yang hanya menyembulkan kepala. Gadis itu melihat sekitar kamar. Tidak ada siapapun. Jadi ia memutuskan untuk keluar. Tangannya sibuk menurunkan pakaian yang terlalu minim.

“ChanYeol?”

Kini mencari di seluruh sudut apartemen. Termasuk ruang kerja ChanYeol. Ia berdecak sebal.

“Tadi menyuruh ganti baju, sekarang dia yang hilang” mendengus sebal dan memilih kembali ke kamar ChanYeol.

-Sugar-

Alunan gitar klasik terdengar begitu ChanYeol memasuki pub. Matanya melihat sekitar. Ia menemukan seorang wanita berambut sebahu di sudut ruangan. ChanYeol mengambil tempat di depannya.

“Hai, Chan” wanita itu, Ham EunJung. Ia tersenyum ramah. ChanYeol membalas senyumnya singkat.

“Kau mau pesan apa?”

ChanYeol menggeleng kecil. “Aku tidak minum, maaf.”

“Ayolah.. sudah lama kita tidak minum bersama”

Tanpa peduli, EunJung memesan minuman pada pelayan. ChanYeol tersenyum geli. Di benaknya, wanita ini tidak pernah berubah. Selalu bertingkah semaunya.

“Bagaimana pekerjaanmu, di sekolah?”

ChanYeol tersenyum. “Pekerjaanku? Kau tahu pasti bagaimana itu, Guru Ham

EunJung tertawa. Ia mengeratkan kedua tangan dan menempelkan dagu di sana. Menatap genit ChanYeol.

“Kurasa kau begitu sibuk melayani murid-muridmu, kau kan casanova

Kini ChanYeol yang tertawa. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Melipat tangan di dada.

“Kau juga primadona, bukan?” Menatap EunJung rendah. “Aku masih tidak mengerti kenapa kau memilih menjadi guru”

“Maksudku, seorang Ham EunJung. Menjadi guru fisika di sekolah menengah. Benarkah?” Lanjut ChanYeol

EunJung tersenyum manis dan tambah memajukan tubuhnya. “Kau tahu alasanku, sayang

ChanYeol mengangkat kedua alisnya. Berakting seakan ia tertarik dengan pembicaraan mereka.

-Sugar-

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. ChanYeol menghabiskan waktu untuk meladeni EunJung yang terus saja menggodanya. Sebenarnya ChanYeol juga tidak mengerti kenapa ia mau bertemu wanita itu.

Apartemennya masih terang benderang. Ia mendengar suara tv, jadi ia pergi ke ruang tengah. Meraih remot dan mematikan tv. Tepat saat ia berbalik ChanYeol terkejut dengan keberadaan SooYoo. Tertidur meringkuk di sofa dengan headphone putih di telinga.

Ah! ChanYeol lupa dengannya. Pria itu mendekat. Pasti SooYoo menunggunya di sini. Menggunakan piyama minim yang ia berikan tadi pasti membuat SooYoo kedinginan. ChanYeol tersenyum dan mengangkat SooYoo bridal style ke kamar.

Meletakkannya di ranjang king size nya. ChanYeol melepas headphone SooYoo. Ia terkejut dengan volume yang bahkan terdengar.

“Volumenya keras sekali..” pria itu bergumam. Mematikan musik dari handphone SooYoo dan pergi berganti baju.

Setelahnya ia berbaring di samping SooYoo. Tubuhnya miring menghadap gadis yang tertidur pulas. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. ChanYeol merapikannya dengan jari.

“Maafkan aku meninggalkanmu di malam pertama..”

Kepala ChanYeol terangkat untuk memberi kecupan di kening SooYoo. Menghasilkan gerakan tak nyaman dari gadis itu.

“Selamat malam” bergumam dan selanjutnya menurunkan bibir di bibir SooYoo. Hanya menempel sebentar dan ChanYeol memilih ikut terlelap.

-Sugar-

Mata SooYoo yang terpejam bergerak tak nyaman. Berikutnya ia bangkit secara tiba-tiba dengan terkejut. Gadis itu menekuk satu kaki dan meletakkan siku di sana dengan telapak tangannya yang menopang kepala. Nafasnya masih tersengal.

