All of Me ‘Chapter 8’

Standar


Title:  All of Me ( part 10 )

Author: Puspita.desu

Cast: Park Chanyeol
          Ahn Yoo na
          DO Kyungsoo
          and other

Genre: Sad, Romance, School life, Family, Friendship.

Length: Chaptered.

Jangan pergi, tetaplah disana. Aku akan menggapaimu kemudian kita bahagia bersama..

—————

Ahn Yoo na terlihat serius, dirinya dengan telaten menggunting kuku ayahnya yang kian memanjang. Sesekali memperhatikan wajah sang ayah, berharap mata itu akan terbuka dan melihat betapa anak gadisnya kini telah tersiksa menahan rindu.

Menahan kesakitan.

Menyimpan alat penggunting kuku diatas nakas, dan meraih handuk basah seraya mengusapkan pada tangan besar ayahnya.

Dulu tangan itu selalu menggenggam nya dengan erat,

Dulu tangan itu selalu memeluknya dengan hangat,

Dulu tangan itu selalu menghapus air matanya..

Kini bahkan penopangnya tak bisa barang sejenak untuk digerakkan, bagai harmoni yang terulang Yoo na memutar kembali memory akan kehidupan dulunya,

Yang sialannya sangat jauh dengan sekarang,
Waktu terus berputar tanpa bisa dia hentikan.

Kembali mencelupkan handuk yang sudah mengering itu pada air di baskom, memeras dengan lembut dan beralih mengusap nya pada kaki sang ayah.

Pagi tadi dirinya dikejutkan dengan tagihan rumah sakit ayahnya yang entah bagaimana caranya telah lunas,
Bahkan untuk pembayaran satu bulan kedepan.

Dan itu pembayaran rekening atas nama Yoo na, entah apa yang terjadi sebenarnya. Namun dia harus tahu siapa yang melakukan ini, dan mungkin akan bersujud padanya.

Terimakasih.

Batinnya mengiris. Mengibaratkan orang yang luar biasa baik hati itu ada di hadapannya.

Yang harus dia lakukan sekarang adalah bekerja dengan giat, mengumpulkan uang untuk kebutuhan dirinya dan ayahnya. Dia tidak mungkin memberikan tempat kumuh itu untuk ayahnya jika nanti dalam masa pemulihan, setidaknya Yoo na bisa memberikan tempat yang lebih layak. Setelah tamat high school mungkin Yoo na bisa menambah lagi jam kerja nya, dibanding memikirkan untuk kuliah.

Saat ini ayahnya adalah prioritas utama, setidaknya itu yang dia yakini.

Lamunannya terhenti tatkala telinganya merekam suara ketukan pintu, selanjutnya terdengar langkah seseorang mendekat. Mencoba menebak siapa gerangan yang datang, Yoo na menyerah dan membalikkan tubuhnya.

Kyungsoo.

Bagai kedapatan berlian, antara terkejut dan terharu.

Kyungsoo-nya,
Tersenyum.

Hatinya membuncah bahagia, apa kini Tuhan mulai mendengarkan do’a-do’a nya?

“Hai..”
Sapa Kyungsoo kaku, ingin sekali memeluk gadis yang selama ini dia jauhi namun suasana canggung yang kini terjadi diantara mereka. 
Gadis itu tersenyum simpul, Kyungsoo lega setidaknya gadis di hadapan nya ini baik-baik saja.

Tidak menangis,
Apalagi hancur.

Walaupun pria itu tidak tahu bagaimana suasana hati gadis pujaannya.

Lalu angin apa yang membawa Kyungsoo mengunjungi gadis itu?

Tidak tahu.

Lupakan soal egoisnya,
Lupakan soal keluarganya,
Lupakan soal kesalahan yang bahkan gadis itu tak melakukannya.
Bahkan Yoo na terluka dan menderita tanpa Kyungsoo jauhi sekalipun.

Gadis itu harus dia lindungi, bukan dimusuhi.
Dia memang idiot.

Dan seolah ingin menebus dosa-dosa nya Kyungsoo mendatangi Yoo na, tanpa tahu malu. Biarlah gadis itu menganggapnya brengsek, yang terpenting Kyungsoo akan melindunginya dari sekarang.

Sampai waktu tak ingin Kyungsoo bersamanya lagi.

Ahn Yoo na beranjak dari kursinya, membuat Kyungsoo semakin mendekat. Direngkuhnya tubuh ringkih Yoo na dan memeluknya erat.

“Maafkan aku Yoo.. kau boleh memukulku Yoo. Pukul aku sebisamu..”

