Sugar (Chapter 12)

Standar
Cast : Jung SooYoo

           Park ChanYeol
Etc.

Author : Arin Jung/Arin99
Genre: school life, romance, complicated
Rated : 15+
Warning: pedo, a bit yuri
Lenght: Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | Chapter 12

THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY


“make me be a normal, cure me, save me, you’re the only one could”


SooYoo melihat jam yang melingkar di tangannya. Pemberian ChanYeol sebagai hadiahnya yang meraih peringkat satu di ujian semester lalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Seharusnya dia sudah pulang. Terlebih cuaca dingin mulai menyelimuti kota Seoul. Mungkin setelah ujian nanti akan turun salju pertama.

SooYoo mengeratkan mantel coklat susunya. Sepertinya hanya ada dirinya di sekolah. TaeRin tadi sudah pulang lebih dulu. Ia bilang MinSeok menjemputnya.

Dan Araya, sejak kembali ke Thailand, SooYoo kehilangan kabar gadis itu. Dia sangat merindukannya hingga hampir menangis. Kehadiran Araya selalu membuat harinya lebih berwarna dan menyenangkan. Meski SooYoo akui, kehadiran Araya mulai tertutup ChanYeol, tapi dia merindukan gadis itu.

Helaan nafas keluar dari bibir SooYoo. Langkahnya terhenti saat handphone di sakunya bergetar. Memunculkan nomor yang tidak ia kenali.

“Halo?”

‘Apa benar ini Jung SooYoo?’

Suara itu terdengar familiar tapi SooYoo merasa tak yakin. Ia hanya jarang mendengar suara ini. Hanya seperti pernah mendengarnya.

“Ya, benar”

Terdengar suara lekukan senyum dari seberang sana.

‘Ini Ham EunJung,,’

SooYoo mendesah kasar meski tam terdengar. Gadis itu memejamkan matanya sejenak. Jantungnya melambat saat mendengar nama itu. Ia merasa sesak.

“Ya, ada perlu apa?”

SooYoo tidak berbicara ketus. Hanya datar seperti biasanya.

‘Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin kubicarakan’

Kenapa harus bertemu? SooYoo bahkan tidak ingin melihat wanita itu. Tapi dia bilang ada hal penting. SooYoo bisa apa selain menerima. Menuruti keinginan wanita itu untuk bertemu di sebuah restoran. Duduk berhadapan dengan ketegangan di antara mereka.

“Kau terlihat tidak sehat, apa kau tidak bahagia dengan ChanYeol?”

Ucapan itu menyinggung SooYoo. Ia benar-benar merasa seperti wanita jalang perebut suami orang.

“Biasa saja,,” ada sedikit senyuman lemah di sana yang pastinya SooYoo paksakan.

Ia bahagia, dengan ChanYeol yang perhatian meski SooYoo terus bersikap dingin. Ia bahagia dengan kehangatan yang terus ChanYeol berikan.

Tapi apa ia bahagia jika dengan jelas ada seorang wanita di hadapannya dengan perut membuncit, wanita yang merupakan pasangan sah ChanYeol.

“Seharusnya kau tidak, jika kau masih punya hati”

SooYoo meringis dalam hati. EunJung benar. Harusnya SooYoo tidak bahagia di atas perjuangannya. Tidak bahagia di atas penderitaan EunJung.

“Saat pertama kali kita bertemu di apartemen, awalnya aku ingin memberi tahu ChanYeol tentang kehamilanku yang saat itu berusia 4 bulan, lalu meminta mempercepat waktu pernikahan”

“Aku menyembunyikan kehamilanku agar tidak mengganggu kesibukan ChanYeol, tapi kehamilanku semakin membesar dan aku tidak bisa lagi menyembunyikan segalanya.. ChanYeol harus tahu kalau aku mengandung darah dagingnya”

SooYoo memejamkan mata saat mendengar kelimat terakhir EunJung. Ia hancur berkeping-keping di dalam sana. Bahkan matanya sudah memerah.

