CheonSa GaTeon Neo (Chapter 2)

Standar
Cast : Park ChanYeol; Arin Wu; etc. | Genre : Sad Romance, Hurt, Family. | Rating : 15+ | Author : Arin Jung/Arin99
THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY.

Langit di luar gedung sudah gelap. Udara terasa lebih dingin dari tadi sore. Gedung SM juga sudah sepi, tersisa beberapa karyawan yang masih ada urusan.

Aku menutup rapat pintu studio musik. Member lain sudah menunggu di lobby. Lorong begitu sepi hingga bahkan aku bisa mendengar suara langkahku bergema. Aku berhenti di depan lift, mengambil handphone dari saku celana jeans.

“Sendirian saja.” Kepalaku menoleh mendengar suara itu, dengan mataku yang sedikit membulat.

Di sisi kananku Arin berdiri, berjarak beberapa langkah. Dia tersenyum dan aku tertawa kecil, sedikit mengangguk.

Suara denting lift membuat tatapanku padanha terputus. Aku mempersilahkannya masuk lebih dulu, dan seperti yang kuduga, kami berdua saja di dalam lift.

“Apa yang kau lakukan sampai malam begini?” Aku membuka pembicaraan.

Kulihat Arin mengangkat kedua alisnya sebentar. “Habis menghadap bos.” Ujarnya jenaka.

Aku mengangguk, kemudian suasana kembali hening.

“Apa senior sehat?” “Ah, tolong jangan terlalu formal denganku, panggil saja oppa, aku lebih suka.”

“Baiklah, Oppa.” Dia tersenyum tipis.

“Sehat? Maksudmu?”

“Kemarin, oppa di backstage..” ucapnya menggantung.

“Ah~ di backstage itu? Tidak apa, hanya kelelahan. Terima kasih sudah mau menemani.” Aku tersenyum lebih lebar di akhir dan menatap masuk matanya.

Rasanya ringtone nya berbunyi, aku menoleh padanya. Itu musik band kesukaanku. Super massive black hole. Arin mengangkat panggilan itu, singkat dan dia kembali menyimpan handphonenya.

“Kau suka Muse?” Dia menoleh dengan mata terbuka lebar.

“Ah, ya. Aku suka mereka. Kau juga?”

Aku mengangguk dan tersenyum. “Mau menonton konsernya?”

“Mau, tapi tidak ada teman. Memberku tidak ada yang suka muse.”

“Kalau begitu kita nonton bersama.” Ucapku, kemudian memberikan senyum tertampan milikku.

“Benarkah?” Kulihat dia antusias, dan aku kembali mengangguk.

“Sudah pesan tiket?” Arin menggeleng. “Kalau begitu biar aku pesan sekalian ya.”

Gadis itu mengangguk. “kirimkan saja rekeningmu, oppa. Biar kukirim uangnya.”

“Sudahlah, simpan saja uangmu untuk belanja.”

“Tolong jangan begitu, aku tidak enak.”

“Tidak enak apanya? Sudahlah, aku ingin mentraktirmu.” Aku mengerlingkan sebelah mataku. Dia tertawa kecil lalu mengangguk. Pintu lift terbuka tanda kami sampai di lobby.

“Baiklah. Terima kasih banyak, oppa. Sampai jumpa”

“Sampai jumpa.” Aku mengangkat tangan kananku tampa dilambaikan. Dia berjalan lebih dulu setelah pamit sebelumnya.

Jadi tidak sabar konser. Pasti akan sangat menyenangkan nanti.

-CheonSa GaTeon Neo-

Sebulan telah berlalu dan rasa exciting yang kurasakan berada pada puncaknya. Dengan sedan hitam managerku, kami -aku dan Arin- pergi bersama. Kami berangkat dari gedung SM melalui pintu belakang. Menghindari wartawan yang bisa saja mendapati kami pergi berduaan.

Di sampingku dia duduk dalam diam. Sedikit tersenyum dan sesekali melirik handphonenya yang bergetar kecil. Aku lebih tersenyum. Detak jantungku berada pada puncak kecepatannya. Ini hari yang paling membahagiakan di hidupku.

Kami sampai dan aku memarkirkan mobil di tempat teraman. Bersiap keluar dengan topi hitam dan jaket bertuliskan ‘Muse’ yang sudah kubeli sebelumnya. Arin melakukan hal yang sama, menggunakan topi baseball berwarna hitam. Malam ini dingin dan dia hanya menggunakan kaus hitam kebesaran dan ripped jeans. Itu tidak akan membantu sama sekali, meski aku tahu dia suka udara dingin, tapi bukan berarti tubuhnya mampu bertahan.

