Bitter & Sweet (second sequel of ‘Sugar’)

Standar
Cast : Jung SooYoo

           Park ChanYeol
Etc.
Author : Arin Jung/Arin 99
Genre: romance, complicated
Rated : 15+
Lenght: Bitter & Sweet (Second sequel of ‘Sugar’)

THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY.


“Everything fall back to their places”


Kehidupan baru. Sekali lagi ungkapan itu disebutkan.

Dan SooYoo sekali lagi menjadi pribadi yang baru. Wanita dewasa yang cantik dan anggun. Meski tidak terlalu feminim. Ia masih tidak menyukai rok dan dress. Juga jarang menggunakan heels. Masih belum terbiasa.

Di Seoul, SooYoo mau semuanya menyatu. Ia membeli rumah, cukup besar. Untuknya dan Dennis, EunHye, dan YoonA.

SooYoo menjalankan karirnya dengan sangat baik. Dan sekali lagi ia dibantu Tuan Kim. Kim JoonMyeon memang pria yang sangat baik. Tak ada beda dengan Araya.

Tuan Kim yang mempromosikan dirinya pada rekan-rekan bisnisnya. Ia bilang, ia sudah menganggap SooYoo sebagai anak. SooYoo menantunya juga, bukan? Meskipun Araya sudah pergi.

Karir SooYoo melebar dan sangat sukses. Banyak pebisnis yang menggunakan jasanya. Bahkan hingga kalangan atas. Tidak hanya untuk proyek besar. Beberapa dari mereka juga menggunakan jasanya untuk mendesign rumah pribadi, atau usaha seperti restoran.

Dennis juga sudah bisa menyesuaikan diri. Meski ia tidak terlalu biasa dengan musim dingin. Buktinya sekarang anak itu dilanda flu berat. Itu berangsur lama hingga SooYoo memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

“Tidak apa-apa,, Dennis hanya sedang menyesuaikan diri dengan iklim Seoul”

Dokter itu tersenyum tampan. SooYoo mengangguk dan balas tersenyum.

“Nanti juga ia akan sembuh sejalan dengan penyesuaiannya.. dan jangan lupa minum obatnya”

Namanya Dokter Oh. Oh SeHun. Dennis menyukainya. Menurut Dennis, Dokter Oh sangat ramah dan menyenangkan. Banyak mainan di ruangannya. Memang sengaja SeHun meletakkan mainan di sana, agar anak-anak merasa nyaman dan ruangannya tidak mencekam.

SeHun tersenyum memperhatikan Dennis. Ia merasa kenal. Wajahnya tidak asing, mirip seseorang. Dan orang itu

Park ChanYeol.

“Dennis? Dennis Jung?”

SeHun menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik lembaran biodata Dennis lalu berganti menatap SooYoo dengan wajah tak terperinci.

“Ya, Dennis Jung”

SooYoo mengangguk kikuk. Ia merasa dokter ini mulai aneh. Ia terus memperhatikan Dennis dengan tatapan menyelidik. Lalu beralih pada SooYoo.

“Dan kau?”

Mata SeHun menyelidik. Menyipit dengan alis berkerut.

“A-aku,, Jung SooYoo..”

Ah! Sungguh tidak disangka. Fakta ini sungguh mengejutkannya. Semua tokoh yang selalu ChanYeol ceritakan padanya dalam curahan hati, kini ada di hadapannya. SeHun merasa seperti bertemu bintang.

SeHun tersenyum tipis.

“Ada apa, dokter?”

“Ah, tidak ada..” SeHun menggeleng.

“Hanya saja, kalian mengingatkanku pada seseorang.. tapi sepertinya aku salah orang”

SooYoo tekekeh kaku. Berusaha memahami dokter yang satu ini. Tampan dan jenius, memang. Tapi aneh.

“Kalau begitu,, kami permisi..terima kasih, Dokter Oh”

“Ah, ya, tentu.. cepat sembuh, Dennis”

SeHun ingin melihat semua kembali ke tempatnya secara rapih. Tuhan memang adil. Semua kisah yang berantakan disusunnya sedemikian apik dan mengejutkan. Mana pernah ia sangka pasiennya adalah orang yang selalu ia dengar namanya tapi tidak pernah ia lihat wajahnya. Jung SooYoo dan Dennis. Keduanya orang penting di hidup ChanYeol.

SeHun hampir melompat saat ChanYeol menepuk tangan dengan keras di telinganya.

“Sejak kapan di situ?”

“Sejak kau melamun..”

SeHun mendesah kasar. Sebenarnya ChanYeol di sini selalu untuk hal yang tidak penting. Kadang hanya untuk meminta di temani makan siang, dan kadang hanya untuk mengganggu SeHun. Memang, semenjak Ayahnya sakit, ChanYeol lebih jarang datang. Ia selalu sibuk dengan bisnis.

“Kenapa kau melamun?”

SeHun tersenyum dalam hati.

“Kuperhatikan wajahmu mirip seseorang, ya?”

ChanYeol mengerut. Ia mundur beberapa langkah dan memasang wajah curiga pada SeHun.

“Maksudmu apa? Aku mirip siapa?”

“Seorang pasien ku, ah! Aku lupa namanya!”

“Pasienmu? Wah! Kau mengakui wajah baby face-ku ini, ya?”

Bibirnya tertarik lebar menyamping membentuk senyuman yang ia paksakan untuk terlihat imut. SeHun hampir muntah melihatnya.

“Di mimpimu, Dobi.”

ChanYeol merubah ekspresinya menjadi lebih masam.

“Lalu siapa anak itu, ha?”