Selalu seperti ini. Sejak dulu SooYoo selalu bangun dalam keadaan seperti ini. Tidurnya selalu dibayang-banyangi mimpi buruk dan suara perkelahian orang tuanya. Mata SooYoo masih terpejam.

“Ada apa?”

Suara berat itu mengejutkannya. Ia lupa kalau ia tinggal dengan ChanYeol sekarang. Tapi ia juga tidak ingat bagaimana ia sampai ke kamar ini. Semalam ia tertidur di sofa, seingatnya.

“Kau mimpi buruk?”

SooYoo mengangguk kali ini. Ia melepas sanggahan kepala. Menengok pada ChanYeol yang sudah rapi. Gadis itu merengut.

“Kau mau kemana?”

“Aku ada keperluan mendadak”

SooYoo mengerut. Setahunya pukul segini sekolah belum dibuka. “Di sekolah?”

ChanYeol menggeleng. “Di perusahaan”

SooYoo mengangkat kedua alis. Ia benar-benar menghadap ChanYeol sekarang.

“Nanti kujelaskan.. dan hari ini jam pelajaranku akan kosong”

SooYoo mengangguk paham. Ia bangkit dan merapikan tempat tidur. ChanYeol tersenyum kecil melihatnya. Tangannya masih aktif mengancing seluruh kemeja.

SooYoo masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dengan singkat. Hanya mencuci muka dan menggosok gigi secara singkat. Setelah itu ia kembali pada ChanYeol

“Jam berapa kau berangkat?”

ChanYeol terlihat berpikir. Ia melirik jam tangan.

“Lima belas menit lagi” jawabnya singkat.

Tanpa banyak bicara SooYoo bergegas ke dapur. Membuat sarapan cepat untuk ChanYeol. Ia hanya bisa menemukan roti gandum, kopi, dan daging kaleng di lemari pendingin. Jadi, lagi-lagi ia membuat roti lapis. Tak butuh waktu lama baginya memasak itu semua. Juga menata semua di atas meja.

ChanYeol benar-benar terkesan kali ini. Ia senang SooYoo di sini. Benar-benar tidak salah pilih. ChanYeol mendekati meja makan dengan sarapan yang sudah siap santap. Entah, ia merasa SooYoo seperti istrinya. Dan ia suka itu. Tak peduli dengan usia mereka yang terpaut jauh. Yang penting sekarang biarkan mengalir indah.

ChanYeol sudah selesai dengan sarapannya. Ia bangkit dengan SooYoo yang kini mendekatinya. Merapikan dasi ChanYeol yang sedikit berantakan. Semua ia lakukan secara naluriah. Secara spontan. Ia bahkan tidak pernah berpikir akan melakukan ini semua.

“Nanti malam aku pulang, mungkin sebelum makan malam. Kau bisa masak, kan? Selain roti lapis maksudku”

“Tentu bisa” SooYoo mengangguk, masih dengan kedua lengan yang bergelantung di pundak ChanYeol.

“Tapi, tidak ada bahan makanan” SooYoo terkekeh pelan. Tak paham kalau ChanYeol berdebar dengan jarak sedekat ini.

“Kalau begitu kita makan malam di luar, oke?”

SooYoo mengangguk. Ia sudah selesai merapikan jas ChanYeol barusan. Baru saja selangkah mundur, ChanYeol menariknya kembali.

“Mana morning kiss ku?”

Belum sempat SooYoo mencerna, ChanYeol sudah menyapu bibirnya lembut. Mata SooYoo masih terbuka. Ia belum bisa menerima perlakuan ChanYeol yang selalu tiba-tiba. ChanYeol melepas bibirnya.

“Jaga dirimu” kemudian meninggalkan SooYoo yang masih mematung.

Baru sehari tapi sudah banyak yang ChanYeol lakukan padanya. Banyak juga  pengaruh yang ia dapat. Seperti barusan. Ia bertingkah seolah-olah ialah istri ChanYeol.

SooYoo mendengus geli. Ia tidak tahu apa suatu saat nanti ia akan berpaling pada ChanYeol atau tidak. Tapi ia sangat berharap untuk tidak. Ia sadar posisinya di sini hanya gadis sewaan. Gadis yang di bayar ChanYeol untuk melayaninya. Jadi SooYoo tidak ingin berharap banyak. Ia masih dan selalu ingin mempertahankan Araya.