“Kau menghancurkan segalanya”

Ada rasa anyir di lidah SooYoo. Itu darahnya. Ia terlalu keras menggigit bibir dalamnya hingga itu berdarah. Tapi rasa sakitnya tak terasa dibanding hatinya. Kalimat itu begitu menyinggungnya.

“Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran ChanYeol. Dia direktur dan calon pewaris tahta kerajaan Park, dia konglomerat, tapi mendadak dia menginginkan menjadi guru di sekolah yang didirikan yayasan Tuan Park, dan memacarimu”

“Aku tidak mengerti apa alasannya menjadi guru, lalu tiba-tiba memacarimu”

Pandangan EunJung begitu menusuk SooYoo hingga gadis itu tak berani menatapnya balik. SooYoo hanya bisa menunduk dalam. Menerima cacian dari EunJung.

“Oke, begini saja,,” EunJung mendesah kasar awalnya.

“Tinggalkan ChanYeol!”

SooYoo mengangkat kepala dengan cepat. Ia menatap EunJung dengan sangat tak rela.

“Kenapa? Tidak mau? Kau tidak lihat perutku yang membesar ini?”

Hentikan.

“Kau mau anak ini lahir tanpa ayah karenamu?”

Tidak.

“Kau mau ayah ChanYeol -Tuan Park- tahu dan menghancurkan kalian berdua?”

SooYoo menggeleng dalam diamnya. Air matanya hampir menetes dan ia hanya memejamkan mata erat. EunJung benar-benar memanfaatkan dengan baik situasi ini.

“Tuan Park akan sangat marah dan kecewa pada ChanYeol, pria itu bisa diusir dari keluarga kapan saja, kau mau itu? Kau mau semua hancur karena mu?”

Tidak. ChanYeol tidak boleh hancur karenanya. Biarkan SooYoo yang hancur tapi tidak dengan ChanYeol dan yang lain.

“Aku tidak bisa memutuskan. Keputusan ada pada ChanYeol!” SooYoo berbicara lantang.

“Apa maksudmu?”

“Hubungan kami hanya sebatas relasi pekerjaan. ChanYeol,, dia- dia menyewaku”

SooYoo mulai merasa pening kembali menghajar kepalanya. Ia mulai mual dan lemas.

“Apa? Jadi kau… sewaan?”

SooYoo hanya mengangguk. Ia bahkan sulit membuka mata akibat pening di kepalanya.

“Gadis jalang!”

Air dingin mengguyur kepala dan wajah SooYoo. Itu semakin membuat kepalanya pening dan berputar.

“Kau! Kau pasti menggoda ChanYeol!”

SooYoo benar-benar merasa rendah. Ia benar-benar berada di dasar.

Tak peduli berapa banyak orang yang menatapnya rendah, SooYoo terus melangkah keluar sepeninggal EunJung. Ia benar-benar sakit secara fisik maupun batin.

-Sugar-

ChanYeol memasuki mansion besar milik keluarga Park. Tadi, YooRa meneleponnya dengan sangat panik tanpa memberi alasan pasti. Padahal baru saja ChanYeol mengikuti meeting yang membuatnya jenuh. Ia butuh SooYoo sebenarnya.

ChanYeol mengernyit saat melihat kondisi ruang tengah. Semua ada di sana. Ayahnya, ibunya, YooRa, bahkan EunJung dan orang tuanya.

“Baguslah kau sudah datang. Sekarang duduk!”

Sebenarnya ChanYeol tidak mengerti dengan keadaan ini. Semua terlihat begitu serius dan tegang.

“Ada apa ini?” Ia bersuara akhirnya.

Ibunya di samping hanya tersenyum menguatkan. Menggenggam tangan ChanYeol dengan sedikit kuat.

“Pernikahan kalian akan dipercepat”

“Apa?” ChanYeol menatap ayahnya geram. Ayahnya mengambil keputusan tanpa persetujuannya.