Ucap Kyungsoo tertahan, nafasnya serasa tercekat mendengar Yoo na mulai terisak.
Gadis ini luar biasa rapuh.

Yoo na menggeleng dalam dekapan Kyungsoo, tangannya memeluk Kyungsoo erat. Tak ingin lagi kehilangan pria itu.
Dia mengerti akan sikap Kyungsoo akhir-akhir ini, dan itu sangat wajar. Namun yang membuat Yoo na tak percaya, Kyungsoo meminta maaf padanya di saat maaf itu yang harusnya Yoo na katakan.

Tapi lidahnya terasa kelu, yang dia bisa hanya menangis seperti orang bodoh.

Yoo na terlampau bahagia.

“Kau boleh memukulku, tapi setelah itu ijinkan aku untuk terus berada disampingmu. Maafkan aku Yoo, aku memang brengsek.”

Tangisan Yoo na semakin kencang, membuat Kyungsoo semakin merasa bersalah. Mengusap-usap punggung Yoo na dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.

“Te-rrimaah- kah-sih, kau kan yangh memmbayarh tagihanh Appah? Terri makasih Soo.. hiks”

“Suut, jangan pikirkan itu. Mulai sekarang ceritakan semua kesusahanmu padaku, kau punya aku..”

Ahn Yoo na mengangguk,

Tanpa mereka tahu seseorang yang menyaksikan drama mereka mengepalkan tangannya marah, pria itu menyaksikan betapa dua orang itu bak dua sejoli yang terpisah bertahun-tahun dan melepas rasa rindunya,
Tanpa mereka tahu dirinya merelakan matanya menyaksikan romansa mereka, padahal hatinya bak disayat pisau sembilu,

Dan sekali lagi pria itu kalah.

Park Chanyeol.

—————

Park Chanyeol melakukan kegiatan yang kini menjadi kegiatan wajibnya setiap pagi, membuka loker Yoo na pelan dan memasukkan susu cokelat dan roti ke dalam nya.
Chanyeol tahu gadis itu tidak pernah memakan apapun saat istirahat dan hanya tidur di perpustakaan. Maka Chanyeol memberikan sedikit uang jajan pada gadis itu, meskipun Chanyeol tidak tahu makanan favorit Yoo na tapi yang dia tahu makanan yang selalu dia berikan ini selalu Yoo na makan.

Dan itu membuatnya bahagia.

Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan, Chanyeol itu pecundang.

Sengaja menjauhi Yoo na saat disekolah dan menjadi penguntit saat diluar sekolah.
Dia takut Baekhyun dan Sehun akan mengolok-oloknya jika dirinya mendekati Yoo na.

Chanyeol pecundang dan mungkin semua orang tahu itu.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Pria itu membalikkan badannya dengan terkejut, matanya membulat melihat Yoo na kini ada di hadapan nya,
Bersama Kyungsoo.

Dia ketahuan.

Berdehem pelan guna menetralkan suaranya. Kembali berbalik dan membuka loker Yoo na, mengambil makanan yang tadi dia simpan dan menyerahkannya pada gadis itu.

“Makan ini saat istirahat, jangan membawanya kerumah dan memakannya saat malam. Kau mau mati muda hah?”

Kembali berdehem gugup dan melirik Kyungsoo, mulutnya tertutup kembali setelah dirinya terlihat ingin memaki pria itu.

Bukan saat yang tepat.

“Aku pergi..”

Ucap Chanyeol akhirnya dan meninggalkan dua manusia yang masih membeku.

Yoo na melirik makanan yang berada di genggamannya, jadi selama ini Chanyeol yang memasukkan benda ini di loker nya?
Mengapa tidak memberinya langsung? Toh dia sudah tidak punya rasa gengsi lagi dan pasti menerimanya, idiot.

Bibir cherry nya tersenyum, dan Kyungsoo melihatnya.

Yoo na menyukai Chanyeol.

Kyungsoo tidak bodoh sehingga tidak menyadari itu, pria itu bahkan sangat tahu saat Yoo na memandang Chanyeol dengan berbinar.

Bahkan sampai saat ini, Kyungsoo tidak bisa mendapatkan hati Yoo na.

“Sudahlah, ayo pergi. Aku akan mengantarmu ke kelas.”

Kyungsoo menyudahi pemikiranchildish-nya. Mengenyahkan rasa egois di kepalanya.

Melihat Yoo na tersenyum seperti inipun, sudah cukup baginya.

Tidak masalah, asalkan Yoo na bahagia.


To be continue..

Iklan

Satu respons untuk “All of Me ‘Chapter 8’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s