-Sugar-

Di sekolah, SooYoo tetap menjadi SooYoo biasanya. SooYoo yang menyimpang dan dingin pada orang lain. Menghabiskan waktu istirahat bersama Araya karena akan sulit melakukannya di luar jam sekolah. Mengingat ada penjagaan ketat dari ChanYeol.

SooYoo memerankan perannya dengan apik. Menggunakan cincin couple saat bersama Araya dan melepasnya saat bersama ChanYeol.

Bicara mengenai ChanYeol, pria itu semakin bertindak romantis. Mereka berdua layaknya pasangan pengantin baru yang begitu manis. Mereka serasi. Bahkan sering kali saat belanja bahan makanan bersama, para ibu memuji keserasian mereka.

Sekarang juga SooYoo sudah tahu kalau ChanYeol bekerja di dua tempat. Sebagai guru matematika di sekolah, dan sebagai direktur di salah satu perusahaan ayahnya. Hah! Pantas uangnya banyak.

Akhir-akhir ini SooYoo selalu meluangkan waktu untuk melihat keadaan rumah dan ibunya dari jarak jauh. Membayar semua tagihan yang menumpuk dengan gaji pemberian ChanYeol. Yeah, itu memang tujuannya bekerja pada ChanYeol. Selama ini ibunya yang bekerja keras membayar tagihan.

Dan masalah ibu, ia tahu ibunya memburuk. Sering kali ia lihat lebam di wajah ibunya dari jarak jauh. Hati SooYoo sakit. Ia tahu pasti ayahnya menyiksa ibunya.

SooYoo mendesah kasar mengingat itu. Di depan sana ada ChanYeol yang tengah mengajar seperti biasa. Tapi SooYoo memilih melihat ke luar jendela. Berusaha menganalisir air matanya yang hampir menetes.

Di samping, TaeRin menyiku pelan perutnya beberapa kali. Saat SooYoo menengok, TaeRin memberi kode dengan mata melirik pada ChanYeol. Pria itu tengah menatapnya sekarang.

Bel istirahat berbunyi. Di sertai dengan suara lega para siswa.

“Nona Jung, bisa kau ke ruanganku?”

SooYoo melirik TaeRin sebentar. Sahabatnya itu memasang wajah bingung.

“Ya, Guru Park”

Setelahnya SooYoo benar-benar membuntut ChanYeol ke ruangannya. ChanYeol memanggil dan itu artinya tidak ada bermesraan bersama Araya untuk hari ini.

Mereka sudah di dalam. Dengan ChanYeol yang baru saja mengunci pintu. Pria itu duduk di kursinya.

“Dari awal kau tidak memperhatikanku” ucapnya dengan nada rendah.

“Maaf”

ChanYeol mendesah kasar. Memerintahkan SooYoo untuk mendekat. Secara tiba-tiba, ChanYeol mengangkat SooYoo ke atas meja. Tepat berhadapan dengannya.

“Aku benci kalau tidak diperhatikan”

SooYoo memutar mata malas. “Dari satu kelas hanya-“

Ucapannya terpotong bibir ChanYeol yang menciumnya tiba-tiba. Melumat secara halus dan kemudian melepasnya.

“Kau tidak memperhatikanku. Itu tidak ‘hanya’. Aku benci saat kau tidak memperhatikanku”

Menempelkan dahi keduanya. SooYoo memejamkan mata merasakan nafas ChanYeol berhembus di wajahnya. Ia tidak berani membuka mata. Itu akan sulit baginya. Terutama bagi hatinya.

“Buka matamu” ChanYeol memundurkan kepala dan mengangkat dagu SooYoo. “Apa yang ada di pikiranmu?”

Sial. ChanYeol hampir membuat jantungnya turun ke lambung. Dengan jarak sedekat ini dan mata yang saling menyatu. SooYoo tak bisa berkompromi dengan hatinya. Gadis itu menghela nafas untuk menetralkan diri.

“Aku.. memikirkan ibu..” lirihnya.

Pandangan ChanYeol melembut. Jemarinya tergerak untuk menyisir lembut rambut SooYoo.

“Temui ibumu”

SooYoo menggeleng cepat. “Aku belum siap”

ChanYeol tersenyum lembut. “Kenapa belum?”