“Kau dan EunJung akan menikah”

Di sana. EunJung tersenyum samar. Ia merasa menang atas semuanya. Tapi tidak dengan ChanYeol. Pria itu segera bangkit dari duduknya.

“Tidak! Aku tidak mau” semua mata tertuju padanya, mereka memandang tak percaya.

“Apa yang kau katakan?!” Tuan Park membentak. Merasa tak enak hati dengan besannya di sana.

“Aku mau membatalkan pertunangan ini!”

“Tidak bisa!” Sekali lagi Tuan Park membentak.

“Kenapa tidak? Aku tidak mau menikah dengannya!”

“Pernikahan ini harus berlanjut! EunJung mengandung anakmu dan kau harus bertanggung jawab!” Tuan Ham kali ini angkat bicara. Menunjuk putrinya yang duduk dengan perut sedikit membesar.

ChanYeol kini tercekat. Ia tidak percaya dengan apa yang calon mertuanya katakan. Tapi semua elakannya terpatahkan melihat perut EunJung yang membesar.

Mau mengelak lagi? ChanYeol masih ingat apa yang pernah ia dan EunJung lakukan. Itu merupakan bukti. Jadi ChanYeol juga tak mampu mengelak meski ia tak yakin. Ia juga tidak tahu pasti apa benar dirinya ayah dari anak yang dikandung EunJung.

Keluarga EunJung pulang, tepat di tengah malam. Rapat dadakan ini memakan banyak waktu yang menyebalkan. ChanYeol benar-benar butuh SooYoo dipelukannya. Untuk menenangkannya dan meneguhkan hatinya yang tengah rapuh.

“ChanYeol,,”

Suara halus itu berasal dari ibunya. Wanita yang terus menyokong dirinya. Tidak ada SooYoo, maka ibunya pun jadi. Keduanya memiliki kehangatan yang sama bagi ChanYeol.

“Kenapa kau mau membatalkan pertunangan?”

ChanYeol melepas pelukkannya.

“EunJung,, dia.. bukan wanita yang baik”

Kedua alis Nyonya Park berjingit. Namun setelah itu senyuman penuh arti berkembang di bibirnya.

“Ibu,,, kenapa tersenyum?”

“Bukankah dari dulu ibu sudah memperingatkanmu dan noonamu tentangnya?”

Yeah, harusnya ChanYeol dengar perkataan ibunya. Sifat egois dan licik EunJung sudah terlihat jelas sejak kecil. Harusnya ia tak terlalu dekat dengan wanita itu seperti nasehat ibunya. Tapi apa mau dikata? ChanYeol terlanjur mencintainya, terlanjur meminta untuk bertunangan dengan EunJung, dan banyak terlanjur lain yang tak akan bisa ia perbaiki.

“Maafkan aku, Ibu”

Nyonya Park tersenyum dan sedikit menggeleng.

“Tapi, EunJung sudah menjadi tunanganmu, ibu tahu apa yang pernah kalian lakukan, jadi mau tidak mau kau harus tanggung jawab, ChanYeol.. kau laki-laki sejati, kan?”

ChanYeol tersenyum masam. Ibunya memang yang terbaik. Satu-satunya orang yang paling bisa ia andalkan di rumah ini.

“Dan,, kalau ibu boleh tahu,, apa benar, alasanmu mengajar adalah untuk bertemu gadis itu?”

Pasti ayahnya yang bilang. Pasti masalah itu sudah menyebar luas di seisi rumah. Dan itu benar. Alasan ChanYeol mengajar adalah untuk menemui SooYoo. Gadis yang ia temui di hari kepulangannya dari London.

“Ibu.. sudah tahu perihal gadis itu,, ayahmu menceritakan semua dan dia sangat kecewa”

ChanYeol menundukkan kepala. Ia meremas masing-masing telapak tangannya. Mempersiapkan diri dengan apa yang akan ibunya katakan.

“Apa kau mencintainya, ChanYeol?”

“Ya, Bu. Aku sangat mencintainya” menjawab tanpa memandang ibunya.