SeHun menyeringai di batinnya. Memasang wajah yang berpikir dengan keras.

“Ah! Dennis Jung!”

Nama itu membuat mata ChanYeol terbuka lebar. Lebih bulat dari sebelumnya.

“Siapa?” Sekali lagi ia bertanya.

“Dennis Jung, si rambut wavy kecokelatan dan nama ibunya,, oh! Jung SooYoo”

Tubuh ChanYeol yang mendadak mati rasa hampir jatuh lunglai ke lantai. Ia segera duduk tegak. Anak yang saat itu ia lihat memang berambut cokelat dan sedikit bergelombang. SeHun tidak pernah melihatnya, jadi ChanYeol rasa SeHun sungguh-sungguh.

“Sialan! Kenapa tidak bilang dari tadi?”

ChanYeol melompat dari kursinya. Secepat kilat berlari ke luar ruangan SeHun. Langkahnya besar-besar mengelilingi seluruh koridor. Tak mempedulikan pengunjung rumah sakit yang menatapnya bingung. Bahkan ChanYeol hampir menabrak ranjang rumah sakit yang untungnya kosong.

Semua penjuru sudah ia telusuri. Tak ada SooYoo di mana pun.

Hingga ChanYeol berhenti di lobby. Ia pada dasarnya tidak kuat berlari. Meskipun kakinya panjang, ia tak sanggup. Nafasnya tak kuat.

ChanYeol melemah. Ia jatuh terduduk di lantai dingin rumah sakit. Tidak mempedulikan orang yang berjalan lalu-lalang di sekitarnya dengan tatapan aneh.

Nafas ChanYeol masih tersengal. Tapi dipikirannya, Dennis dan SooYoo masih berputar. Ia harus menemukan dua orang itu.

Kepala ChanYeol tertunduk. Sekali lagi kesempatannya hilang. Mungkin memang benar. SooYoo bukan jodohnya.

ChanYeol mendengus geli pada nasibnya. Takdir benar-benar mempermainkannya.

Decitan sepatu sneakers menghentikan pemikiran ChanYeol. Ia sedikit mengangkat kepala. Ada sepasang kaki kecil berdiri di depannya. ChanYeol mendongak lebih tinggi.

Seorang anak berdiri di depannya. Kini anak itu menekuk lutut, menyetarakan tubuh dengan ChanYeol.

“Paman baik-baik saja?”

ChanYeol tersenyum dan mengangguk.

“Ya, paman baik-baik saja..”

“Lalu kenapa paman duduk di sini? Kata Mama, lantai rumah sakit itu kotor..”

Yeah, benar. Itu memang kotor. ChanYeol terkekeh. Ia kalah pengetahuan dengan anak kecil.

Pria dewasa itu menekuk lutut. Melakukan hal yang sama dengan anak kecil itu. ChanYeol mengangkat alis saat anak itu membuka tas kecilnya yang berwarna biru. Mengambil sesuatu dari saku tasnya.

Oh, hand sanitizer.

ChanYeol menyunggingkan senyumnya. Orang tua anak itu mengajarkan kebersihan dengan baik.

“Boleh kuminta tangan Paman?”

Dan kesopanan yang baik. Tangan kecilnya menekan botol berwarna biru itu. Mengeluarkan gel bening yang terasa dingin di kulit ChanYeol. ChanYeol menggosokkan tedua tangannya dan berucap terma kasih.

“Siapa namamu?”

“Maaf, kata Ibu, aku tidak boleh menyebutkan nama pada orang asing”

ChanYeol tertawa. Dengan sesuatu yang mengganjal. Apa bedanya ‘Ibu’ dan ‘Mama’? Bagi ChanYeol keduanya sama. Lalu kenapa anak ini menyebutkan keduanya.

“Kau memanggil ibu-mu ‘Mama’? Atau ‘Ibu’?”

“Aku punya dua-duanya, tapi aku tidak punya Ayah”

Oh! Astaga. ChanYeol paham. Sepertinya penyimpangan sudah marak di muka bumi ini. Bahkan hal itu harus diterima anak kecil yang harusnya belum pantas memahami.

“Sedang apa kau di sini?”

Anak itu kembali memasukkan botol hand sanitizer ke dalam tasnya.

“Ibu sedang mengambil obat untukku, aku terkena demam.. karena bosan, aku bermain..”

ChanYeol lagi-lagi tersenyum menyaksikan bagaimana pintarnya anak itu berbicara. Anak laki-laki itu tampan. Hidungnya mancung dan kulitnya cukup putih, mata besar yang lucu. Itu terlihat sepertinya.

Tunggu. Apa ChanYeol baru saja sadar? Anak laki-laki itu mirip dengannya! Rambut seberwarna kecoklatan dan tubuh tinggi untuk anak seumurannya.

“Hei, apa namamu Dennis Jung?” ChanYeol berbisik. Anak laki-laki itu terlihat terkejut. Ia membuka mulutnya yang kemudian terkatup lagi. Ia mengangguk pelan.

Astaga! Sepertinya kinerja otaknya mulai berjalan lamban. ChanYeol merasa sudah manua. Mungkin ia harus segera mengunjungi dokter untuk cek kesehatan. Takut-takut ia terkena alzhaimer.

“Kau- apa ibumu Jung SooYoo?”

Sekali lagi anak itu mengangguk. Pantas saja ceritanya sama dengan SooYoo. Pasti orang yang di sebutnya ‘Mama’ tadi adalah Araya.

ChanYeol dengan cepat berdiri. Tubuhnya yang sangat tinggi membuat Dennis mendongak.

