CheonSa GaTeon Neo (Chapter 4)

Standar

Cast : Park ChanYeol; Arin Wu; etc. | Genre : Sad Romance, Hurt, Family. | Rating : 15+ | Author : Arin Jung/Arin99

THIS STORY IS MINE. DO NOT COPY.

1 | 2 | 3

Mataku yang terpejam terpaksa membuka lebar. Aku melirik pada jam. Pukul 2 pagi, sedangkan aku baru tidur pukul 1 tadi. Suara tangis bayi yang kembali menjerit dari kamar sebelah membuatku melompat. Dengan cepat berlari ke kamar Arin.

“Ada apa?” Aku bertanya di ambang pintu, dengan nafas terengah.

Bayi itu menangis dan Arin menimangnya. Menggoyangkan tubuhnya sedikit.

“Dia hanya haus. Maaf, membuatmu terbangun.” Arin tersenyum kecil. Mataku mengerjap. Kebiasaan bayi, bangun di tengah malam, menjerit dan membuat seisi rumah bangun. Aku mendekat.

“Kenapa tidak beri asi?”

Tubuhnya berhenti bergerak. Arin diam sejenak. “Asiku.. tidak keluar”

“Bagaimana-“

“Bisa tolong buatkan susu formula?”

Aku mengernyit heran. Mana bisa aku buatkan susu untuk bayi usia satu bulan.

Kupilih mengambil alih bayinya. Hebatnya tangis bayi itu mereda, membuat ku diam untuk beberapa saat. Arin telah melesat ke dapur.

Mata bayi itu menatap mataku. Tubuhku sedikit bergoyang untuk menimang. Tangannya terangkat untuk menggapaiku. Sejenak waktu terasa berhenti. Bayi ini seakan menghipnotisku dengan apa yang dia miliki. Aku bahkan sudah melupakan fakta kalau bayi ini buah cinta Arin dengan pria lain yang pastinya kubenci.

Bayi ini membuatku menyayanginya dalam hitungan menit. Siapapun ayahnya aku tidak peduli. Anugerah yang seharusnya dia miliki ada di tanganku sekarang. Salahnya yang menyia-nyiakan. Jadi kupastikan saat ini juga, dia milikku. Bayi ini dan Arin, mereka milikku.

Persetan dengan pria brengsek yang mencampakkan mereka. Pria itu tidak sadar, dia menjatuhkan berlian begitu saja.

“Oppa?”

Bahkan aku tidak sadar Arin sudah berdiri di sampingku. Tersenyum melihatku tersenyum. Ada botol susu di tangannya. Aku tidak menyerahkan bayi ini. Biar aku yang memberinya susu.

Kami duduk di atas ranjang. Dengan Arin berada di sisiku, dan bayinya yang berada di tanganku. Tangan besarku membuat tubuh mungilnya tenggelam. Sama seperti Arin saat berada di pelukanku.

“Namanya?” Aku bertanya tanpa melepas tatapanku dari bayi ini. Aku belum tahu namanya. Arin tidak pernah menyebut nama bayi ini.

“HaoWen” bisiknya cepat.

Aku mendengus geli, lalu meliriknya sinis. “seleramu chinesse ternyata.”

Arin menunduk. Senyum kecilnya bergetar. Dia menggigit bibirnya keras, aku memastikannya dari berapa sisi bibirnya yang memutih.

“Tidurlah, kau lelah. Aku yang akan menjaga HaoWen.” Perintahku.

“Tapi-” “cepat tidur.”

Dia menurut. Naik ke atas ranjangnya dan berselimutkan diri. HaoWen sudah mengerjap, kurasa dia juga mengantuk. Baguslah, sebab akupun begitu. Aku bangkit dan berdiri. Menimang HaoWen agar tidurnya lebih cepat.

Tirai jendela kubuka sedikit. Mengintip pemandangan kota Seoul sejenak. Gelap namun berkerlip cahaya, seperti langit bertabur bintang. Dibantu cahaya bulan aku mencermati wajah HaoWen.