“Kurasa dia sudah lebih baik saat denganmu”

Kepala ChanYeol berputar cepat. Matanya berbinar menatap ibunya yang tersenyum baik.

Nyonya Park mengambil sesuatu di balik mantelnya. Sebuah foto. Itu SooYoo yang merangkul Araya, namun tersenyum lemah menatap ChanYeol yang berada jauh di depannya.

“Dia hanya tersesat,, Ibu bisa melihat itu..”

ChanYeol tersenyum lemah. Mengambil foto itu dari tangan ibunya.

“Pilih jalanmu ChanYeol,, kau tahu mana yang benar”

-Sugar-

Berbeda dari malam kemarin, malam ini SooYoo sudah tertidur di kamar mereka -SooYoo dan ChanYeol. ChanYeol tersenyum melihat gadis itu. Membawa dirinya berlutut di sisi ranjang, tepat dihadapan SooYoo. Kepalanya bersandar pada kedua tangannya yang berlipat. Ia hanya berjarak beberapa centi dari SooYoo. Bahkan bisa merasakan nafas hangatnya.

ChanYeol menyukai semua pada diri SooYoo. Tawa kecilnya, senyumnya, semuanya. Bahkan tatapan kosong SooYoo yang membuat ChanYeol ingin selalu melindunginya. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan mudah pecah. Meskipun pertahanannya sangat amat kuat.

Tangan ChanYeol tergerak untuk menyentuh wajah gadisnya. Betapa terkejutnya ia saat merasakan suhu hangat. Ada yang tidak beres dari gadis itu. Tapi tentu, ChanYeol ingat SooYoo bilang ia sedang datang bulan. Gadis itu selalu sakit saat datang bulan, jadi ini mungkin biasa. Ia hanya butuh istirahat.

Gadis itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Hanya gerakan kecil namun tersirat kegelisahan dan ketakutan yang besar. ChanYeol pikir itu karena pengaruh demam SooYoo, ia ingin mengambil handuk dingin untuk itu.

Tapi baru saja setengah gerakan untuk bangkit, SooYoo menahannya. Dengan kuat mencengkeram tangan ChanYeol.

“Tidak…” gadis itu merintih dan sedikit menggelengkan kepala. ChanYeol membatalkan niatannya. Ia kembali berlutut dan kali ini berusaha menenangkan SooYoo.

“Chan..Yeol.. jangan..” rintihan itu semakin terdengar lirih. ChanYeol tercekat mendengar namanya. SooYoo memimpikannya dalam tidur. Dan itu bukan mimpi yang baik kalau bisa ia simpulkan.

“Jangan pergi..” dan kali ini rintihan itu disertai tetesan air mata. SooYoo menangis dalam tidurnya.

Keputusan ChanYeol bulat untuk tidak beranjak kemana-mana. Ia hanya ingin tidur memeluk SooYoo. Membiarkan gadis itu menangis hingga pada akhirnya reda di waktu fajar mendatang.

ChanYeol tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu menangis di tidurnya. Apa mimpinya seburuk itu hingga menyakitinya sangat dalam. Separah itukah luka yang dialami SooYoo.

Perlahan, sinar matahari muncul dari celah tirai putih. ChanYeol masih terjaga memeluk SooYoo. Dia tidak mampu untuk bahkan hanya memejamkan mata. Pikirannya begitu runyam.

Ia menginginkan SooYoo di sisinya, sangat. Tapi ada EunJung yang terus menghantuinya tanpa bukti jelas. ChanYeol tidak bisa mengelak kalau itu bayinya. Malam itu memang pernah terjadi dan sekarang ChanYeol menyesal setengah mati.

ChanYeol ikut terkejut saat SooYoo melompat di pelukannya. Ia rasa SooYoo sudah bangun sekarang. ChanYeol bisa merasakan tangan yang menyentuh ujung lengan kemeja putihnya.

“Kenapa kau tidur dengan ini?”

Itu suara SooYoo. Terdengar serak dan lirih.