“ayo, kita temui ibumu”

-B&S-

Di apotek rumah sakit, SooYoo sudah kalang kabut mencari Dennis. Tadi Dennis hanya bermain di koridor sekitaran apotek. Dan sekarang anak itu tidak ada di jangkauan matanya.

SooYoo benar-benar menyesal dan panik. Seharusnya tadi dia tidak membiarkan Dennis berkeliaran sendiri. Ini daerah asing baginya. Dennis baru dua minggu berada di Seoul. Terlebih anak itu sedang terkena demam.

Oh, ya ampun. SooYoo benar-benar mau mengangis sekarang juga.

Wanita itu berbalik. Hendak mencari ke tempat lain. Mungkin Dennis pergi ke tempat bermain anak di tengah rumah sakit. Atau ke taman. Kemungkinan itu bisa terjadi.

“Ibu!”

Dengan cepat SooYoo berpaling ke arah kanannya. Ia melihat Dennis di sana. Berlari kecil menghampirinya. SooYoo tersenyum, merendahkan tubuhnya untuk memeluk Dennis.

“Kau kemana saja? Ibu mencarimu.”

“Dia,, denganku”

Nafas SooYoo yang tersengal berhenti begitu saja. Suara berat itu pasti bukan suara Dennis. Tapi SooYoo hafal betul itu milik siapa.

Astaga Tuhan! SooYoo belum menyiapkan mental untuk bertemu laki-laki itu sekarang. Dia bahkan tidak merencanakan, atau sekedar berpikir akan bertemu dengan ChanYeol. Apalagi di tempat ini, rumah sakit.

SooYoo menghela nafas samar. Ia melepas pelukannya pada Dennis. Irisnya yang tadi membeku kembali bergerak sedikit kaku. Menyatakan betapa gugupnya dia.

“Lama tidak bertemu, Jung SooYoo”

Di dalam mulutnya, SooYoo sudah menggigit bibir bagian dalam. Perlahan SooYoo melengkungkan bibirnya. Mengeluarkan suara seraknya. Ia hampir menangis.

“Ya, lama tidak bertemu..”

ChanYeol ikut tersenyum. Dengan keberanian tinggi ia melayangkan ajakkan.

Seolah tidak ingin bertemu dengan SooYoo hanya sebentar, ChanYeol membawanya ke sebuah restoran keluarga. Letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Dan alasan ChanYeol memilih restoran itu, sebab ada taman bermain anak di sana.

Jika kalian mengerti, ChanYeol ingin berduaan dengan SooYoo. Maksud terselubung yang begitu halus.

“Kau,, berubah”

ChanYeol tersenyum. Ia suka SooYoo yang berubah, lagi. Kembali menjadi seorang wanita yang berpakaian seperti wanita. Bukan pria. ChanYeol sangat menyukai itu. Meski rambut SooYoo tidak sepanjang saat sekolah dulu, yang penting tidak seperti laki-laki.

SooYoo hanya tersenyum sedikit miring. Sebenarnya Araya yang meminta. Tepatnya beberapa bulan sebelum ia jatuh sakit dan mengalami koma. Ia bilang ingin melihat SooYoo berambut panjang. Entah ini feeling Araya atau apa.

“Aku suka”

SooYoo mendengus dalam hati. Sikap frontal ChanYeol belum berubah dalam penilaian. Mudah mebgutarakan apa yang ia suka, dan mana yang tidak.

“Dennis. Dia,,” ChanYeol menggantung kalimatnya, untuk yang satu ini ia harus tanyakan perlahan. Ia tidak mau SooYoo marah dan pergi lagi.

“Tumbuh dengan baik” lanjutnya. “Waktu berjalan dengan cepat, ya?”

ChanYeol tertawa kecil dengan dipaksakan. Ia lega melihat SooYoo juga tertawa. Wanita itu menatap Dennis yang sedang bermain dari balik kaca jendela restoran.

“Ya,, waktu berjalan cepat..” tersenyum di akhir ucapannya.

Pandangan ChanYeol ikut teralih pada Dennis. Ia juga tersenyum saat menemukan beberapa fakta. Tawa Dennis sama persis dengannya. Sebenarnya itu pula yang selalu membuat SooYoo mengingat ChanYeol. Mereka hampir identik dengan beberapa dari SooYoo tercampur pada diri anak itu.

“Bagaimana kabarmu?” dengan agak cepat ChanYeol menatap SooYoo. Dengan tatapan halus di sana.

SooYoo balas menatap pria itu secara refleks, hingga bola mata mereka bertemu. SooYoo bisa melihat kedua iris cokelat gelap yang ia rindukan. Yang beberapa tahun lalu selalu ia nikmati.

“Aku, baik-baik saja” SooYoo menjawab seadanya. Ia mulai tegang dengan ChanYeol.

“Benarkah? Setelah aku pergi,, apa kau tetap baik-baik saja?”

Dada SooYoo seperti di tikam pisau tumpul berkali-kali. Menyakitkan dan tidak ada habis.

Setelah sekitar 3 tahun tidak bertemu, bukan ini yang ia harapkan. Jika ChanYeol kembali memberinya harapan palsu, lebih baik tidak usah.

“Sepertinya pertemuan ini salah,, maaf, aku harus pergi”

Kaki SooYoo sudah berdiri tegak meski terasa lemas. Ia ingin segera pergi dari masa lalunya.

Tangan ChanYeol dengan cepat menggenggam. Menarik SooYoo dan memaksanya untuk tinggal.

“Jangan pergi, kita harus bicara”

SooYoo berusaha menghempas tangan itu. Matanya sudah berkaca-kaca, ia hampir meledak. Belum selelsai dukanya dari Araya, kemudian ChanYeol -inti kesakitannya- justru kembali seolah mempertontonkan kisah lama.

