LOTTO – Chapter I

Standar

lotto

LOTTO

¤

Choi’s

¤

Park Chanyeol (EXO) – Park Minah (OC)

¤

OCs – EXO Members – Others

¤

Romance – Fantasy – Angst

¤

Chaptered

¤

PG-17 (Violence Content)

¤

The stories and OCs are purely mine. EXO members belong to EXO-L

¤

What can I do? I just hit the Lotto.

Previous chapter

Teaser

Poster Cr. Alkindi @Indo Fanfiction Arts

¤ L O T T O ¤

“A…ap-apa, apa ini?”

Pria itu dapat merasakan darah di balik kulitnya berhenti mengalir. Tubuhnya seperti terkubur di dalam tembok yang terbuat dari semen, kaku dan menegang. Ia tak dapat lagi mengendalikan tubuhnya, bahkan kelopak matanya pun menolak untuk berkedip saat otak pria itu memerintahkannya. Satu-satunya yang masih dapat ia gerakkan adalah bola matanya yang kini gusar bergerak tidak beraturan. Pria itu mengerang merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya.

“Hapah…h-apa-hh yang k-kau lak-kukan padak-hmpp-”

Tak dapat menyelesaikan kalimatnya, mulut pria itu menutup dengan sendirinya, benar-benar di luar kendalinya. Ia terus bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Sang Pemenang lakukan kepada tubuhnya. Teknologi canggih apa lagi ini yang bahkan dapat mengendalikan tubuh orang lain tanpa melakukan kontak fisik sama sekali.

“Kau hanya boleh berbicara saat aku menyuruhmu untuk bicara.”

Kata Sang Pemenang.

“Argh!”

Pria yang berdiri tegak tak bisa bergerak di depan Sang Pemenang itu mendongakkan kepalanya. Jika di lihat secara langsung, memang tidak ada siapapun yang sedang memegang pria yang terus mengerang kesakitan itu. Tubuhnya telah dikendalikan, oleh Sang Pemenang.

Kepala pria itu menengadah ke atas kala ia merasakan rambutnya seperti di tarik sangat keras seakan ingin melepas paksa surai pria itu. Namun faktanya, tidak ada seorang pun yang sedang memegang ataupun menarik rambutnya.

“…dan jangan berpikir hendak menggunakan kekuatanmu untuk menyerangku, Lu.”

Sang Pemenang kini menyeringai.

Lu. Dalam hati pria itu bergelut dengan kebingungan. Bagaimana bisa Sang Pemenang tau bahwa Lu hendak menyerang Sang Pemenang dengan pikirannya yang mencoba menggerakkan vas bunga di atas meja. Tidak ada yang pernah dapat mengetahui Lu saat ia menggunakan kekuatannya yang tak kasat mata.

“Sekarang jawab pertanyanku.”

Sang Pemenang menyamankan posisi berdirinya, masih memandang lekat salah satu Pemainnya itu. Lu merasakan kepalanya bebas dari cengkeraman yang telah menyiksanya, ia bahkan kini dapat menggerakkan kepalanya. Hanya kepalanya. Tubuhnya yang berdiri tegap masih terasa kaku seperti mati rasa.

“Mengapa kau mengambil uang tanpa ijin?”

Sang Pemenang memulai dengan suara yang sangat halus. Seperti biasanya, dan selalu seperti itu.

“Ak-aku hanya m-meminjamnya.”

“Tanpa seijinku?”

Lu tercekat. Mulutnya kembali terbungkam, namun kali ini atas perintah otaknya sendiri. Ia tidak pernah menyangka bahwa Sang Pemenang benar-benar akan mempermasalahkan uang yang telah ia gunakan. Bahkan jumlahnya tidak seberapa, mengingat melimpahnya kekayaan harta yang dimiliki Sang Pemenang.

“Aku akan mengembalikannya. D-dua kali lipat. Tidak! Sepuluh kali lipat.”

