LOTTO – Chapter II

Standar

lotto

LOTTO

¤

Choi’s

¤

Park Chanyeol (EXO) – Park Minah (OC)

¤

OCs – EXO Members – Others

¤

Romance – Fantasy – Angst

¤

Chaptered

¤

PG-17 (Violence Content)

¤

The stories and OCs are purely mine. EXO members belong to EXO-L

¤

What can I do? I just hit the Lotto.

Previous chapters

Teaser ¤ Chapter I

Poster Cr. Alkindi @Indo Fanfiction Arts

¤ L O T T O ¤

“Dia menandaiku.”

“Itu tidak mungkin.”

“Apa matamu sudah buta, Sehun? Kau tidak melihatnya?!”

Chanyeol mengarahkan tangan kanannya tepat di depan wajah Sehun.

Sehun, pria dengan surai hitam tersebut memicingkan kedua matanya melihat bekas luka bakar yang tercetak jelas di lengan bawah Chanyeol.

Deretan angka -tanggal -bulan dan -tahun terlihat jelas di permukaan kulit yang membungkus daging di sekitar tulang hasta dan tulang pengumpil tersebut. Warnanya cokelat tua hampir kehitaman begitu kontras dengan warna kulit Chanyeol. Jika di amati dengan jeli bahkan Sehun dapat melihat titik-titik daging berwarna merah muda hampir memudar keputihan pada luka bakar chanyeol.

“Ini tidak mungkin, Chanyeol.”

“Demi apapun, Sehun! Apakah menurutmu aku membakar tanganku sendiri tanpa alasan?”

“Tapi ini… itu…. Sang Pemenang tidak mungkin menandai pemainnya sendiri.”

“Aku juga terus bertanya-tanya seperti itu.”

Sehun meraih tangan Chanyeol dan memperhatikan dengan lekat bekas luka bakar yang masih basah itu.

Ini tidak mungkin.

Bagaimana ini dapat terjadi?

Sang Pemenang memang tidak seharusnya menandai Pemainnya sendiri. Sang Pemenang dan para Pemain tidak pernah di lahirkan, maka dari itu seharusnya mereka juga tidak akan mati.

Tapi tangan Chanyeol, terdapat tanda di sana. Tanda seperti yang dimiliki oleh manusia-manusia di dunia. Apa maksud dari semua ini?

“Kapan kau mendapatkannya?”

Sehun kembali berucap, masih memegang tangan Chanyeol.

“Seminggu yang lalu.”

“Ada yang aneh dengan tanda ini.”

“Aku tau.”

Chanyeol merebut kembali tangannya lalu membungkus lukanya dengan perban yang baru.

“Aku seharusnya sudah mati kemarin.”

Sambung Chanyeol.

Sehun mengerutkan dahinya.

Benar. Tanda di tangan Chanyeol bertuliskan 301216. Tepatnya hari kemarin. Tapi mengapa Chanyeol masih hidup hari ini jika ia sudah di tandai? Seharusnya ia mati kemarin sesuai tanggal yang tertulis di tangannya. Apakah Sang Pemenang sedang mempermainkannya? Apakah tanda yang Chanyeol dapatkan itu palsu?

Sehun kembali menggelengkan kepalanya perlahan beberapa kali. Sudah lebih dari lima belas menit kedua kelopak matanya tidak berkedip menatap bagaimana Chanyeol membungkus tanda luka bakar di tangan Chanyeol menggunakan perban.

“Bagaimana ini bisa terjadi? Aku juga tidak tau. Entah apa yang menyerang pikiranku tapi kemarin aku mencoba membakar tanda ini, dan kau tau apa hal yang paling menakjubkan? Aku merasakan apiku membakar kulitku. Apiku ini-“

Seperti tau apa yang sedang Sehun pertanyakan dalam pikirannya, Chanyeol terus bertutur memberi jawaban pada Sehun yang belum sempat mengucapkan pertanyaan yang terbang memenuhi otaknya tersebut. Sehun benar-benar memberi perhatian penuh pada setiap kata yang Chanyeol ucapkan.