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan! Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku harus melupakan segalanya? Aku sudah melupakan segalanya! Aku sudah melupakan masalah apapun yang terjadi dulu!” SooYoo menyentak. Sudah habis kesabarannya. Dia tidak ingin pertahanan yang bertahun-tahun ia bangun runtuh hari ini.

“Bahkan aku sudah melupakanmu” lanjutnya lirih. Dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Munafik saja dia. Jauh di lubuk hatinya, ChanYeol masih tersimpan apik dengan semua kenangan. Hanya saja tertutup rasa sakitnya dan kebahagiaannya dengan Araya.

“Kau benar” ChanYeol sedikit mendengus. “Maafkan aku,,”

Mata SooYoo terpejam perlahan. Perih itu datang lagi. Sentuhan ChanYeol di pergelangan tangannya, tatapan mata ChanYeol, juga suara ChanYeol. Membangkitkan segala kenangan yang pernah terjadi. Juga kesakitan yang ia derita.

“Tapi biarkan aku tahu,, siapa ayah Dennis?”

Mata SooYoo dengan cepat terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak. Bahkan ia gemetar.

“Apakah aku ayahnya?”

Perlahan tatapan SooYoo melembut. Ia melirik Dennis di luar sana. Bermain dengan teman sebayanya di area permainan. Memang tidak dapat dipungkiri, sebagian pada diri Dennis berasal dari ChanYeol. Beberapa sifatnya juga.

Sebuah nafas lembut SooYoo hembuskan dari bibirnya secara perlahan.

“Ya, kau ayahnya.”

Genggaman itu terlepas. Jadi benar semuanya. Ini insting seorang ayah. ChanYeol dari dulu sangat yakin Dennis adalah anaknya.

Tapi masalahnya, dia benar-benar merasa bersalah. Sejak awal sampai sekarang, ChanYeol memiliki banyak dosa. Pada SooYoo juga Dennis, anak mereka. Itu yang menghancurkan hati ChanYeol.

Pria itu membayangkan masa kehamilan SooYoo tanpanya. Saat SooYoo bersalin tanpanya. Saat Dennis pertama kali menghirup dunia, dan pertumbuhan anak itu. ChanYeol tidak ada di satu momen pun. ChanYeol merasa bersalah, bodoh, dan tidak berguna.

“Kapan kau hamil?” Pandangan ChanYeol kosong, menatap lurus ke meja. Matanya memerah. Dia hampir menangis meraung.

“Saat kau pergi, usia kandunganku sekitar tiga bulan”

Kini ChanYeol menatap SooYoo sendu. Ia kecewa. Harusnya SooYoo bilang padanya. Bukankah seharusnya SooYoo bilang dari awal kehamilannya?

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” Suara itu bergetar. Dan getarannya merembet ke hati SooYoo.

“Saat aku ingin memberitahumu, EunJung datang ke apartemen. Jadi kupikir itu akan percuma, kau miliknya, aku tidak ingin menjadi egois, merebutmu darinya dengan kehamilanku, terlebih setelah aku tahu EunJung juga sedang hamil besar”

ChanYeol menarik gadis itu ke pelukannya. Mengacuhkan para karyawan restoran yang melihat. Beruntung hanya ada satu keluarga lagi di ujung ruangan, dan nampaknya mereka tidak melihat.

Air mata menetes ke bahu SooYoo. Itu milik ChanYeol. Ia tidak menangis hebat, hanya meneteskan sedikit air mata. Rasanya sesak mendengar penjelasan SooYoo. Gadis itu terlalu berkorban banyak. Dan ChanYeol terlalu banyak menyakiti. Dia merasa dirinya jahat. Laki-laki brengsek yang tidak tahu diri.

Lengan kekarnya terus mengerat pada tubuh SooYoo. Membawa SooYoo lebih dalam pada dirinya. Sesekali bibirnya bergerak untuk mengucap ‘maaf’.

-B&S-

Atas permintaan ChanYeol, dia mengantar SooYoo dan Dennis pulang. Menelepon salah seorang pesuruhnya untuk membawa pulang mobilnya. Mereka menggunakan mobil SooYoo.

ChanYeol ingin mengajak bermain Dennis terlebih dulu. SooYoo mengenalkan ChanYeol sebagai teman lamanya, jadi Dennis tetap memanggil ChanYeol dengan ‘paman’.

Seharian ini ChanYeol ingin sepenuhnya bersama Dennis. Ingin memanjakan anak itu meski Dennis bukan anak manja. Membelikan Dennis apapun dan membawa Dennis ke tempat yang indah.

Mereka menjadi keluarga untuk hari itu. Meski tetap menyimpan fakta bahwa ChanYeol adalah ayah Dennis. Butuh waktu untuk mengatakan yang sebenarnya pada anak itu, harus secara perlahan.

SooYoo bahagia melihat Dennis bahagia. Anak itu dapat merasakan sosok ayah yang selama ini belum pernah dia miliki.

Hingga matahari sudah lama berganti posisi dengan bulan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tentu saja Dennis sudah terlelap. Ia lelah dan bahagia, semua menjadi satu. Bahkan demamnya sudah tidak ia rasa.

ChanYeol meletakkan Dennis di ranjangnya. Mengecup kening anak itu sebelum meninggalkannya. Berbisik permintaan maaf dan ungkapan rasa sayang pada anak itu.

SooYoo berdiri di ambang pintu. Tubuhnya bersandar pada kusen pintu kamar. Hatinya bergemuruh melihat pemandangan itu. Ia senang melihat Dennis bertemu ayahnya, meski anak itu tidak tahu.