Arin cantik, dan pasti ayah HaoWen tampan. HaoWen memiliki struktur wajah sempurna. Aku yakin dia akan menjadi primadona nantinya.

“Wanita akan menggilaimu, seperti mereka menggilaiku.” Bisikku. “Kecuali ibumu.”

Membisikkan itu, aku tertawa kecil, cukup miris. Aku melirik Arin yang tertidur di ranjangnya. Wajahnya bergurat lelah. Apa yang dilaluinya begitu berat. Tanggung jawab yang ditangguhnya begitu besar. Melahirkan dan membesarkan bayi tanpa seorang suami pasti sulit. Seperti tidak ada pegangan di hidupnya.

“Meski sekarang aku membencimu, aku tetap mencintaimu.” Bisikku kembut. Sehalus udara dingin malam yang berhembus malam ini.

Ya, meskipun aku membencinya. Membenci apa yang telah dia lakukan padaku, aku tetap mencintainya. Meski segalanya tidak akan sama seperti dulu lagi.

Tanganku menarik rem tangan dengan sekali gerakan. Lalu tidak memindahkannya dari sana. Mataku melirik Arin di kursi sebelah. Dia masih terdiam dengan mata bergerak gelisah. Bibirnya terkatup rapat.

“Apa yang kau pikirkan?” Dia berhenti melamun, menggeleng kemudian. “Kalau begitu ayo.”

Aku keluar dari mobilku. Ada mobil kakakku YooRa di halaman rumah. Aku tahu Arin khawatir, begitu pula aku. Bagaimana pun nantinya, keluargaku setuju atau tidak, aku akan tetap menikahinya.

Arin melangkah pelan di belakangku, dengan HaoWen di gendongannya. Bayi itu tertidur sejak di mobil tadi. Sesekali dia hanya menggeliat kecil.

Berkumpul di tengah keluargaku dengan tatapan mereka yang mengerikan memang bukan hal yang baik. Kulihat Arin yang merunduk takut di sisiku. Aku hanya menghela nafas. Dari tadi belum ada satupun orang yang mengangkat pembicaraan. Baik Ayahku, Ibukku, maupun kakakku, YooRa, masih sibuk dengan pemikiran mereka tentang Arin dan bayinya.

Ayahku menghela nafas kasar. Hingga Arin semakin menegang di sampingku. Aku menatapnya melalui ekor mataku.

“Apa benar, bayi itu adalah anak kandungmu, ChanYeol?” Ujarnya tegas. Ayahku adalah orang yang selalu memiliki pembawaan santai di kehidupan sehari-hari. Tidak heran, mendengarnya seperti ini membuat bulu kuduk meremang.

“Ya, ayah. Dia bayiku.” Ujarku tidak kalah tegas. Kurasa keadaan semakin dingin dan beku. Menusuk hingga tulang dan menyakiti seluruh saraf tubuh, lalu memberi kesan paralized.

“Bagaimana bisa kau seceroboh itu, Park ChanYeol!” Ujar ayahku meninggi. Aku menunduk dan memejamkan mata sesaat. Menyiapkan hatiku untuk bicara.

“Maafkan aku.” Ujarku tegas.

“Sudah berapa kali ayah menasehatimu tentang bagaimana cara menghargai wanita? Sekarang lihat! Bagaimana pandangan semua orang tentang wanita itu! Dan kau-” ayah menunjuk Arin dengan dagunya. Arin mendongak perlahan dan menatap ayah.

“Apa kau tidak bisa menjaga kehomatanmu sebagai wanita?”

“Maaf-” “Ini salahku, Ayah. Seluruhnya salahku.” Aku memotong ucapan Arin. Kurasakan tatapannya yang menghangat padaku.

“Bodoh. Kau tidak bisa menghargai wanita. Apa yang kau pikirkan, Park ChanYeol? Ayah dan Ibu mendidikmu susah payah sejak kecil dan sekarang kau malah mengotori nama keluarga! Kau menghamili gadis ini!”