“Aku sangat merindukanmu, sampai tidak sempat berganti”

ChanYeol dapat melihat kepala gadis itu mengangguk pelan. Dari sini ia dapat menghirup aroma rambut SooYoo. Sangat membekas di hatinya.

“Apa kau mimpi buruk lagi? Kau menangis semalaman”

“Benarkah?”

SooYoo mengangkat kedua belah tangannya untuk menyentuh permukaan pipinya. Basah dan sedikit lengket. Itu pasti air matanya. Pantas saja matanya perih.

“Apa sangat buruk?” ChanYeol bertanya dengan rendah dan dalam. Sirat akan kekhawatiran dan rasa ingin tahu.

“Ya,, sepertinya begitu” SooYoo sedikit terkekeh dan hanya dibalas senyuman masam dari ChanYeol.

Kepala ChanYeol menelusup ke rambut SooYoo. Mencari aroma gadis itu yang amat disukainya.

“Apa kau memimpikan ku, semalam dan malam-malam yang lainnya?” ChanYeol bertanya dengan suara parau. “Apakah aku tokoh utama di mimpi burukmu itu?”

SooYoo memejamkan mata. Andai ia tahu apa yang terjadi malam tadi.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

ChanYeol memindahkan kepalanya oada pundak SooYoo. Menelusup perpotongan leher SooYoo yang lembut.

“Ada namaku di tangismu”

Sial. Andai bisa SooYoo mengontrol diri saat tidur. Dia sangat malu sekarang. ChanYeol tahu segalanya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sejenak.

“Ya, kau ada di sana”

ChanYeol mengeratkan pelukannya ia benar-benar ingin membawa SooYoo kemana pun ia pergi. Tidak ingin sedetik pun kehilangannya.

“Di sana, kau pergi meninggalkanku”

“Ceritakan padaku, semuanya”

SooYoo memejamkan mata. Berupaya mengingat mimpinya semalam.

“Ceritanya singkat, kau pergi, menghilang begitu saja..” gadis itu tersenyum dengan jedanya. “Kau tahu? Itu rasanya sakit”

ChanYeol menghentikan segara pergerakannya. Berupaya mencerna perkataan SooYoo.

“Melihatmu pergi, rasanya sakit,, seperti ada yang menghilang dari diriku”

Ia tersenyum lemah. Menceritakannya saja membuat harinya hancur. SooYoo hampir menangis sekarang.

“Apa kau akan pergi, ChanYeol?”

Tidak. ChanYeol menggeleng di batinnya. Ia tidak mau pergi meninggalkan SooYoo. Terlebih setelah mendengar pengakuan gadis itu.

“Aku tahu, aku hanya sewaanmu, yang bisa kapan saja kau tinggalkan.. tapi, boleh aku berharap kau menetap?”

Suaranya bergetar kecil. Tapi getaran itu mengguncang hati ChanYeol. Ia tahu pembicaraan ini maksudnya apa. Namun ChanYeol butuh yang lebih pasti daripada kesamaran.

“Kenapa kau berharap begitu?”

ChanYeol menggenggam erat tangan SooYoo. Begitu pas untuk keduanya.

“Karna di hidupku, hanya kau yang mampu menyembuhkanku, setidaknya membuatku sedikit normal”

Jantung ChanYeol rasanya melompat-lompat di dalam tubuhnya. Perasaan hangat itu menjalar mengikuti aliran darahnya. Ia senang, sangat. Bahkan bahagia. SooYoo mengakui kebutuhannya akan ChanYeol. Dia membalas ChanYeol.

Pelukan itu semakin erat. Seakan ChanYeol ingin menenggelamkan SooYoo di dalam tubuhnya, bersama desiran yang mereka rasakan.

-Sugar-

Lagi-lagi, ChanYeol mendatangi dokter kesayangannya. Si tampan dokter anak, Oh SeHun.

“Percaya padaku! Aku akan didepak dari rumah sakit ini tidak lama lagi” pria itu menggerutu. Tapi percuma saja, Park ChanYeol sudah sangat tebal telinga untuk itu.