Suara SooYoo tercekat di tenggorokan. Ia bersumpah tidak ingin menangis.

“Aku.. takut penolakan” cicitnya.

“Aku takut ibu menolak-ku. Jika itu terjadi, pasti akan sangat mengerikan”

ChanYeol tahu SooYoo hampir menangis. Jadi ia memeluknya. Melingkarkan lengannya pada pinggang SooYoo. Dagunya menempel pada bahu SooYoo.

“Ibumu mengkhawatirkanmu, Soo.. Dia menyayangimu.. Temui saja dia, katakan kau baik-baik saja..”

SooYoo menenggelamkan wajahnya pada bahu ChanYeol. Mengusak pelan seperti anak kucing. Mencari kenyamanan dari tubuh besar itu.

-Sugar-

Jam pulang sekolah. SooYoo mengantarkan Araya sampai halte. TaeRin pulang lebih dulu. Dia bilang ada keperluan mendadak dan SooYoo rasa itu ada hubungannya dengan MinSeok.

Akhir-akhir ini TaeRin menjadi konsultan cinta MinSeok. Dan SooYoo bersikeras itu tidak baik untuk TaeRin. Sama saja gadis itu menyakiti diri sendiri. Tapi TaeRin terus bicara dengan lantang, ia ingin MinSeok bahagia. Apapun meski dirinya juga yang sakit.

SooYoo melambaikan tangan pada Araya. Gadis itu sudah masuk ke dalam bus. Meninggalkan SooYoo yang berdiri sendiri di halte.

Oh! Tunggu. Ia tidak sendiri. Ada JongIn yang tengah bersembunyi di sana. Memandangnya dengan terluka. JongIn lelah mengikuti SooYoo. Ia tahu SooYoo dekat dengan ChanYeol dan ia juga tahu hubungan SooYoo dan Araya masih berlanjut. Itu terlihat jelas di matanya.

SooYoo kembali ke sekolah. Ia harus pulang bersama ChanYeol saat sekolah sepi. Dan ia rasa sekarang sekolah sudah sangat sepi.

Kakinya melangkah malas. Kali ini masih memikirkan masalah ibunya. Ia sudah menghubungi ibunya tadi. Mengajaknya bertemu di suatu tempat dan ibunya menyetujui dengan senang.

Tapi masalahnya apa ia akan sanggup bertemu ibunya. Hatinya masih sakit mengingat ia diusir dari rumah. Ia berpendapat bahwa saat itu ibunya memihak pada ayahnya.

Namun ia tidak mau terlalu egois. Benar kata ChanYeol. Ibunya mengkhawatirkannya. Terluhat dari betapa sulit keadaan ibunya sekarang. Meski beberapa hutang sudah tertutupi SooYoo. Pasti ibunya memikirkannya.

Tepat di depan gerbang sekolah, SooYoo menghentikan langkahnya. Matanya memutar jengah. Gadis itu berbalik secara mendadak.

“Ada apa, Kim JongIn?”

Jangan pikir SooYoo terlalu bodoh untuk dikelabui. Ia tahu JongIn membuntutinya. Ia tahu pemuda itu sering mengikutinya saat bersama ChanYeol maupun Araya. Ia dapat tahu itu semua. Tapi sekarang sudah cukup. Ia jengah jika harus diikuti setiap saat.

JongIn keluar dari persembunyian. Memamerkan wajah kikuknya yang tersenyum kaku.

Keduanya berakhir di sini. Berdiri di taman belakang sekolah. SooYoo yang meminta.

“Jadi, apa yang mau kau katakan?”

Gadis itu bertanya tak sabar. Sesekali melirik jam. Takut-takut kalau ChanYeol mencarinya.

“A-aku hanya..”

“Apa alasanmu membuntutiku?” Sekali lagi SooYoo bertanya. Kali ini lebih tegas.

“Soo..” JongIn mendekat. Memberanikan diri menggenggam kedua tangan SooYoo.

“Kembalilah padaku, Soo..” lirihnya.

SooYoo memberontak dari cengkeraman JongIn. Menghentakkan tangannya dengan kuat.

“Maaf, aku tidak bisa” gadis itu memalingkan wajahnya.

“Tidak bisa?” JongIn tertawa miris.

“Kenapa, Soo? Karena Guru Park? Atau karena Araya?”