Ia sedikit tersenyum saat ChanYeol tersenyum padanya.

Keduanya berjalan di tengah halaman rumah SooYoo. Menyusuri jalan setapak untuk menuju pagar. Supir ChanYeol tadi menelepon, dia bilang sudah sampai di depan rumah SooYoo. ChanYeol sebelumnya yang meminta dijemput.

Kini keduanya berada di depan pagar. Mereka berhenti dan terdiam. Tidak ada yang bicara maupun membuat gerakan yang berarti.

ChanYeol resah. Ia berbalik menghadap SooYoo.

“Soo”

Oh! Sialnya SooYoo yang meleleh mendengar suara itu. Ia merindukan ChanYeol yang memanggilnya seperti itu. Juga tatapan ChanYeol yang selalu saja bertemu dengannya.

“Apa aku masih ada di hatimu?”

Iris SooYoo bergerak perlahan secara acak. Menghindari mata ChanYeol yang seolah menyihirnya.

Apakah ChanYeol masih ada di hatinya?

Di dasar, iya. ChanYeol masih di sana. Selalu ada di sana. Tapi untung mengungkapkan, SooYoo tidak bisa. Masih ada EunJung dan anaknya yang mengganjal hati SooYoo.

“Aku tidak mungkin memikirkan suami orang”

Wanita itu tersenyum masam. Ia menunduk, tidak berani menunjukkan wajah pilunya.

“Aku bukan suami orang lagi”

Pengakuan ChanYeol menghentikan segala SooYoo. Jalan pikiran, detak jantung, hembusan nafas, bahkan rasanya waktu ikut berhenti.

“Aku sudah lama bercerai dengan EunJung, anak yang dia kandung bukan anakku”

SooYoo meneteskan air mata. Ada kelegaan yang mendorong air mata itu keluar. ChanYeol sudah tak beristri. Dan harusnya dari awal EunJung mengaku anak itu bukan anaknya, agar semua tidak serumit ini. Namun, inilah namanya takdir.

“Aku tidak tahu harus bilang apa” SooYoo mendengus geli di akhir. Ia membeku di sini.

ChanYeol ikut tersenyum. Ia mendekat.

“Soo, apakah kau masih milik Araya?”

SooYoo mendadak sendu. Ia tersenyum miris.

“Araya,, dia sudah pergi” SooYoo sudah kuat. Ia sudah iklas dengan kepergian Araya.

“Kankernya sudah terlalu parah”

Tenggorokan ChanYeol tercekat. Selama ini mereka berpisah, mereka menjalani kehidupan dengan pasangan masing-masing. ChanYeol pikir ia sudah tidak berjodoh lagi dengan SooYoo. Tapi Tuhan berkehendak lain. Mempertemukan mereka dengan cara memisahkan mereka dengan pasangan masing-masing. Tentu dengan cara yang mengejutkan.

“Aku,, turut berduka”

SooYoo mengangguk sekali dengan pelan.

Hembusan angin malam di musim dingin membuat SooYoo refleks memeluk tubuh. ChanYeol menyadari itu.

“Masuklah, di sini dingin”

Sekali lagi SooYoo mengangguk.

“Kalau begitu,, hati-hati”

ChanYeol tersenyum tipis. Ada rona kemerahan di pipi SooYoo yang mungkin disadari wanita itu. Buktinya ia menunduk. SooYoo berbalik, ia hampir menyentuh pagar rumahnya.

“Soo?” SooYoo berbalik sesuai panggilan ChanYeol. Pria itu berlari kecil ke arahnya.

“Kau masih, dan selalu ada di hatiku” bisiknya tepat di telinga SooYoo. Bibirnya dengan kurang ajar memberi kecupan kecil di kening SooYoo. Untung hanya kening.

“Terima kasih sudah melahirkan penerusku” sekali lagi berbisik di depan wajah SooYoo. Wanita itu membeku. Ia hanya mengangguk kaku tanpa ekspresi.

“Masuklah,,”

Itu perintah terakhir. SooYoo segera berbalik dan dengan cepat menghilang di balik pagar. Sudah lama jantungnya tidak bergemuruh seramai ini. Ini lebih ramai dari bersama Araya.

Tangannya terangkat untuk menangkup kedua pipinya. Rasa hangat itu menjalar di seluruh tubuhnya. Terutama wajah dan dadanya.

-B&S-

Mentari pagi sudah bersinar terang. Sudah waktunya Dennis bangun dan berangkat sekolah. SooYoo bangun lebih awal, ia membuka pintu kecil untuk menghubung kamarnya dan kamar anaknya.

SooYoo duduk di samping ranjang Dennis, ia sudah rapi dengan pakaian kantor. Anaknya masih tertidur pulas. Bergelung di bawah selimut tebal. Tangan SooYoo tergerak untuk sekedar mengecek suhu badan. Dennis sudah sembuh dari demamnya. Entah ini obat dari Dokter Oh yang mujarab, atau karena Dennis sangat senang kemarin dengan ChanYeol.

Tubuh SooYoo mendekat pada wajah Dennis. Mengagumi betapa mirip ChanYeol dan Dennis meski ada campuran SooYoo di sana. Itu membuahkan senyuman di bibir SooYoo. Wajah Dennis tidak bisa menipu, dia memang anak ChanYeol dan SooYoo.

SooYoo mendaratkan bibirnya di kening Dennis.

“Selamat pagi, jagoan ibu”

Ia berbisik riang. Tersenyum saat melihat Dennis menggeliat kecil dan matanya mengerjap sesekali.

“Ibu!” Dennis memeluk SooYoo. Ia terlihat senang sekali.