“EunJung hamil besar”

“Apa?!” SeHun meringis dengan refleksnya barusan. “Maaf, maksudku- Selamat Tuan Park”

Pria itu tanpa dosa menjulurkan tangannya dan tersenyum manis. Ia mencebik saat ChanYeol malah menepuk tangannya.

“Kau terlihat tidak bahagia, Papa Park”

“Memang tidak.”

“Bukankah bayi sangat diinginkan oleh pasangan berbahagia?”

“Aku tidak bahagia, dan aku bukan suami-istri”

SeHun terkekeh. “Itu belum”

ChanYeol mendelik tajam.

“Kenapa? Aku benar, kan?”

Mulut ChanYeol mengeluarkan ringisan. Pria itu berdecak kemudian.

“Kami akan menikah beberapa minggu depan”

“Woah, double ‘selamat’ kalau begitu”

SeHun sekali lagi menjulurkan tangan dan tersenyum lebar. Manis seperti anak perempuan.

“Dan tadi pagi, SooYoo mengakui perasaannya padaku”

Kali ini senyum manis SeHun luntur. Pria itu benar-benar terkejut dan terpukau dengan apa yang ChanYeol katakan.

“Kau pasti bercanda”

“Apa aku terlihat begitu?” ChanYeol melirik tajam mata SeHun.

SeHun meringis. Tatapan tajam ChanYeol benar-benar membuktikan ia serius. Kalaj begitu, waktunya ia serius.

“Lalu kau pilih yang mana?”

“Entahlah, ini rumit.” ChanYeol menyangga sikunya di lengan yang lain. “Kalau aku pilih EunJung, SooYoo akan hancur dan semakin parah, tapi kalau aku pilih SooYoo, aku melepaskan tanggung jawab”

Kepala SeHun bergerak ke atas dan ke bawah.

“Kau sudah dewasa, aku yakin, kau tahu mana yang terbaik, pasti akan ada jalan, percayalah”

Tuh, kan. SeHun itu bijak. Hanya saja terkadang menyebalkan juga gila. Tapi tetap, ChanYeol menyayanginya sebagai sahabat. Bahkan saudara.

Handphone ChanYeol bergetar di sakunya. Oh! Itu nomor yang harusnya dari dulu ia blacklist selain EunJung. Ayahnya.

“Halo?”

‘ChanYeol, kemarilah. Ada yang harus ayah bicarakan’

Dan menurut ChanYeol. Akan ada hal yang lebih buruk menantinya.

To Be Continued

Iklan

12 respons untuk ‘Sugar (Chapter 12)

  1. reisya soo

    huhui akhirnya soo yoo ngaku jg,,ikut seneng,, ga peduli nantinya gmn,,yg penting chanyeol skrng g ragu lagi ,krn perasaanya terbalas,,
    soal Ham Enjung,,,lum pasti jg kn itu anaknya chanyeol!!!!
    keren Arin!

    Suka

  2. reisya soo

    huhui akhirnya soo yoo ngaku jg,,ikut seneng,, ga peduli nantinya gmn,,yg penting chanyeol skrng g ragu lagi ,krn perasaanya terbalas,,
    soal Ham Enjung,,,lum pasti jg kn itu anaknya chanyeol!!!!
    keren ,,pokoknya lope lope lope Arin!!

    Suka

  3. Ini menyesakkan jiwaaa huaaaa 😥
    Ayolahh chanyeol sama sooyoo jg berhak bahagia, sooyoo harusnya sekali saja harus bahagiaa, bahkan chanyeol blm menyentuhnya sama sekalii *lohh

    #mesumdehpikirangw
    Hahhahaa

    Suka

  4. tari

    hwaaaaa arinjung-ssi kenapa jadi seperti ini hwuaaaa*lebaybingitt*
    tapi ibunya chanyeol setujukan kalo chanyeol sama sooyoo,? ahh chigu kau harus buat sooyo dan chanyeol bahagia oke wkwkwk, ditunggu selanjutya chigu hwaitingggg ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s