Terdengar sangat tidak masuk akal, memang. Bagaimana bisa seorang pengendali api dapat terbakar oleh apinya sendiri? Jika itu berlaku tidakkah Chanyeol sudah benar-benar musnah, hangus karna apinya sendiri sejak pertama kali ia menggunakan apinya?

Chanyeol merekatkan plester untuk mengeratkan perban di tangannya. Ketika ia mengatakan api, saat itu juga telapak tangan kirinya sejenak mengepal lalu perlahan membuka, di susul kepulan asap kecil yang mulai nampak dari permukaannya dan tak lama telapak tangan Chanyeol mengeluarkan api.

screenshot_2016-10-27-19-08-58

Chanyeol dan Sehun, keduanya menatap api yang menyala dari tangan Chanyeol. Chanyeol mengarahkan api di telapak tangan kirinya ke arah pundaknya, menempelkan api tersebut pada tubuhnya dan mengusapnya dari pundak ke dada bidangnya yang tidak tertutup pakaian itu.

Sejenak Chanyeol mengusap dadanya secara perlahan. Api dari telapak tangan Chanyeol menyatu dengan kulit di dadanya dan dari bahu sampai ke dadanya pun kini ikut menyala. Api dari telapak tangan Chanyeol menjalar ke sekujur tubuh atas Chanyeol. Chanyeol memandang Sehun yang tengah melihat api yang menyala-nyala dari tubuhnya. Ia membiarkan Sehun melihat bagaimana tubuh Chanyeol bereaksi dengan apinya sendiri.

Chanyeol mematikan apinya. Dengan sekali kedua kelopak matanya berkedip, seperti mematikan tombol lampu, semua api dari tubuh Chanyeol padam tak meninggalkan sisa. Di tubuh pria jakung itu pun tidak membekas sama sekali. Utuh seperti semula.

Pria itu terdiam.

Telapak tangan kirinya masih terus mengusap dadanya.

Apa lagi yang terjadi pada dirinya?

Chanyeol membisu dalam kebingungan. Tubuhnya tidak terbakar oleh apinya sendiri. Seperti yang semestinya, jika tubuhnya tersentuh oleh api maka api tersebut akan menjalar ke seluruh tubuhnya. Alhasil tubuhnya akan penuhi oleh api yang menyala dan tidak membakarnya. Saat ini pun, saat Chanyeol menyalakan api di dadanya, Chanyeol tidak merasakan apa-apa ketika kulit dadanya juga mulai mengeluarkan api.

Ini aneh.

Ia masih ingat betul kejadian kemarin saat apinya benar-benar terasa membakar kulit tangannya. Benar-benar terasa panas, terbakar dan kulitnya juga meleleh. Baru kali itu Chanyeol merasakan panas dan sakit akibat dari apinya sendiri yang membakarnya.

Tapi mengapa sekarang apinya tidak lagi membakar kulitnya seperti kemarin? Dan mengapa pula hanya saat kemarin saja ia dapat merasakan terbakar oleh apinya sendiri? Apa apinya sedang bermain-main dengan Chanyeol? Itu tidak mungkin. Pria itu tau, sangat tau dengan betul bagaimana caranya mengendalikan apinya sendiri.

Apa yang telah terjadi padaku?

Pria itu menggumam dalam hati.

 

¤ L O T T O ¤

 

Kemarin, saat sinar matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka di kamar Chanyeol dan terus mengusik tidur lelap pria itu, Chanyeol akhirnya membuka paksa kedua matanya.

“Hari ini….”

Gumamnya, mulutnya langsung terbuka setelah kedua matanya yang terbuka berkedip sekali. Sambil tubuh polosnya yang tertutup selimut masih terbaring di atas ranjangnya enggan bergerak. Kedua matanya hanya dapat menatap langit-lagit di atas tempat tidurnya.