“Maafkan aku.”

Helaan nafas kasar dapat kudengar dari Ayahku. Dia mengalihkan pandangan sejenak.

“Tapi mau bagaimana? Nasi sudah menjadi bubur.” Ujarnya pelan. Aku menatapnya, begitu pula Arin.

“Arin,” dengan cepat Arin menoleh pada ayah. “Ya, Tuan Park?”

“Tolong sampaikan pada orang tuamu, mari adakan pertemuan secepatnya. Kalian harus dinikahkah dalam waktu dekat.”

Matanya membulat, lalu Arin membungkuk pelan. “Y-ya, Tuan Park.”

Mencicit seperti burung kecil di pagi hari. Aku menatap Kakakku, dia tersenyum kecil padaku. Aku melangkahinya. Seharusnya YooRa menikah lebih dulu dariku. Apa mau dikata, takdir berkata lain.

Arin memasukkan segala barangnya ke dalam box. Menatanya rapih di dalam sana. Perlahan dia melihat sekitar. Ruangan putih dengan ranjang single ini adalah saksi kunci perjalan hidupnya menjadi seorang bintang.

Tempat ternyaman di mana dia menumpahkan segala rasanya di sana. Kesepian, kesedihan, kerinduan, kesenangan, semua tertuangkan di kamar ini.

Di pintu kamar ada Anna, salah satu member grupnya. Berdiri dengan mata terus mengamati Arin. Tangannya berlipat di atas perut, sesekai saling mengusap.

Arin menghampirinya perhalan. Dia tersenyum pilu.

“Maafkan atas segala kesalahanku. Terima kasih telah menjadi sahabat yang sangat baik.” Dia berbisik.

Anna mengangkat kepala. Menatapnya dengan mata berbinar.

“Aku tidak percaya kau seperti itu, Rin. Aku tidak percaya!” Anna memeluk Arin dengan erat. Matanya mengeluarkan bulir-bulir air mata. “Kau terlalu baik untuk menjadi buruk. Apa yang terjadi?”

Arin tersenyum lembut. “Inilah yang terjadi, Anna.”

Kemudian melepas pelukan Anna. Tangannya kembali memeluk boxnya. Arin pergi melewati Anna begitu saja.

Aku masih terpaku di tempatku. Tanganku menggenggam dua koper besar Arin. Anna menghampiriku. Menatapku dengan pandangan yang tidak dapat kudefinisikan dengan detil. Intinya kebencian.

“Kau menghancurkannya, maka kau harus menjaganya!” Terdengar seperti ancaman yang berdesis di telingaku. Anna benar-benar menyeramkan.

“Anna, please. Ini semua salahku.” Arin menyahut dari belakangnya. Wajahnya pilu.

“Tidak. Aku tahu kau bukan orang yang seperti itu.”

“Nyatanya aku begini.” Dia kembali tersenyum getir. Aku terpaku di antara mereka. Anna menggeleng lemah, lalu pergi begitu saja meninggalkan kami.

Sama seperti Anna, aku juga tidak percaya. Tapi juga seperti kata Arin, nyatanya dia begitu.

Langit sudah gelap di luar jendela apartemen. Aku memasukkan pakaian terakhirku ke dalam lemari. Menggantungnya rapi. Aku menghela nafas kasar.

Pemikiran tentang siapa ayah HaoWen benar-benar menghantuiku. Rasanya sulit membayangkan apapun. Memikirkannya membuatku pusing tapi tidak pernah bisa aku mengenyahkannya.

“Oppa?” Aku mendengar suara Arin dari belakang. Tanpa kutengok, aku tahu dia berdiri di ambang pintu. “Makan malam sudah siap.”

“Aku akan segera ke sana.” Balasku datar. Aku merasakan kepergiannya. Lagi-lagi aku bersikap dingin. Mungkin ini pengaruh pikiranku.

Seperti kataku, aku menyusulnya ke meja makan. Makanan tertata rapih dan terlihat menggiurkan. Arin mengambilkan nasi pada mangkukku. Kemudian kembali menyuguhkannya.