“Bu,, semalam aku mimpi” alis SooYoo terangkat. Tandanya ia ingin mendengar lebih tentang mimpi anaknya.

“Aku bermimpi, semalam aku digendong ayah ke sini, lalu ayah mencium pipi dan keningku, ayah juga meminta maaf, dan ayah bilang kalau ayah menyayangiku”

SooYoo membeku di tempatnya. Semua yang diceritakan Dennis adalah apa yang ChanYeol lakukan pada anak itu.

“Kau melihat ayah?”

Dennis mengangguk lucu. “Aku tidak lihat wajahnya, tapi ayah bertubuh tinggi”

SooYoo tersenyum tipis.

“Ibu, boleh Dennis minta Ayah?”

Nafas SooYoo tercekat di tenggorokannya. Ia segera menetralisir keterkejutannya dan kembali tersenyum.

“Dennis mau ayah yang seperti apa?”

Anak itu berpikir. Kening dan alisnya mengerut dan bibirnya mengerucut.

“Dokter Oh baik, dia punya banyak mainan”

Dennis belum selesai, ia masih berpikir.

“Tapi aku lebih suka Paman ChanYeol”

SooYoo tersenyum. Batinnya berbicara, Dennis memang harus menyukai ayahnya sendiri.

“Kenapa kau menyukainya?”

“Rasanya menyenangkan bersama Paman ChanYeol, dia sangat baik dan menyenangkan! Dan wajah kami mirip! Aku sangat menyukainya! Ibu harus menikah dengan Paman ChanYeol!”

Anak itu berucap riang. Ia terlihat sangat menyukai ChanYeol. Bahkan kemarin, ia selalu menempel pada ChanYeol. Bahkan makan pun disuapi ChanYeol.

“Kau ingin Paman ChanYeol menjadi Ayahmu?”

Dennis mengangguk cepat. Mungkin ini saatnya untuk mengatakan yang sebenarnya tentang ChanYeol. Dennis juga harus tahu Ayahnya.

“Kalau ternyata Paman ChanYeol adalah ayahmu, bagaimana?”

“Apa?” Dennis sangat terkejut. Mulutnya terbuka lebar untuk beberapa saat. Kemudian ia mengatupkannya. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Anak itu berpikir lagi.

“Dennis, maafkan-“

“Tentu aku senang!” Dengan cepat anak itu memotong. Ia segera memeluk ibunya.

SooYoo dapat merasakan lega yang luar biasa. ChanYeol pasti akan senang jika Dennis tahu tentangnya.

Sudah saatnya semua menjadi lebih baik. Semua kembali ke tempat masing-masing.

Siang ini ChanYeol mengajak SooYoo untuk menjemput Dennis bersama. Kebetulan, SooYoo juga baru saja menyelesaikan rapatnya.

Masih ada rasa canggung bagi SooYoo. Ia hanya mampu menatap luar jendela dan tidak bergerak sama sekali. Dia juga tidak sadar kalau ChanYeol meliriknya melalui ekor mata dan sesekali tersenyum.

“Kau sudah makan siang?”

SooYoo menggeleng setelah menghadap ChanYeol. Tepat di saat ChanYeol menghentikan mobilnya, tatapan mereka kembali bertemu.

“Soo” SooYoo benar-benar mengutuk bagaimana ChanYeol memanggilnya. Selalu terkesan lembut dan penuh cinta. Belum lagi mata yang dalam dan wajah tampan. Tidak baik untuk jantung SooYoo, sumpah!

“jangan pernah berdandan seperti laki-laki lagi”

SooYoo tertawa kecil. Wajah ChanYeol terlihat sangat serius, tapi itu justru lucu. Mengingat bagaimana bedanya dandanan SooYoo yang dulu dan sekarang.

Tangan ChanYeol yang menangkup sebelah pipi SooYoo membuat wanita itu terdiam. Perlahan ChanYeol mengusap pipi putih SooYoo.

“Kau cantik, bukan tampan,, biar aku saja yang tampan, kau jangan”

Lagi-lagi SooYoo tertawa. ChanYeol sama saja memuji dirinya sendiri. Tapi memang SooYoo akui. Dari dulu sampai sekarang, kadar ketampanan ChanYeol tidak pernah menurun, bahkan meningkat. Ia jauh lebih maskulin sekarang. Oh! Sial.

“Kau menyebut dirimu tampan?”

“Ya, tentu saja. Siapa yang tidak terpikat ketampanan Park ChanYeol?”

Ouh! SooYoo benar-benar tertawa sekarang. Sampai dia lupa, kapan terakhir kalinya tertawa sampai seperti ini.

“Tapi walaupun banyak wanita yang terpikat padaku, tetap saja kau yang paling bersinar di antara mereka”

SooYoo yang tadinya tertawa, kini diam membisu. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.

“Apalagi dengan pipi memerah seperti itu, kau tambah-tambah cantik!”

ChanYeol sialan! SooYoo menjerit dalam hatinya. Bertahun-tahun berpisah membuat ChanYeol menjadi sangat chessy. Itu menyebalkan. Bagaimana kalau SooYoo tidak sanggup menahan kata-kata manis itu. Ia bisa terkena serangan jantung.

ChanYeol melepas seatbelt-nya. Mendekat ke arah SooYoo dan mengangkat dagu wanita itu.

“Kau menyihirku dengan apa? Kenapa aku semakin mencintaimu, bahkan walaupun kita lama tidak bertemu”

Wajah SooYoo dengan cepat berpaling. Ia sendiri masih takut. Sudah lamania tidak bertemu ChanYeol, lagipula masih ada trauma kehilangan di hatinya.