SooYoo tersentak dengan ucapan JongIn. Pemuda itu mulai terlihat frustasi. JongIn kembali mendekat dan meraih tangan SooYoo.

“Aku tahu kau dengan  Araya! Aku juga tahu kau dengan Guru Park! Tapi keduanya salah, Soo!”

“Kenapa kau jadi seperti ini, Soo? Kumohon kembalilah padaku.. Jadilah normal seperti dulu..” lanjutnya

“Normal? Memang sekarang aku tidak normal? Bahkan setelah aku berhubungan dengan Guru Park?”

SooYoo menatap pilu JongIn.

“Soo, usia kalian jauh.. apa kau tahu statusnya? Apa kau tahu dia sudah menikah atau belum? Bagaimana jika sudah, Soo?”

Benar. SooYoo tidak pernah tahu status ChanYeol. Yang ia tahu hanya latar belakangnya secara umum. Ucapan JongIn yang satu ini benar-benar menohoknya.

“Kau tidak perlu pikirkan itu. Itu semua masalahku”

SooYoo mencoba melepas cengkraman JongIn. Namum pemuda itu menahannya.

“Aku tidak bisa, Soo.. aku mencintaimu”

SooYoo harus segera pergi dari sini. JongIn semakin menyiksanya dengan segala ucapan pemuda itu. JongIn membawa SooYoo ke dalam pelukannya. Namun dengan cepat SooYoo menepis.

“Demi apapun kita sudah berakhir dan kau harus berhenti mengurusi urusanku! Aku punya kehidupanku sendiri yang bahkan seujung kuku pun tak ada hubungannya dengan mu”

JongIn terdiam dengan rentetan kalimat itu. Ia tertusuk dan terasa mati. Sementara SooYoo tergagap. Ia tahu pasti ucapannya menyakiti JongIn. Terlihat dari pemuda itu yang langsung menunduk.

“Untuk yang terakhir kalinya, kukatakan padamu, cari gadis lain yang pantas mendapatkan orang sebaik dirimu”

Mata JongIn memburam melihat punggung SooYoo yang menjauh dengan cepat. Meninggalkannya di sini dengan cinta yang tak terbalas.

Tanpa terasa JongIn meneteskan air mata. Seumur hidupnya yang baru belasan tahun berlangsung, JongIn tidak pernah mencintai seorang gadis sampai seperti ini. Perasaannya pada SooYoo begitu dalam hingga ia tidak tahu cara mengatasinya.

JongIn melemah. Lututnya menyentuh rerumputan. Ia menunduk. Lagi-lagi SooYoo menghempasnya. Membuatnya seakan jatuh dari ujung tebing dengan ketinggian ribuan kilometer.

-Sugar-

Langkah SooYoo terhenti di lapangan parkir. Ia terdiam sejenak. Merasakan gemuruh di dadanya yang menyakitkan. SooYoo menyentuh dadanya.

Ia sadar. Ia sudah terlalu banyak menyakiti JongIn. Sudah terlalu banyak menyia-nyiakan cinta tulus Kim JongIn. Ia tahu pasti suatu saat ia akan mendapat karma. Tapi SooYoo memang tidak bisa membalas JongIn. Hatinya terlalu keras dan hampa untuk pemuda sebaik JongIn.

Di depannya kini berdiri seorang Park ChanYeol. Dengan jas yang ia lampirkan di bahu. Hembusan angin menerpa tubuh SooYoo. Ia mulai merasa dingin. Langit sudah menggelap ternyata. Setelah ini dapat di pastikan akan turun hujan.

SooYoo menatap ChanYeol dengan tatapan kosong. Membuat pria itu bingung dengannya. Gadis itu tergerak untuk memeluk tubuh tinggi ChanYeol. Lelaki itu tersenyum, menyambut pelukan SooYoo dengan hangat seperti biasanya.

Melihat wajah ChanYeol membuatnya mengingat perkataan JongIn. Masalah status ChanYeol yang belum ia ketahui. Ia ingin tahu tapi ia tidak bisa. Ia tidak tahu bagaimana reaksinya jika ChanYeol benar-benar sudah menikah. Pasalnya, ia sudah sangat nyaman dengan keberadaan ChanYeol di hidupnya. Terutama dengan semua yang ChanYeol lakukan padanya.