Tepat di hari itu, ia akan mati. Pikirnya.

Ia mengeluarkan tangan kanannya dari balik selimut, mengangkatnya ke udara, menampilkan deretan angka yang tercetak di sana.

photogrid_1483196206963

Hari ini.

Sudah enam hari Chanyeol menyembunyikan tanda ini dari siapapun. Ia tidak memberi tahu Lu, tidak juga Sehun ataupun Sang Pemenang.

Mengapa?

Mengapa pria itu menyembunyikan tandanya?

Chanyeol sendiri pun tidak tau.

Seperti ketidak tahuannya mengenai bagaimana bisa seorang Pemain mendapatkan tanda seperti para manusia

Ia enggan bertanya pada Sang Pemenang. Sejujurnya pria itu sangat marah tentunya kepada Sang Pemenang. Tapi Chanyeol juga tahu bahwa Sang Pemenang selalu berkata bahwa ia tidak pernah menandai siapapun, tanda itu sendiri yang memilih kepada siapa tanda itu akan melekat. Tanda itu seperti tanda lahir, sekaligus tanda yang memberi tahu kapan seseorang akan mati.

Tapi ada banyak kejanggalan dalam hal ini.

Pertama, Chanyeol tidak mempercayai perkataan Sang Pemenang bahwa tanda itu sendiri yang memilih kepada siapa tanda itu melekat. Tanda itu adalah benda mati, tidak dapat berpikir, tidak dapat bergerak sendiri, tidak dapat di buat tanpa ada yang membuat. Tentu saja sebuah teknologi yang membuatnya, dan pastinya terdapat seseorang yang telah merancang dan mengendalikan teknologi tersebut.

Tanda itu jelas tidak muncul dengan sendirinya.

Kedua, tanda itu selalu muncul setelah seorang bayi terlahir di dunia itu. Tanda lahir sekaligus tanda kematian. Bagaimana bisa Chanyeol, seorang Pemain yang tidak pernah terlahir mendapatkan tanda tersebut dengan tiba-tiba?

Chanyeol terus berpikir sampai ia menyimpulkan pasti ada yang salah dengan dirinya.

Setidaknya itulah keputusan yang dapat ia ambil untuk sementara. Ia memilih untuk menginterospeksi dirinya sendiri sebelum ia menyalahkan orang lain. Meskipun ia sama sekali, benar-benar tidak tau mengapa ia mendapatkan tanda tersebut.

Selama enam hari Chanyeol bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada dirinya. Sang Pemenang dan Pemain lain pun bersikap seperti biasa, tidak ada yang berubah. Itulah alasan mengapa Chanyeol terus menyembunyikan tanda yang ia dapatkan. Ia mencoba mencari tau alasan mengapa ia mendapatkan tanda itu. Mungkin saja tanda itu adalah sebuah peringatan bahwa Chanyeol mungkin akan melakukan kesalahan yang membuat Sang Pemenang marah nantinya, atau mungkin Chanyeol akan di bunuh seseorang?

Tidak.

Tidak terjadi apa-apa setelah enam hari sejak Chanyeol mendapatkan tanda tersebut.

Tidak ada yang salah dengan dirinya sendiri, pun tidak ada yang aneh dengan lingkungan di sekitarnya. Tapi bagaimana bisa tanda itu melekat di tangannya?

Apa sebenarnya arti dari tanda itu?

Bagaimana?

Mengapa?

Tepat di hari kematian Lu, Chanyeol kembali menyuruh otaknya untuk berpikir keras. Mengenai mengapa Lu di tuduh mencuri dan apa alasannya, juga mengenai bagaimana ia akan menghadapi kematian yang mungkin akan menyambutnya nanti malam. Ya, hari itu tepat di hari yang tertulis seperti tanda di tangan Chanyeol. 301216.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Chanyeol menggumam setelah satu hembusan napas lolos dari bibirnya. Sayangnya Chanyeol bukan tipe Pemain yang suka memberontak seperti Jongin, bukan juga tipe yang banyak bertanya seperti Jongdae, dan juga bukan tipe yang sering mengomentari segala sesuatu seperti Baekhyun, apalagi tipe yang bersikap sangat acuh terhadap sekitarnya seperti Sehun.