Tangannya membuka pintu mobil, namun dengan cepat juga ChanYeol menahannya. Kembali menutup pintu mobil. Sepertinya ChanYeol mulai serius sekarang.

“Ada apa denganmu?”

SooYoo mengigit bibirnya. Kepalanya menggeleng kecil.

“Tidak ada”

ChanYeol berdecak dan kembali menahan tangan SooYoo dengan sedikit keras.

“aku tahu pasti ada sesuatu, kau masih tidak percaya perasaanku?”

“Aku tidak tahu” kepala SooYoo menunduk dalam.

Tangan ChanYeol terulur untuk menangkup dagu SooYoo. Membiarkan mata mereka bertemu untuk beberapa waktu.

“Kau benar-benar sudah melupakan semuanya?”

SooYoo tidak menjawab. Ia terlalu kalut dalam pikirannya yang kacau. Tidak. Ia tidak lupa. Sama sekali tidak lupa pada ChanYeol dan semua. Ia hanya bingung.

SooYoo bingung bagaimana cara mendefinisikan semuanya. Terutama perasaannya. Apa masih pantas baginya kembali bersama ChanYeol, seperti apa yang semua orang inginkan, termasuk Araya. Ia hanya merasa tidak pantas dan terlalu takut.

Meski semua hanya kesalahan. Tapi tetap, ia takut ChanYeol pergi lagi. Luka yang dulu ChanYeol torehkan begitu dalam hingga menyebabkan trauma berat.

Tanpa sadar air mata menetes perlahan di kedua maniknya. Mata SooYoo masih menatap ChanYeol dengan pilu. Menyebabkan nyeri di hati ChanYeol.

“Astaga, Soo. Aku menyakitimu terlalu dalam”

Pria itu berbisik lirih dan memeluk SooYoo. Ia juga meneteskan air mata. Membiarkan tetesan itu jatuh di atas kepala SooYoo.

“Aku jahat, ya? Aku menyakitimu, Soo”

SooYoo tidak tahu harus berkata apa. ChanYeol baik. Astaga! Dia sangat baik. Tapi masa lalu yang kejam. SooYoo juga tahu itu. ChanYeol juga dilukai masa lalu, bukan hanya dirinya.

“Chan,,”

Kepalanya mendongak sedikit. Lihat! Sudah berapa lama ia tidak memanggil sebutan itu. SooYoo tersenyum sendiri. Jemarinya mengusap jejak air mata di pipi ChanYeol dengan lembut.

“Kenapa kau menangis, sih?” SooYoo terkekeh meski matanya masih berkaca-kaca.

“Lihat? Sudah berapa lama aku tidak menyentuhmu begini, hm? Kau tetap tampan meskipun kau menua”

ChanYeol tidak bisa tertawa mendengar ocehan SooYoo. Sebelum semua kembali, ChanYeol tidak mampu bangkit dan berdiri.

SooYoo tersenyum sangat tulus. Tidak pernah ia seperti ini. Mungkin pernah, itu sekali. Saat pertama kali melihat Dennis.

Perlahan jarak di antara keduanya terhapus. ChanYeol memejamkan mata dan dapat merasakan sapuan halus bibir SooYoo di bibirnya. Masih sama. Manis, lembut, dan hangat. Semua bercampur. Sungguh obat yang ampuh bagi ChanYeol. Bagi semua yang ia derita selama ini.

SooYoo memundurkan kepalanya. Membuka mata secara perlahan. Ia terkekeh melihat betapa banyaknya noda lipstik di tepi bibir ChanYeol. Jemarinya membersihkan semua noda itu.

ChanYeol menangkap kedua tangan itu. Membawanya kedepan bibir. Memberikan kecupan singkat penuh kasih sayang.

“Ayo mulai semua dari awal,, mulai dari aku yang mencintaimu, dan begitu juga sebaliknya”

Kepala SooYoo mengangguk pasti. Ia berseru pelan menyetujuinya. Merentangkan tangan dan mengaitkannya di leher ChanYeol.

“Aku mencintaimu, Park ChanYeol”

“Aku lebih mencintaimu, Jung SooYoo”

ChanYeol melepas pelukan keduanya membawa SooYoo keluar dari mobil.

Sudah waktunya Dennis Jung -oh, mari kita ganti dengan Dennis Park- untuk pulang bersama Ayah dan Ibunya. Tuan Park ChanYeol, dan tentu saja Nyonya Park SooYoo.

Taman kanak-kanak dalam sekejap terasa berbeda. Para ibu berbisik genit dan iri. Juga ada kekaguman di sana yang mendominasi. Mereka tidak pernah tahu bahwa Dennis adalah anak konglomerat Asia-Eropa.

ChanYeol dan SooYoo bergandeng. Tepat seperti pasangan suami-istri yang begitu serasi.

Wali kelas tersenyum sebelum pamit, tadi wanita itu mengajak bicara ChanYeol dan SooYoo, sekedar membicarakan perkembangan Dennis di sekolah.

“Ibu!”

Suara melengking itu membuat SooYoo menoleh. Wanita itu tersenyum melihat Dennis yang berlari ke arahnya. Sebuah pelukan SooYoo terima. Bahkan tubuhnya hampir terhuyung kebelakang jika saja ChanYeol tidak menahan.

“Hai, jagoan!” ChanYeol memberikan senyum terbaiknya. Hingga secara mendadak ChanYeol juga mendapat sebuah pelukan.

“Ayah!”

ChanYeol benar-benar merasakan indahnya dunia. Telinganya benar-benar harus ia pastikan dengan baik. Apa ia tidak salah dengar? Dennis memanggilnya ayah.