Sang Pemenang kini menyunggingkan senyumannya. Lu secara tidak langsung sudah mengakui kesalahannya.

“Kau tidak harus mengambilnya tanpa ijin Lu. Jika kau memintanya, bahkan dengan senang hati aku akan memberikannya dengan percuma. Kau tau itu kan?”

Lu tidak menjawab. Ia bersalah.

“K-kumohon. Aku berjanji akan mengembalikannya.”

“Kami tidak butuh uangmu Lu.”

Sahut suara besar nan basah dari Pemain lain yang juga sedang mengerumuni Lu. Sang Pemenang dan para Pemain sedang mengepung Lu di kamar pria itu. Lu tertangkap kala pria itu sedang bersiap untuk melarikan diri.

“Aku hanya butuh kesetiaanmu.”

Sang Pemenang meneruskan.

“Kau telah berhianat Lu.”

Suara lain yang juga halus namun lebih keras dari suara Sang Pemenang kini menyahut.

“Kau tidak mempercayai Sang Pemenang.”

“Tidak. Tidak. Kumohon beri aku kesempatan.”

“Lu.”

Sang pemenang kini mendekatkan langkahnya kearah Lu, yang masih saja berdiri kaku.

“Kau bahkan melupakan bahwa aku tidak pernah mentolerir sebuah penghianatan, seberapapun nilainya.”

“Mhh…ma-maafkan aku.”

Kepala Lu mulai bergetar, ia memandang Sang Pemenang yang tengah melihatnya dengan wajah datar.

“Aku memaafkanmu Lu.”

Lengang. 

Ruangan itu benar-benar terasa kosong sesaat setelah Sang Pemenang mengatakan hal tersebut, padahal ada sembilan Pemain dan Sang Pemenang yang mengisi ruangan tersebut.

Kedua mata Lu mulai berkaca-kaca. Ia tidak tau harus percaya atau tidak terhadap ucapan Sang Pemenang tadi. Sang Pemenang memang seorang yang baik hati, sangat. Namun Sang Pemenang juga merupakan sosok yang sangat mengerikan, yang bahkan membakar bocah berumur sepuluh tahun karna membolos jam pelajaran di sekolah.

“Aku memaafkanmu.”

Sang Pemenang mengulangi perkataannya sekali lagi, meyakinkan Lu. Sang Pemenang kembali melangkah mundur menjauh dari Lu.

“Tapi kau harus membayar penghianatanmu.”

“AAARRRGGHH!”

Setelah Sang Pemenang menyelesaikan perkataannya, Lu berteriak sangat kencang memenuhi setiap sudut ruangan itu. Ia merasakan tubuhnya seperti terbakar, tersetrum, terhisap oleh sesuatu yang benar-benar menyakitkan. Padahal tidak ada seorangpun yang sedang menyerangnya saat ini. Lu masih berdiri di tempatanya dengan posisi yang sama pula. Tidak ada yang membakar, tidak ada yang menyengat, ataupun menghisapnya secara langsung.

“AAAAARRRRRGGGHHH!”

Lu berteriak sekencang perutnya dapat mengeluarkan suara. Tubuhnya benar-benar tersiksa. Ia merasa seperti di kuliti hidup-hidup, seperti daging tubuhnya di tarik-tarik, seperti tubuhnya meleleh kedalam magma.

Para Pemain lain yang menyaksikan pun benar-benar terbelalak dan bingung. Biasanya Sang Pemenang akan menyuruh Chanyeol untuk membakar seorang penghianat, atau akan menyuruh Jongdae untuk meledakkan kepala seorang penghianat dengan petir. Namun kali ini Sang Pemenang sendiri yang mengambil alih tidakan. Anehnya, Sang Pemenang bahkan tidak meggerakkan tubuhnya, hanya tangan kirinya yang kini terlihat mengepal di sisi tubuhnya.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Para Pemainpun tidak dapat mengetahui situasi ini. Bagaimana tubuh Lu secara perlahan mulai mengkerut, seakan daging dalam tubuh Lu hilang tanpa jejak. Secara perlahan pula, teriakkan Lu semakin terdengar samar-samar. Seiring seluruh daging dalam tubuh Lu menghilang seutuhnya, meninggalkan kulit yang sangat kering membungkus tulang yang kering pula. Benar-benar pemandangan yang sangat amat mengerikan.