Tidak. Chanyeol bukan tipe Pemain yang seperti itu.

Ia mendengar sebelum berbicara. Ia melihat sebelum menghakimi. Ia memahami sebelum mengerti. Benar-benar tipe yang menerima keadaan tanpa mempertanyakan. Menganggap semua pandapat itu benar, tidak suka memperdebatkan. Singkat kata ia termasuk Pemain yang selalu mematuhi aturan, selalu bersikap baik dan tidak suka membuat onar.

Tapi kesalahan apa yang akan ia buat? Aturan apa yang nantinya akan ia langgar? Sehingga ia mendapatkan tanda kematian tersebut. Mengapa ia? Apa yang salah dengan dirinya?

Kembali dada Chanyeol mengembang lalu mengempis saat merasakan udara keluar masuk paru-parunya dengan sangat berat melalui hidungnya. Pria itu bangkit dari posisinya, terduduk, setelah sebelumnya kembali menggumam pelan.

“Memangnya apa yang dapat kulakukan?”

Tangan kanannya mengembalikan sebagian surai merahnya yang sempat terjatuh ketika ia menundukkan kepalanya.

Sunyi. Sepi. Lengang. Tentunya tidak ada siapapun di dalam kamarnya selain dirinya. Sinar matahari masih menggoda tubuhnya yang baru bagian atasnya saja yang bangkit, selimut masih rapih menutupi perut sampai ujung kaki jenjangnya.

Kedua kelopak matanya berkedip ketika ia mendengarkan satu-satunya suara yang mengisi ruangan tersebut. Detakan jam digitalnya, yang terletak di atas meja tepat berseberangan dengan ranjangnya. Jam tersebut berwarna hitam, bentuknya kotak. Angka-angka digital berwarna putih di balik kaca bening di permukaan jam tersebut. Angka-angka besar menandakan jam dan menit, sedangkan angka-angka yang dua kali lebih kecil diatasnya menandakan tanggal, bulan, dan tahun.

Chanyeol mengerutkan dahinya. Gejolak-gejolak berbagai macam rasa mulai berkecamuk di dalam hatinya, ketika kedua mata bulatnya menatap lekat tanggal pada jam digitalnya.

Ia merasa sedih, tapi juga kesal, mungkin juga sedikit marah, atau bahkan sangat marah.

Tidak bisakah ia sekedar bertanya kepada sang Pemenang mengapa ia mendapatkan tanda tersebut? Tidak bisakah?

Jawabannya adalah tidak.

Mengapa?

Apa ia takut kepada sang Pemenang?

Jawabannya juga tidak.

Ia hanya tak habis pikir. Salahkan dirinya yang lebih suka menunggu dari pada memulai. Menunggu jika mungkin saja sang Pemenang sendiri yang hendak berbicara pada Chanyeol mengenai tanda itu. Dan bodohnya, Chanyeol tau itu tidak akan mungkin terjadi namun ia masih saja menunggu. Sampai kini waktunya benar-benar habis.

Chanyeol sendiri bahkan tidak dapat memahami dirinya sendiri.

Kedua mata bulat Chanyeol memicing, dengan kedua alisnya yang mengkerut hampir menempel satu sama lain di setiap ujungnya. Saat itu juga, jam digital di atas meja itu terbakar oleh api yang entah dari mana asalnya, hanya tiba-tiba menyala seperti kompor yang menyala dengan kekuatan penuh. Membakar persegi alumunium itu sampai habis dan hangus menjadi debu hitam.

Tak butuh waktu lama. Jam digital itu kini tidak terlihat bentuknya, berubah menjadi tumpukan abu bekas bakaran ketika Chanyeol semakin menyipitkan kedua matanya.