Aku berdoa sebelum makan, lalu mengambil sesuap lauk terdekat. Chicken Teriyaki.

“Maaf jika tidak enak.”

Dia pasti bergurau. Ini masakan terenak yang pernah kumakan, selain masakan ibuku tentunya. Aku terpaku untuk sesaat. Arin menatapku cemas.

“Ini lumayan.”

Wanita itu tersenyum halus. Dia mengambil seporsi makanan untuknya. Kami makan dalam diam. Dia maksudku. Sedangkan aku sesekali mengambil kesempatan meliriknya. Bahkan saat makan saja dia cantik.

Aku meletakkan sumpit dan sendokku.

“Ada yang ingin kubicarakan.” Arin menghentikan acara makannya.

“Ini tentang ayah HaoWen.” Kulihat dirinya menegang di tempat. Diam seribu bahasa tanpa menatapku. “Siapa ayah HaoWen?”

Tangannya meletakkan sendok perlahan. Arin membasuh bibir dengan jemarinya. Dia terlihat menelan ludah dengan kasar. Matanya bergerak gelisah. Aku ingin tahu apa isi pikirannya.

“Maaf. Aku,, tidak bisa mengatakannya.”

Aku tersenyum sinis, sudah tahu dia akan menjawab itu.

“Kenapa?” Dan dia tidak dapat menjawabnya.

“Kau tidak mau orang tahu siapa dia? Kau tidak mau namanya tercemar, akibat menghamili seorang gadis di luar ikatan pernikahan, begitu?” Gadis itu mejamkan matanya erat.

“Sebegitu besarnya kau mencintai pria brengsek itu. Sebegitu pedulinya kau pada si brengsek itu.”

“Lalu saat sebelum keberangkatanmu apa yang ada di pikiranmu!” Aku meninggikan suara, hingga matanya terpejam sangat erat. “Kau bilang kau mencintaiku! Apa maksud semua itu?!”

Dia menggigit bibirnya erat. “Maafkan aku.” Lirihnya.

“Aku kecewa padamu.”

Kurasa mataku sudah benar-benar berkaca-kaca. Air mata hampir tumpah dari cawannya. Aku mendengus geli. Meninggalkannya sendirian di meja makan.

Hari ini waktunya pertemuan antar orang tua. Ibu meminta mengadakan pertemuan di restorannya, Viva Polo.

Orang tua Arin akan datang, dan ini kali pertama mereka menampakkan batang hidungnya. Keduanya orang penting yang tidak terduga.

Ayahnya pemilik perusahaan besar di Asia Tenggara, berdarah Cina-Korea. Dan ibunya duta besar Indonesia di Korea, dan tentu berdarah Indo-Korea. Tidak disangka Arin berasal dari keluarga terpandang.

“Maaf atas perilaku ChanYeol yang menyebabkan ini terjadi.” Ayahku membungkukkan diri penuh rasa sesal. Aku meringis dalam hati, meminta maaf telah membohongi orang tuaku, juga orang tua Arin.

Ayah Arin, Tuan Wu tersenyum tipis. “Tidak apa, ini semua sudah terjadi. Kita jalani saja takdir Tuhan dengan sebaik mungkin.”

Pantas Arin baik, ayahnya juga sosok yang baik dan bijak. Juga ibunya yang lembut dan rendah hati.

“Kalau begitu langsung saja, kita tentukan tanggal pernikahan ChanYeol dan Arin.”

Semua pembicaraan berlangsung normal. Lancar bahkan baik. Tidak seperti dugaanku yang segalanya akan menjadi kacau dan rumit. Orang tua Arin akan mencaci makiku karena menghamili anak gadis mereka.

Tapi tidak, mereka dengan sangat baik membicarakan pernikahan kami hingga ke titik terkecil. Hingga semuanya tuntas dan menunggu hari H.

Tepatnya, satu minggu lagi, adalah hari pernikahan kami.

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s