Sampai Lu tidak lagi bergerak. Tulang keringnya jatuh berserakan di lantai. 

Lu telah di musnahkan. 

Sang Pemenang merenggangkan kepalan tangannya, menatap tulang-tulang Lu yang sudah tidak berbentuk tergeletak berserakan di lantai.

Sungguh di sayangkan. Lu adalah salah satu Pemain andalannya. Pemain yang dapat ia banggakan dalam bidang pembangunan. Tapi Sang Pemenang harus tetap melakukan tugasnya. Entah siapapun itu yang melanggar peraturannya, maka ia akan memberikan perlakuan istimewa itu kepada yang ia sebut penghianat.

“Apa itu tadi?”

Chanyeol bersuara. Pria tinggi itu baru saja melihat rekan kerjanya di bunuh di depan matanya. Atau pantaskah peristiwa ini di sebut pembunuhan? Karna tidak ada tersangka yang secara langsung menyerang ataupun membunuh korbannya. Tidak secara kasat mata.

“Sejak kapan kau dapat mengendalikan tubuh?”

Tambah Chanyeol

“Sembilan puluh satu persen darah adalah air. Aku seorang pengendali air.”

“Jadi kau dapat mengendalikan darah? Di dalam tubuh?”

Sang Pemenang mengangguk.

Chanyeol tersenyum meremehkan, ia tidak percaya dengan perkataan Sang Pemenang.

“Haruskah kau langsung membunuhnya? Tanpa ingin mengetahui apa alasannya?”

“Chanyeol…”

Sang Pemenang kini berjalan menghampiri Chanyeol yang berdiri di samping tulang beluang Lu. Chanyeol memperhatikan tulang-tulang kering itu. Bahkan tidak ada setitikpun darah yang menetes di lantai.

“Sudah berapa kali aku mengajarimu untuk membunuh mereka yang berhianat? Lima ratus? Atau mungkin lebih dari seribu manusia sudah kau bunuh. Mengapa kau masih ragu? Atau mungkin karna kali ini adalah rekanmu sendiri yang berhianat?”

Chanyeol merasakan kepalanya secara paksa ditarik untuk menatap Sang Pemenang yang berdiri di hadapannya, tanpa Sang Pemenang memegang Chanyeol sama sekali. Saat itu juga Chanyeol dapat mempercayai bahwa Sang Pemenang benar-benar dapat menggerakkan tubuh seseorang dengan mengendalikan darah mereka.

“Maafkan aku.”

Jawab Chanyeol lirih. Sang Pemenang melepaskan kendalinya pada kepala Chanyeol, tangannya beralih mengelus surai merah salah satu Pemain kebanggaannya itu.

“Kau tidak perlu minta maaf.”

Sang Pemenang menurunkan pandangannya ke arah tangan Chanyeol yang di balut perban. Sang Pemenang mengelus balutan perban itu.

“Mengapa kau menutupi tanganmu?”

“Aku membakarnya.”

Sang Pemenang melepaskan tawanya. Sangat lepas.

“Tapi tubuhmu memang mengeluarkan api, Chanyeol.”

“Aku juga tidak tahu. Tapi rasanya tanganku benar-benar seperti terbakar. Terbakar oleh apiku sendiri.”

“Baiklah. Mungkin itu memang terjadi. Semoga lukamu lekas sembuh.”

Chanyeol mengangguk.

¤ L O T T O ¤

 

Aku tidak menjawab Nini yang berucap dari luar, meminta ijin untuk masuk ke dalam kamarku. Entahlah. Aku tidak seharusnya mengabaikan Nini yang selama ini telah merawatku. Nini hanya menawarkan makanan padaku, sejak pagi tadi Nini terus melakukannya. Aku tidak lapar. Tidak juga haus. Untuk saat ini aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan.