Chanyeol berkedip. Api diatas meja itu menghilang. Hanya sekejap saja, malah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Api tadi hanya membakar jam tersebut, tidak menjalar pada meja kayu yang menopangnya. Jam digitalnya habis terbakar. Kedua mata Chanyeol kini melirik lilin aroma terapi yang menyala tak jauh di sudut meja. Ruang kamarnya kini dipenuhi dengan bau khas sesuatu yang habis terbakar, masih mengepulkan asap bekas bakaran, dan bau lotus fragnance dari lilin aroma terapinya bercampuran berlomba-lomba memasuki rongga hidungnya.

Chanyeol dapat membakar benda tanpa menyentuhnya. Dengan catatan terdapat api yang menyala di sekitar benda tersebut. Dan begitulah ia membakar jam digitalnya sebagai pelampiasan rasa kekecewaannya, rasa marahnya, dan seluruh kegelisahan serta rasa bimbang yang menyelimuti dirinya.

Tangan kirinya mengembalikan sebagian surainya yang kembali jatuh saat Chanyeol kembali menundukkan kepalanya, menatap deteran angka dengan tinta hitam permanen di tangan kanannya.

Seandainya aku dapat membakarmu. Memusnahkanmu seperti yang kulakukan pada arloji itu. Demikian sorot mata sendunya berkata.

Setelah menyibak surainya ke belakang telinga kirinya, jari-jari tangan kiri Chanyeol perlahan mengelus deretan angka yang menyatu dengan kulit tangan kanannya itu.

Ide itu ia munculkan.

Bisakah?

Mungkin tak salah jika ia mencoba.

Toh apinya tidak akan melukai dirinya. Tidak mungkin.

Ya. Itu yang Chanyeol pikirkan. Sebagaimanya ia meleburkan jam digital di atas meja, ia juga ingin memusnahkan tanda ini walau Chanyeol tau bahwa dengan membakarnya bukanlah salah satu cara untuk melakukan hal itu. Ia hanya tidak tau harus berbuat apa. Kembali ia hanya terus mengikuti arus.

Ke empat jari tangan Chanyeol mengepal, sedang jari telunjuknya menyusuri angka pertama pada tanda itu.

Chanyeol tersenyum mengejek. Ia menertawakan dirinya sendiri.

Bodohnya aku. Seandainya apiku benar-benar dapat melukaiku, akan ebih baik jika aku mati dengan membakar diriku sendiri dan dengan apiku sendiri. Kembali batinnya berkata melalui senyum yang tidak penuh itu. Tak tau pula entah mengapa ia dapat membatin seperti itu.

Tapi Chanyeol keliru. Atau katakan bahwa omong kosongnya yang barusan tadi itu benar.

Saat itu, ketika Chanyeol mencoba mematikkan api dari jari telunjuknya, saat api dari telunjuk Chanyeol menyentuh permukaan kulit yang bertanda itu, terdengar seperti suara besi yang habis dibakar masih dengan api menyala lalu di masukkan kedalam air. Suara desisan sebagaimana besi yang di bakar masih dengan api yang menyala itu menyentuh permukaan kulitnya.

Chanyeol mendesis, mengerang, secepat kepulan asap samar-samar yang mulai muncul dari kulitnya ia menjauhkan telunjukknya dari tangan kirinya.

Ini tidak mungkin.

Chanyeol merasakan degub jantungnya bertabuh begitu kencang, sangat kencang, sampai dentum-dentum detakkan jantungnya terdengar jelas menderu kedua telinganya. Kedua mata bulat Chanyeol membelalak lebar semakin bulat, nanar menatap tangan kanannya yang kini terdapat titik coklat tua kehitaman melekat di ujung angka 3 pada tanda itu. Tanda lain tercetak, ia sendiri yang membuat tanda itu. Hangus. Tangannya sendiri hangus dibuatnya.