Aku melampirkan hoodie abu-abuku pada tubuhnya. Dia tenggelam di sana, membuatku sedikit tertawa. Tentu saja, dia 163 dan aku 185. Perbedaan yang sangat jauh membuatnya jauh lebih mungil dariku. Arin tersenyum lebar, kembudian menggunakan topi hoodie di atas topi hitamnya. Membuatnya semakin seperti liliput tenggelam. Dia tersenyum seperti anak kecil.

“Astaga, manis sekali.” Aku mencubit pelan pipi gembulnya. Dia tertawa kecil dan berlari kecil ke depanku. Aku menyukai dia, tingkahnya yang menggemaskan membuatku bahagia di sisinya.

“Oppa kita harus berfoto!” Dia melompat kecil di hadapanku. Aku mengangguk setuju, kemudian dia mengeluarkan Iphonenya. Aku berdiri disampingnya, merangkul tubuh kecilnya dan membuat V sign.

“Kirimkan padaku, oke?”

“Tidak mau!” Dia mengejek kemudian, dan lalu tertawa. Aku pura-pura merengut kesal, lalu ikut tertawa. Arin sedikit berlari menjauhiku, hanya beberapa langkah.

Oppa, say kimchi!”

Dan aku kembali mengeluarkan V sign, menunjuk pada tulisan ‘Muse’ di jaketku. Dia kembali mendekat, kulihat dia sibuk mengirim foto pada akun line ku.

“Haruskan ku post foto ini?” Aku menunjukkan foto pertama kami, foto kami berdua tadi. Dia merengut.

“Tidak bisa, nanti aku dihujat fans mu.” bibirnya maju beberapa senti, aku tertawa geli.

“Sayang sekali nona, aku sudah mempost-nya.”

Kemudian kedua matanya membulat lucu. Arin mengangkat handphonenya, kurasa untuk mengecek akun ku. Dia menjerit sebal kemudian.

“Kau berbohong!” Aku kembali tertawa. San sungguh malam ini terlalu indah bahkan untuk kulewatkan dengan cepat. Kalau boleh, setiap malam Muse konser di Seoul agar aku bisa begini terus dengan Arin.

-CheonSa GaTeon Neo-

Seperti konser pada umumnya, tempat ini penuh orang. Dan di sampingku Arin bersusah payah berjingjit, bahkan sesekali melompat. Kami tidak jauh dari stage, hanya saja beberapa orang di depannya lebih tinggi. Aku tertawa melihatnya.

Arin terkejut saat aku memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuhnya.

Oppa, apa yang kau lakukan?” Dia bertanya ngeri. Aku meletakkan dagu pada bahunya.

“Membantumu, tentu saja.” Jawabku singkat.

Tidak, aku tidak mampu. Aku ingin dia menjadi milikku. Dengan sebuah ikatan yang nyata, aku tidak mau menggantung begini. Aku takut kalau-kalau ada pria lain merebutnya lebih dulu.

Kurasakan jantungnya yang berdegub kencang di pelukanku, sama sepertiku. Aku tersenyum simpul. Meletakannya kembali, membalik tubuhnya, dan kembali merengkuhnya.

Mataku melirik ke atas panggung, momen yang tepat dan lagu yang tepat.

I love you baby, and if it’s quite alright
I need you baby to warm the lonely nights
I love you baby, trust in me when I say
oh pretty baby, don’t bring me down, I pray
oh pretty baby, now that I’ve found you, stay
and let me love you, baby, let me love you…

Dan entah bagaimana bisa kemungkinan ini terjadi, kali ini Muse membawakan Can’t Take My Eyes Off You versi acoustiq.

Kembali pada Arin, matanya berbinar, ditambah mata cokelat gelapnya yang terkena sinar lampu membuatnya lebih indah. Wajahnya terbingkai topi dan hoodieku. Tanganku menangkupnya, mengelus lembut di sana. Cintaku, malaikat indahku.

I love you baby, and if it’s quite alright
I need you baby to warm the lonely nights
I love you baby, trust in me when I say
oh pretty baby, don’t bring me down, I pray
oh pretty baby, now that I’ve found you, stay
and let me love you, baby, let me love you…

“Aku mencintaimu.” Dengan lembut kalimat itu terucap dari bibirku, beserta desiran menyenangkan di dada dan perutku. Wajahku turun pada keningnya. Mengecup ringan dan membekas di sana. Kurasakan dia memejam, dan tangannya terangkat membalas pelukku.

Be mine, would you?”

To Be Continued

Satu pemikiran pada “CheonSa GaTeon Neo (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s