Sekolah mengijinkanku untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini. Sesuatu yang sangat amat tidak mungkin terjadi di dunia kami. Entahlah. Mungkin pihak sekolah tau bahwa hari ini adalah hari terakhir aku hidup di dunia ini.

Ya. Besok adalah waktuku.

Besok aku akan mati.

Tepat seperti tanda yang bertuliskan –tanggal -bulan dan -tahun pada tanganku. Tanda yang selama ini terus menghantuiku. Terus mengatakan bahwa pada akhirnya semua yang telah aku lakukan adalah sia-sia, menjadi tidak berarti. Tidak berguna.

“Mina. Tolonglah sayang, bisakah aku berbicara denganmu?”

Lagi. Nini masih enggan nampaknya untuk mencampakkanku.

Apa yang harus aku lakukan? Besok aku akan mati. Hanya kata itu yang terus terngiang di telingaku.

Selama ini aku selalu menceritakan semua masalahku kepada Nini. Masalah sekolah, masalah pekerjaan, ataupun masalah kecil seperti saat aku kesal karna pelanggan di restoran mengeluh mengatakan pelayananku tidak memuaskan. Nini bagaikan seorang Ibu untukku.

Baiklah. Mungkin kali ini Nini dapat menghiburku seperti yang selama ini selalu ia lakukan. Atau setidaknya aku harus berbicara kepada Nini di hari terakhirku hidup. Aku tidak boleh mengabaikannya.

“Masuklah, Nini. Aku tidak mengunci pintunya.”

Aku berkata tanpa mengalihkan pandanganku dari jendela. Memandang ke arah taman bunga panti asuhan yang bewarna-warni. Dari jauh bunga-bunga itu tampak cantik. Memang cantik. Namun sayangnya itu hanya bunga buatan dari mesin ciptaan Nini. Bunga paslu yang terbuat dari kertas dan plastik, setidaknya bunga-bunga tersebut masih mengeluarkan bau wangi.

Nini masuk ke dalam kamarku. Aku mendengarkan desingan mesin saat pintu terbuka, setelahnya aku mendengar Nini meletakkan sesuatu di atas meja. Mungkin makanan. Bau susunya dapat ku cium. Satu-satunya yang masih asli di dunia kami adalah makanan.

Nini berjalan mendekat kearahku. Aku merasakan Nini mengelus pundakku, lalu memelukku dari belakang. Sangat hangat.

Nini adalah Ibu panti di Panti Asuhan kota ini. Dia yang merawatku sejak aku bayi, setelah rumah sakit mengirimkanku ke Panti Asuhan ini. Ibuku meninggal saat melahirkanku, dan ayahku juga meninggal tepat di hari berikutnya. Kedua orang tuaku meninggal pada tanggal yang sesuai seperti yang tertulis di tangan mereka masing-masing. Setidaknya itu yang dapat Nini ceritakan padaku mengenai kedua orang tuaku.

Ayahku seorang arsitek. Karya terbesarnya adalah jalanan besi yang kini menutupi setiap daratan kota. Sedangkan Ibuku seorang designer yang bekerja di perusahaan paikan besar di kota.

Nini meletakkan dagunya di pundakku. Kedua tangannya menggenggam erat tanganku dari belakang.

“Kau gadis yang sangat pintar.”

Kata Nini lirih. Kami berdua kini memandang air mancur di tengah taman bunga.

“Nini?”

“Ya?”

“Terimakasih banyak.”

Aku tidak merasakan apa-apa saat ini. Tidak sedih, tidak juga takut. Tidak gundah, bimbang, ataupun resah. Entahlah. Jika kalian memintaku untuk mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat ini, hambar. Pahit. Seperti itu.