Sakit sebenarnya, dan Chanyeol merasakannya. Bagaimana apinya melelehkan kulitnya yang kini mengelupas membuat luka kecil yang menganga. Namun rasa sakit Chanyeol kalah jauh dengan keterkejutan pria jakung itu.

“Ha…”

Mulutnya yang sedari menganga mulai mengeluarkan suara dengan sedikit hentakkan dari perut.

“In..ini… tidak m..mungkin…”

Chanyeol sudah sepenuhnya sadar tidak sedang berada di alam mimpi. Rasa nyeri di tangannya pun asli benar-benar terasa perih.

Pria itu menjulurkan tangan kanannya kedepan. Ia membuang selimut yang masih menutupi kaki jenjangnya sembarangan, bangkit berjalan menuju kamar mandi di ruangannya berjalan cepat hampir berlari kecil.

Gusar. Kini benak Chanyeol ketambahan perasaan takut serta bingung yang semakin menjadi-jadi. Kedua matanya sedari tadi lekat mengunci tangan kanannya. Sejenak ia beralih memandang cermin besar di hadapannya.

“Apa yang… apa itu…. t..tadi…”

Chanyeol kembali mengangkat tangan kirinya, bersiap akan menyalakan api lagi yang kali ini akan ia arahkan ke sekujur dadanya.

Takut?

Tidak.

Rasa penasaran Chanyeol kini lebih menguasai dirinya. Akankah kali ini apinya akan melukai dirinya? Mari kita lihat.

Chanyeol mengepalkan telapak tangannya. Tepat setelah ia membuka kembali kepalan tangannya, saat itu juga telapak tangannya sudah di lahap oleh si jago merah. Suara deburan api khas memberoncah memenuhi bilik kecil tersebut. Chanyeol menambah besarnya api dengan mengayunkan sedikit tangannya kebawah. Tubuhnya kini berkeringat dan oh, jangan lupakan detak jantungnya yang terus bertalu-talu berdentuman bagai getaran gunung berapi yang hendak meletus.

Perlahan ia mengarahkan telapak tangan kirinya yang membara kearah pundak kirinya. Chanyeol merasakan gelitikan api mulai menjamah lembut permukaan pundaknya, spontan pundaknya pun kini juga ikut mengeluarkan api. Bagai kertas yang ujungnya disentuhkan dengan api, api tersebut merambat menjalar ke seluruh bagian kertas sebagaimana kini api tersebut juga menyala di seluruh tubuh bagian atas Chanyeol.

Seperti biasa. Chanyeol tidak merasakan apa-apa ketika tubuhnya mulai ikut membara. Namun saat api tersebut mulai merambat kebagian tangan Chanyeol-

“AAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!!”

Telak Chanyeol berteriak sekencang perutnya dapat memompa suara. Ini benar-benar tidak masuk akal. Seluruh tubuh pria itu membara dari rambut sampai ke ujung kaki. Hanya bagian tangannya, tangan kanan, tepatnya pada tanda itu tercetak, Chanyeol merasakan api tersebut membakar kulitnya, sampai ke daging-dagingnya.

Chanyeol berteriak dengan sangat kerasnya yang mungkin seluruh penghuni rumah besar tersebut dapat mendengarnya. Demi apapun, sungguh, Chanyeol harus melampiaskan rasa sakit pada tangan kanannya itu, dan berteriak dengan sangat kencang adalah salah satu cara pelampiasannya. Rasanya perih, teramat sangat. Tubuh Chanyeol ambruk ke lantai, bahkan kedua kakinya turut prihatin dengan rasa sakit yang hanya mendera tangan kanan pria itu.

Chanyeol melenguh.

Ini sungguh menyakitkan. Betapa Chanyeol merasakan permukaan kulitnya meleleh terbakar apinya sendiri. Hanya di bagian tangan kakan, tepatnya pada angka-angka tanda itu.

Kedua kaki Chanyeol kini tak karuan menendang tembok, tak kuat ia merasakan sakit dan harus melampiaskan rasa sakitnya.