To Be Continued

Halluuuuu gaezz! I’m back!

Kali ini Arin mau ngasih A dari Q yang muncul di comment chap kemarin.
Well,,,

Q: Apa sih “Sugar Baby” itu?

A: Sugar Baby itu pelajar/mahasiswi yang disewa sama om-om (atau biasa disebut “Sugar Daddy”) buat nemenin mereka kapanpun mereka butuh dan untuk apapun itu, termasuk ena-ena/?

Q: Temen-temennya pada tau ga SooYa/SooYoo-Araya pacaran?

A: Temen”nya itu ga tau kalo SooYa pacaran. Kalo hugging sesama cewe kan udah biasa kayanya, hampir semua cewe sering pelukan dalam konteks friendship atau sistership, jadi mereka ga curiga.

Q: Apa sih alasan SooYoo nyimpang? Apa karna ayahnya?

A: Untuk alasan kenapa SooYoo begitu,,, yep benar! It’s all because of her dad. Dia kaya trauma gitu…dan SooYoo jadi benci cowo.

Q: SooYa beneran sampe ranjang??

A: Yeahh, seperti yang pernah Arin tulis,,, mereka udah pernah “begituan”. Makanya TaeRin dan YoonA sampe stress gitu. Well, mereka sesama and,,, it’s totally not a right thing to do.

Okay! Apa Q&A nya memuaskan? Kayanya ngga kkkk~ malah membingungkan ya? Hehe.
Nah, kalo kalian masih ada pertanyaan,,, tanya aja yaa nanti Arin jawab di Q&A.

Oh ya! Kalo ada yang mau tanya-tanya tentang “Sugar” atau apapun, atau cuma ngobrol” aja, bisa cek contact Arin di intro 😉

XOXO,

Arin Jung

Iklan

16 respons untuk ‘Sugar (Chapter 8)

  1. Thankyou udah dijawab pertanyaanku yg bejibun ><
    SooYoo disini udah agak jinak sm Chanyeol ya wkwk. Chanyeolnya juga sweet banget huhuhu, sweetnya ke SooYoo aku yg meleleh/?.
    Jongin kasiannnn, tp bener sih dijahatin sm SooYoo, lagian SooYoo nolak juga, semangat Jongin cari cewe baru!:p
    Keep writing ya, ditunggu kelanjutannya! 🙂

    Suka

  2. tari

    sooyoo sebenernya suka ga sih sama chanyeol? trus tadi kan si sooyoo udah nyaman sama chanyeol terus kenapa masih nyimpang sama si araya?

    ohh ya arinjung-ssi menurut ku kurang panjang, ga kaya chapter-chapter sebelumnya, tapi tetep seru kokk, banget malah hehe

    ditunggnya selanjutnya ^^

    Suka

    • Kalo beneran suka,,, jawabannya ada di next chap yaa hehe, kalo soal nyimpang ke araya, dia masih cintanya sama araya..
      Really?? Aigoo Arin ga sadar kalo chap ini pendek kkk~ next chap Arin panjangin lagi oke
      Thanks for reading and review :*

      Suka

  3. reisya soo

    serius suka banget ma sugar baby,,,keren abis,,, klo aku ga ada pertanyaan apapun,,karn tiap pertanyaan pasti bakal kejawab d chapter chapter selanjutnya!!
    *moga soo yoo bakal normal lagi,,,aj! coz bagaimanapun hubungan sesama jenis tak dibolehkan d agama manapun!
    tp konflik kaya gini sungguh menarik,,sesuai jaman skrng yg banyak penyimpangan,,!!
    **-kerennnnn***-
    klo di buat film drama kayanya bakal the best lah!!!

    Suka

  4. Maaf ya baru bisa komen di chapter 8,pas baca ceritanya rada 2 gimana gitu,tapi lama 2 suka juga,Jangan bilang chanyeol uda punya istri….?

    Semangat ditunggu kelanjutannya….

    Suka

  5. Heol…
    Soo Yoo jadi dua kepribadian…
    Ketika dengan Chanyeol dia akan bersikap manis layaknya seorang gadis tulen yg feminin dan memanjakan seorang Park Chanyeol.
    Tapi pas sama Araya. Dia akan bersikap maskulin dan dimanjakan oleh seorang Araya.
    Daebak Daebak. !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s