Tangan Nini semakin erat menggenggam kedua tanganku. Setelahnya aku merasakan dua tetesan air menyapa tanganku. Nini menangis. Tidak bersuara, hanya dada Nini yang bergerak tidak beraturan membentur punggungku.

“Nini. Don’t cry.”

Kataku. Tak menghentikan tetesan air mata Nini yang terus membasahi tanganku. Katakan  saja bahwa aku tidak pernah bisa menenangkan seseorang dengan baik.

Aku menghembuskan nafasku. Mengingat lagi kematianku.

Setiap orang yang sampai pada tanggal di tandanya, orang tersebut akan di jemput oleh kaki tangan Sang Pemenang. Memang mereka menjemputnya dengan cara yang baik, sangat baik. Mendatangi rumah orang tersebut. Mengetuk pintunya, bahkan duduk di ruang tamu dan berbincang. Setelahnya mereka membawa orang tersebut ke jantung kota, tepatnya markas Sang pemenang. Lalu disana mereka…. mem-bunuh-nya. Memusnahkan orang tersebut.

Sang Pemenang tidak pernah melakukan pembunuhannya di mata publik. Mereka melakukannya secara tertutup. Entah penduduk yang mereka bawa itu benar-benar di bunuh atau tidak, yang pasti setiap orang yang telah di jemput tidak pernah kembali lagi. Jika benar di bunuh pun, mereka juga tidak pernah mengembalikan jasadnya.

Sangat kejam.

Baiklah.

Jika besok adalah waktuku, maka apa lagi yang dapat kuperbuat? Setidaknya aku sudah pernah merasakan kehidupan.

Tapi haruskan aku mati dengan cara seperti ini? Maksudku benarkah kematianku di tentukan oleh orang lain?

Aku tidak tau. Dan tidak ada yang tau. Tak ada yang pernah menjawab pertanyaan tersebut.

“Mina?”

Telingaku seakan tersengat. Sengatan itu menyetrum jantungku seperti hendak meledakkannya, saat suara Nini yang lirih mengembalikanku dari ketermenunganku.

“Ya, Nini?”

“Apa yang ingin kau lakukan?”

Aku mengerutkan dahiku sembari menatap Nini. Wajah Nini sangat basah dan kedua matanya membengkak. Aku memegang pipinya. Panas.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini? Aku akan menemanimu.”

Nini menjelaskan. Aku menghapus bekas air mata di wajah Nini dengan tanganku.

Apa yang ingin aku lakukan?

Aku tidak tau.

Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin hidup sedikit lebih lama. Merasakan masakan Nini lagi setiap hari. Bertengkar dengan Jiyeon dan Jihyun, kedua anak Nini. Atau sekedar menghabiskan waktu di sekolah, menyelesaikan micro-massive-glasses camera penemuan baruku.

Atau mungkin menghabiskan waktu bersama Seunghyun. Dia telah menarik perhatianku sejak dua tahun terakhir. Terkadang mencuri pandang terhadapnya sudah merupakan bagian dari keseharianku. Jika aku pergi, setidaknya aku harus bertemu dengannya. Memberi tahunya bahwa dia adalah semangatku.

“Park Minah.”

Lagi. Nini memanggilku sembari mengguncang kecil kedua pundakku.

“Kau terus melamun. Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?”

Aku menatap Nini dalam diam.

Baiklah. Jika kaki tangan Sang Pemenang akan datang menjemputku besok, hari ini aku akan melakukan semua hal yang belum pernah kulakukan. Tidakah itu bukan ide yang buruk?

Aku membolos sekolah. Aku aku akan bermain di taman. Aku akan memakan makanan lain, selain makanan buatan Nini. Aku akan berteriak di jalanan dan memetik bunga. Aku akan menemui Seunghyun dan berbicara padanya, itu juga belum pernah aku lakukan sebelumnya.

Dan hal yang paling aku ingin lakukan adalah aku akan menerobos hujan, Nini tidak pernah sekalipun mengijinkanku untuk melakukan itu.