Sudah cukup. Ini terlalu menyakitkan. Walau hanya tangannya saja yang terbakar namun, bayangkanlah jika kalian berada di posisi Chanyeol. Ini sangat menyiksanya. Chanyeol akan mematikan apinya.

Ketika Chanyeol berkehendak untuk mematikan apinya, maka saat itu juga api di seluruh tubuhnya lenyap tak tersisa. Juga tak meninggalkan bekas sekecil apapun di bagian tubuh yang lain, kecuali di tangan kanannya yang kini terdengar desisan kulitnya yang hangus terbakar.

Chanyeol melihatnya. Melihat bagaimana kepulan asap memenuhi tangan kanannya. Entah bagaimana pasokan oksigen pada bilik itu serasa semakin berkurang, membuat Chanyeol bersusah payah hanya untuk menghirup nafas. Dada bidangnya naik turun dengan tempo yang sangat cepat. Di tambah lagi tenggorokannya terasa sakit seperti di sayat menggunakan belati akibat ia melesatkan teriakkannya tadi sekuat tenaga.

Tanda di tangan Chanyeol hangus, terbakar oleh apinya sendiri. Menyisakan luka bakar yang menganga. Eloknya, luka tersebut masih berbentuk angka yang samar-samar namun masih dapat terlihat angkanya jika benar-benar di amati dengan sangat teliti.

Seorang pengendali api baru saja terbakar oleh apinya sendiri.

Tak ada yang terganggu dengan teriakkan, atau lebih tepatnya raungan kesakitan Chanyeol tadi. Karna memang tak seorangpun yang sedang berada di rumah itu. Tak seorangpun kecuali Chanyeol. Chanyeol yang kini meringis tersiksa dengan rasa sakit pada tangannya, tertatih berusaha kembali menegakkan badan.

Tanda di tangan Chanyeol hangus, terbakar oleh apinya sendiri. Chanyeol bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah ini. Apa seseorang sedang mengujinya? Bermain-main dengannya?

Chanyeol menyandarkan punggungnya ketika kedua kakinya sanggup menopang tubuhnya lagi, meski sedikit bergetar dan tertatih. Kepala Chanyeol menengadah, tangan kirinya memegang erat siku kananya. Sakit yang luar biasa tanpa ampun terus menggeluti tangan kanan Chanyeol.

Tanda di tangan Chanyeol hangus, terbakar oleh apinya sendiri.

Apa yang akan terjadi setelah ini?

 

¤ L O T T O ¤

 

Pria ini begitu tinggi. Jika aku tidak mendongak, aku hanya dapat melihat dadanya bahkan tidak sampai pundaknya. Susah payah aku mengangkat kepalaku untuk dapat melihat wajahnya dengan jelas. Masih berada di dalam invisible lift yang terus bergerak, melayang entah kemana arahnya. Aku belum ingin memimirkannya.

Wajah pria ini begitu asing. Sungguh aku tidak pernah melihatnya.

Perlahan pria ini melepaskan pegangannya pada pinggangku, aku pun perlahan melangkah mundur meski tak jauh karna lift ini benar-benar tidak memberikan cukup ruangan untuk menjaga jarak antara dua orang asing yang baru saja bertemu. Setidaknya kini aku tidak perlu terlalu mengangkat kepalaku untuk melihat pria ini setelah memundurkan langkahku.

“Kau baik-baik saja?”

Suara berat dan basah pria ini membuatku sedikit tersentak, meski pria ini sudah bertanya dengan nada suara yang sangat pelan. Aku hanya mengangguk sekali sebagai jawaban. Pria itu pun sedikit tersenyum tertahan menanggapi jawabanku. Ia beralih mencari-cari sesuatu di kedua kantung jaketnya.

Entah mendapat keberanian dari mana dengan lancang aku kembali menelisik penampilan pria ini. Ia bergaya seperti anak remaja yang menjelang dewasa, atau mungkin seperti seorang mahasiswa, mahasiswa jurusan kesenian mungkin. Tubuhnya tinggi, aku menebak badannya kekar terbungkus pakaiannya yang longgar, dan rambutnya berwarna merah ia belah pinggir sedikit acak-acakan. Hitam dengan sedikit warna merah mendominasi pakaiannya.