“D-dennis-kau?”

SooYoo mengangguk dan tersenyum saat ChanYeol memberi tatapan itu padanya. Hingga ChanYeol benar-benar percaya, semua berbanding lebih baik sekarang. Semua berjalan dengan sempurna.

Termasuk pernikahannya dengan SooYoo. Tidak ada lagi tentangan dari siapapun. Tidak ada lagi perpisahan dan ketidak normalan. Semua baik-baik saja.
Bahkan lebih dari itu, semua sempurna.

End

Duhh~~ apa ini? Panjang cekaleh kkk~
Endingnya gadanta banget yak? Wkwk

Well, itu sequel yang terakhir ya. Kayanya endingnya ‘begitu doang’ banget wkwk.

Dan Arin pernah janji buat ceritaan “The Story Behind ‘Sugar’ ” kan?

Ok, so this is the story,

Sugar terinspirasi dari real life. Jadi semua tokoh di sana ada di real life. *Arin jelasin dgn nama tokoh aja ya*

Di real life, si ‘SooYoo’ ini memang punya background keluarga yg buruk. Kaya KDRT or kinda. Dan memang karna itu dia jadi frustasi dan bingung. Entah kenapa dia tiba” naksir sama si ‘Araya’ teman sekolahnya ini. Tapi itu setelah dia putus sama JongIn

Tapi kalo di real life si Araya sama SooYoo ga pacaran, cuman si SooYoo yang suka sama Araya.

Nah di sisi lain, di tempat les si SooYoo punya guru yg ngejar” dia gitu (si ChabYeol). Tapi SooYoo nya gamau.

Cerita Sugar ini sih Arin bikin dari imajinasi Arin tentang kisahnya SooYoo. Gimana kalo SooYoo jadian sama Araya, dan gimana juga kalo diwaktu yg sama si ChanYeol ini jadiin SooYoo Sugar Baby nya.

Gitu aja sih sebenrnya.

Tapi endingnya ga kaya di cerita Sugar itu ko. Si SooYoo ga jadi sama dua-duanya (Araya/ChanYeol) dia milih jalan untuk nyoba sembuhin diri. Dia bilang dia gamau si Araya dosa gitu dh. Dan dia juga emang pengen balik jadi normal lagi.

Well, guys, please banget don’t judge yaa.

Thanks banget buat yg udah ikutin cerita yg gadanta ini kkk~

Sampai ketemu di cerita selanjutnya. See ya!

XOXO,

Arin Jung

Iklan

13 respons untuk ‘Bitter & Sweet (second sequel of ‘Sugar’)

  1. zhafi

    aaaaaaaaaa authorrrrr saranghhhheyoooooooooo…… Aku yanggg pertamaaaaa bacaaaa dann komentarrrr,,,,

    Wahhhhh rasanyaaaa senengggg bangetttt thorrr akhirnyaaa happy endddd,,,,,,my yeolliieeeee sooyoooo waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Lopeeee yourrr thorrrrrrr,,, buat ff lagi donggg castnyaaa chanii yaaaaa

    Aku jga lagi buattt,, tapiga rutinnnn wkwkkwkwkwkwkwk.)

    Suka

  2. yollanda

    Ahhhhh akhirnya ada sequel lanjutan ,yg sequel kmarin nggantung ,makasihh kak arinn udh dibikinin second sequel bagus bgt jdi gak penasaran sooyoo udh bhagia aaaaaaaaa greget ihhh ,sosweet bgt ,kak ayokk bikin ff lagi yg lbih greget dri pd ini sumpah ini kebis (keren abis hahahahaha(?)) gk bohong aku tunggu ff selanjutnya kak arin sarangheyo muachhhhh

    Suka

  3. reisya soo

    swerrrrr aku terharu banget,,,,senang rasanya,,, semua bahagia,,,,tp gimna dokter oh sehun,,,,?
    ini ff keren cui,,,,,,,aku suka bnget dan sangat berkesan!!!! **
    ***selamat ya Arin,,akhirnya bener bener end,, dan trimakasih dh berikan kisah yg sangat menarik,,,
    d tunggu karya lainya lho!!

    Suka

  4. Suwer ini ff bikin senyum sendiri bikin ngefly sendiri tau!! Apalagi author nya sebaya sama aku, hehehe gila keren banget! Ajarin aku dong biar bisa bikin ff yang keren kaya gini!

    Suka

  5. ayutiaramadani

    huwaaa ini keren banget >.< aku suka ceritanya dari sugar sampe saquel terkhir ini :3 endingnya jg seperti yg diharapkan =)
    sebenarnya pengen komen dari yg edisi sugar, tp akhirnya memutuskan komen di saquel terkhirnya aja biar merangkap semua(?)

    intinya ini ff keren 🙂

    Suka

  6. Aaaaaaaaaaaaa aku seneng pke bgt, kegirangan sendiri, kejang” d kamar sendiri saking seneng.a hehehe, eonni daebakk, ohh ternyata diambil dri kisah nyata walau sedikit. Tpi aku mau ngucapin Daebakk sekali lgi k eonni yg udh bikin aku jingkrak” seneng n teriak” bahagia.
    Fighting terus untuk eonni, supaya bikin crta yg lain hehe, di tunggu ff lain.a ya eon

    Suka

  7. Geunyang WOW!
    sudah kehabisan kata kata….
    Syukurlah…..
    Ini Happy ending. ….
    Wuhu….
    Congrats untuk keluarga Park 😉😉😉

    P.S
    Aku setuju saha Soo Yoo .
    “Chanyeol Sialan!* 😂😂😂😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s