Ya. Aku akan melakukan semua itu, di hari terakhir aku hidup.

Aku mengalihkan pandanganku menatap wajah Nini, mengikuti bimbingan tangannya yang membelai halus pipiku.

“Nini?”

“Ya?”

“Aku ingin pergi ke luar.”

“Baiklah. Aku akan menemanimu.”

“Tidak Nini.”

Aku meraih tangan Nini dari wajahku, menurunkannya dan menggenggam erat kedua tangan Nini.

“Aku ingin melakukan hal yang belum pernah ku lakukan. Sendiri.”

“Kau yakin?”

“Ya, Nini. Aku akan baik-baik saja. Dan aku akan kembali sesudah matahari tenggelam.”

Nini tidak menjawab. Ia menghirup udara dengan sangat berat, seperti oksigen di sekitarnya sangat terbatas. Setelahnya ia mengangguk pelan lalu memelukku erat.

¤ L O T T O ¤


Aku menyembunyikan kedua tanganku di saku coat yang telah Nini pakaikan. Angin musim hujan menggoda suraiku dan bermain menarik-narik coat yang panjangnya sampai lututku. Aku tau Nini masih mengawasiku dari jendela, dan aku akan bertindak seolah aku tidak mengetahuinya agar Nini tak lagi khawatir padaku.

Memang sore kini telah menjelang tapi seharusnya belum waktunya untuk matahari meredupkan sinarnya. Mungkin karna kini gumpalan awan Cumolonimbus yang bergerombol tengah mengambil alih langit di atas kota, menyembunyikan matahari dan menghilangkan sinarnya. Tidak gelap tidak juga terang, suasana sekarang ini mengingatkanku bahwa sebentar lagi hujan akan turun.

Aku memijakkan kakiku di jalanan besi karya terbesar ayahku ini. Tepat saat kedua kakiku menempel di jalan, saat itu juga terdengar desingan mesin invisible lift buatanku. Aku menoleh ke arah kiri, tepat di bawah tiang lampu di depan panti, juga seperti tiang-tiang lampu lain yang ada di setiap sudut jalanan, terdapat kaca bening berbentuk persegi panjang yang siap mengantar siapapun yang hendak bepergian kemana saja.

Baiklah. Jujur saja. Aku membuat invisible lift tersebut karna terinspirasi oleh Willy Wonka. Cerita mengenai pabrik coklat terbesar di dunia yang mungkin kini hanya orang tua saja yang mengetahui cerita tersebut, mengingat cerita itu benar-benar sudah lama umurnya. Aku bahkan tidak dapat mengunduh filmnya, karna tidak lagi tersedia di internet. Toko kaset lama juga tidak lagi menjualnya. Beruntunglah aku masih dapat mengetahui cerita tentang pabrik coklat canggih itu berkat Nini yang bercerita kepadaku. Dongeng sebelum tidur.

Well, jika dibandingkan dengan milik Willy Wonka, tentu saja aku lebih membanggakan karyaku. Karna mesin buatanku itu lebih teratur tidak terbang sembarangan, juga tidak mengeluarkan asap.

Baiklah. Sudah cukup menyombongkan diriku.

Lagi pula aku tidak akan menaikinya. Aku juga tidak akan mengaktifkan chip terbang di sepatuku. Sepertinya berjalan kaki akan lebih berarti.

Tunggu.

Aku tidak tau hendak kemana. Aku tidak bisa bertemu dengan teman-temanku karna sekolah kami selesai beroperasi setelah matahari tenggelam. Tidak dapat bertemu Jiyeon, Jihyun, ataupun Seunghyun.

Menyebalkan.

Kakiku melangkah tanpa tujuan. Entahlah. Mungkin kakiku memiliki tempat tujuan sendiri. Ya. Memang tidak lucu.