Wajahnya oriental, dengan pasti aku menyimpulkan pria ini lebih tua dariku.

Lama ia mengusik semua kantung jaket dan celananya, ia kembali memandangku setelahnya sambil tangannya menyodorkan sebuah plaster.

“Dahimu terluka.”

Belum sempat aku bertanya, pria ini memberikan jawaban. Aku tidak menjawab, tidak juga mengambil plester yang ia sodorkan, bahkan aku tidak tahu bagian dahiku yang mana yang terluka karna tidak ada rasa sakit sedikitpun di sana.

Jujur saja, aku masih takut dengan pria ini. Lebih tepatnya merasa was-was.

Dari mana ia datang? Mengapa ia tiba-tiba menarikku meskipun itu juga menyelamatkanku dari petugas keamanan?

Sedari tadi aku terus memandangi wajahnya, berharap mungkin ingatanku akan mengingat siapa pria ini. Namun sepertinya tidak ada ingatan apapun yang terdapat pria ini di dalamnya. Pria ini benar-benar orang asing.

Aku menekuk dahi ketika pria itu memiringkan wajahnya. Ekspresi wajahnya begitu datar, namun tidak begitu menakutkan. Tangan pria itu kembali menyodorkan sesuatu, reflek aku sedikit memundurkan lagi tubuhku sampai punggungku benar-benar menempel pada kaca lift.

Ia menyodorkan…. tangannya.

“Chanyeol.”

Apa maksudnya ia sedang memperkenalkan diri?

Bergantian aku terus menatap tangannya, lalu wajahnya, kembali memandang wajahnya, terus seperti itu untuk beberapa saat. Pria itu kembali tersenyum separuh.

“Kau tidak perlu takut.”

Katanya dengan nada suara yang terdengar sangat amat halus, meskipun begitu aku masih sedikit tersentak ketika mendengarnya karna suaranya begitu berat.

“Nona.”

Tambahnya cepat. Lagi-lagi membuat tubuhku sedikit tersentak.

Aku memaksa menatap mata pria ini. Menelisik apakah benar perkataannya bahwa aku tidak perlu takut terhadapnya. Namun aku tidak dapat menyangkal bahwa pria ini sama sekali tidak memiliki hawa menyeramkan atau aura-aura menakutkan, hanya butuh sedikit waktu untukku menyambut orang asing yang entah dari mana ia datang secara tiba-tiba.

Kedua matanya bulat. Tidak terlalu kecil juga tidak besar. Kelopak matanya sedikit lebih besar dari matanya, dan biji matanya berwarna cokelat tua.

Pria itu kembali menegakkan kepalanya setelah sedari tadi terus ia miringkan sambil terus menatapku. Perlahan aku mulai meraih tangan kanannya yang ukurannya lebih besar dari telapak tanganku. Ia menggerakkan tanganku saat kedua telapak tangan kami bertemu.

Masih menatap wajah pria itu. Entah mengapa aku sedikit merasa lega, mengetahui bahwa sekarang aku tidak sendirian. Mengingat besok aku sudah harus menyerahkan nyawaku kepada sang Pemenang.

“Kau hendak pergi kemana?”

Tanyanya lagi, dan sialnya suaranya yang halus masih saja membuatku tersentak saat mendengarnya.

¤ L O T T O ¤

images-1

Iklan

3 respons untuk ‘LOTTO – Chapter II

  1. Ping-balik: Chaptered | Choi's
  2. wowww , i like this
    aku suka penggambaran karakter Chanyeol disini, Terlebih yang Chanyeol membakar tangannya. Dimulai dia bangun, terus yang dikamar mandi itu. Semua terbayang, ngena di imajinasi aku. Good job! Keep writing ^

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s