Kota kami benar-benar tersusun rapi. Rumah-rumah berbentuk kotak. Bangunan tinggi yang berproduksi berbentuk persegi panjang. Kios kecil dan tempat pos informasi berbentuk segi tiga. Bangunan penting seperti sekolah dan kantor keamanan berbentuk lingkaran, luas dan tinggi seperti ember raksasa. Terdapat tiang-tiang lampu tempat invisible liftku berdiri hampir di setiap sudut bangunan.

Jalanannya pun rapih dan bersih. Luasnya cukup untuk dua mobil berpapasan, panjangnya entah berapa kilo meter. Saling berhubungan dan terlapis besi. Besi perak buatan ayahku yang akan menyerap polusi dari mesin bermotor, juga yang menyerap air hujan. 

Aku berjalan menyusuri trotoar di sisi jalan.

Sepi. Bahkan tidak ada satupun anak seumuranku sejauh mataku memandang. Tentu saja. Karna mereka masih berada di sekolah saat ini. Sedikit pula orang dewasa yang keluar rumah dengan berjalan kaki. Mereka lebih memilih untuk bepergian menggunakan invisible lift. Kebanyakan pria dewasa lebih memilih langsung terbang dengan sepatu terbang, dengan chip ciptaanku di dalam sepatu tersebut.

Entah mengapa bibirku tersenyum tanpa otakku memerintahkannya. Hatiku berkata bahwa tidak semua yang aku kerjakan adalah sia-sia, ternyata orang-orang dapat menggunakan barang ciptaanku.

Aku senang melihatnya.

Aku mengalihkan pandanganku kearah pos informasi di depanku. Dua orang perempuan yang lebih tua dariku sedang berisik di sana, sambil melihat ke arahku. Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa aku tidak berada di sekolah dan sedang berjalan-jalan saat ini.

Ketahuilah, Nona. Aku tengah menikmati akhir hayatku.

Tepat setelah aku melewati pos informasi tersebut, entah dari mana suara sirine sangat keras menerobos masuk ke dalam telingaku.

Argh!

Mataku mengatup sangat dalam saat sinar yang sangat terang yang entah dari mana pula datangngnya tiba-tiba menyorot ke arahku.

Oh. Tidak.

Dua orang gadis di pos informasi tadi pasti sudah melaporkanku. Mereka menyangka pasti aku tengah membolos sekolah.

Aku memang membolos sekolah tapi aku menjadapatkan ijin dari pihak sekolah.

Sial.

Aku tidak membawa surat ijinnya. Tanganku menggeledah setiap saku pakaianku, sementara otakku mengingat dimana aku meletakkan surat tersebut.

Aku masih menutup kedua mataku. Tak ingin mataku buta akibat sinar terang yang masih menyorot ke arahku. Menyerah tidak menemukan surat ijin dari sekolah, tangaku beralih menutup kedua telingaku yang di bobol oleh sirine yang sangat amat keras meraung.

Apakah petugas keamanan akan menangkapku? Dan langsung membunuhku? Seperti yang dilakukan pada anak-anak lain yang membolos jam pelajaran?

Tidak. Aku tidak melakukan kesalahan.

Oh Tuhan. Bagaimana ini? Aku telah berjalan lumayan jauh dari rumah. Aku yakin betul petugas keamanan yang kini berdatangan tidak akan membiarkanku bergerak sedikitpun untuk mengambil surat ijin dari sekolah yang aku tinggalkan di rumah. Mereka akan menganggap itu hanyalah alasanku.

Suara derap kaki dari sepatu yang pastinya sangat kuat semakin terdengar mendekat kearahku seiring jantungku yang berdetak tak kalah kencangnya bersahutan dengan suara langkah kaki dari petugas keamanan.

Aku takut.

Apakah aku akan mati sekarang?

Oh Tuhan. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?

Jantungku terasa meletup-letup saat ini. Kumohon, siapapun tolong aku. Petugas-petugas itu tidak akan mau mendengarkan penjelasanku. Aku tidak mau mati sekarang. Maksudku, ya aku akan mati besok tapi tidak sekarang. Demi apapun aku masih harus bertemu dengan Seunghyun dan berpamitan pada Jiyeon dan Jihyun.

Tandaku.

Ya. Aku dapat menunjukkan tandaku pada mereka jika mereka hendak membunuhku. Setidaknya mereka harus membunuhku sesuai dengan waktu di tandaku. Mungkin mereka akan mengijinkanku pula untuk mengambil bukti surat ijin dari sekolah jika mereka mendengar penjelasanku nanti. Ya. Aku akan menunjukkan tandaku pada mereka.

-grab-

Aku menyerahkan diri saat aku merasakan tarikan kuat di pinggangku. Seseorang membawaku.

Aku mendengar suara desingan mesin, dan suara derap kaki yang banyak kini justru semakin menjauh.

“Argh…”

Sakit. Perutku di genggam erat oleh sesorang. Aku belum berani membuka mataku. Ya Tuhan. Aku dapat merasakan darahku berdesir mengalir sangat cepat, jantungku pun seperti ingin berhenti berdetak. Orang ini datang dari belakang, dan sekarang ia menyeretku.

Suara mesin kembali berdesing. Suara derap kaki kini benar-benar menghilang.

Lengang.

Apa ini?

Apa mereka telah menangkapku.

Aku yakin kini tidak ada lagi sinar terang yang menyorot kearahku. Aku membuka mataku untuk memastikannya.

“Kau…baik-baik saja?”

Siapa itu?!

Aku tercekat. Tercengang. Dengan cepat aku membuka lebar kedua mataku.

Orang ini. Orang yang menyeretku ini bukan petugas keamanan.

Bagaimana aku tau?

Celana jeans hitam ketat membungkus kaki panjangnya. T-shirt putih polos serta jaket kulit berwarna hitam membungkus tubuhnya. Ia memakai kalung perak berbentuk, entahlah, mungkin burung atau sayap burung. Dan… rambutnya…. berwarna merah.

Jelas bukan penampilan seorang petugas keamanan.

“S…ssi-siapa kau?”

Tanganku perlahan menjauhkan tubuhku dari tangan orang asing ini, dan orang ini sepertinya mengerti maksudku. Ia melepaskan tangannya dari tubuhku.

Lama. Kami saling bertatapan dalam diam. 

Sepenuhnya aku menyadari bahwa sekarang ini kami berada di dalam invisible lift dan tengah melayang di atas kota. Aku bahkan mengabaikan pemandangan segerombolan petugas keamanan yang masih berkumpul di bawah dimana aku berdiri tadi.

Aku mengangkat daguku untuk dapat melihat wajah pria yang telah menyelamatkanku dari petugas keamanan itu. Pria ini sangat tinggi. Wajahnya begitu asing bagiku. Aku tidak dapat mengalihkan mataku dari plester kecil yang menutupi bekas luka di tulang hidungnya.

Siapa dia?

 

¤ L O T T O ¤

 

Mind to leave your comments?

Written with love, Choi’s.

Iklan

6 respons untuk ‘LOTTO – Chapter I

  1. Ping-balik: Chaptered | Choi's
  2. tari

    Ah seru seruuuu,, ini parah banget sipemenangnya langsung ngemusnahin lu gitu aja
    Btw. Pemenangnya suho oppa kan? Abis dia yg punya kekuatan air?? Ya gak sih?

    Trus chanyeol mau bawa kemana si minah?? Tapi tadi perasaan aku aja apa emang bener marga minah sama chanyeol sama.? Park bukan?

    Entah lah,, pokoknya ditunggu lanjutannya ya
    Hwaiting ^^

    Disukai oleh 1 orang

    • Iyap, uri leader oppa nih ceritanya juga jadi leader di sini^^
      Kalo sama Chanyeol mah di bawa ke mana aja deh Dear wkwk
      Kebetulan marga mereka sama tp ngga ada hubungan keluarga ya diantara mereka^^
      Anyway makasi banyak uda mau mampir Dear, stay tune yaaa 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s